Surat Cinta dari Akhi

Malam telah larut terbentang. Sunyi, dan aku masih berfikir tentang dirimu, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh prasangka. Semua semata-mata hanya untuk muhasabah terutama bagi diriku, makhluk yang Rasulullah SAW sinyalirkan sebagai pembawa fitnah terbesar.

Suratmu sudah kubaca. Surat yang membuatku gemetar. Tentunya kau sudah tahu apa yang membuatku nyaris tidak bisa tidur belakangan ini.

“Ukhti, saya sering memperhatikan anti. Kalau sekiranya tidak dianggap lancang, saya berniat berta’aruf dengan anti.”

Jujur kukatakan bahwa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepadaku. Kau orang yang kesekian. Tetap saja yang ‘kesekian’ itu yang membuatku diamuk perasaan tidak menentu. Astaghfirullahaladzim..

Bukan, bukan perasaan melambung karena merasakan diriku begitu mendapat perhatian. Tetapi karena sikapmu  itu mencampak ke arah jurang kepedihan dan kehinaan. ‘Afwan, kalau yang terfikir pertama kali di benak bukannya sikap mempertimbangkan, tapi malah sebuah tuduhan: ke mana ghaddhul bashar-mu?
Akhifillah, Alhamdulillah Allah mengaruniakan dzahir yang jaamilah. Dulu, di masa jahiliyah, karunia itu sentiasa membawa fitnah. Setelah hijrah, kufikir semua hal itu tidak akan berulang lagi. Dugaanku ternyata salah. Mengapa fitnah ini justru menimpa orang-orang yang ku hormati sebagai pengemban risalah da’wah? Siapakah di antara kita yang salah?

***

Aku     :  “Adakah saya kurang menjaga hijab, ukh?”  tanyaku kepada Aida, teman asrama ku yang sedang mengamati diriku. Lama. Kemudian, dia menggeleng.

Aku     : “Atau baju saya? Sikap saya?”

Aida    : “Tidak, tidak.” sergahnya menenangkanku yang mulai berurai air mata. “Memang ada perubahan sikap di kampus ini.”

Aku     :  “Termasuk diri saya?”

Aida    :  “Jangan menyalahkan diri sendiri meskipun itu bagus, senantiasa merasa kurang iman. Tapi tidak dalam hal ini.  Saya cukup lama mengenali anti dan di antara kita telah terjalin komitmen untuk saling memberi tausiyah jika ada yang lemah iman atau salah. Ingat?”

Aku mengangguk. Aida menghela nafas panjang.

Aida   : “Saya rasa ikhwan itu perlu diberi tausiyah. Hal ini bukan perkara baru kan? Maksud saya dalam meng-cam akhwat di kampus.” Sepi mengembang di antara kami. Sibuk dengan fikiran masing-masing…
“Apa yang diungkapkannya dalam surat itu?”

Aku    :  “Ia ingin berta’aruf. Katanya dia sering melihat saya memakai jilbab putih. Anti tahu bila dia bertekad untuk menulis surat ini? Ketika saya sedang menjemur pakaian di depan asrama! Masya Allah…. dia melihat sedetail itu!”

Aida   : “Ya.. di samping itu, tempo masa anti keluar juga tinggi.”

Aku    : “Ukhti…,” sanggahku,  “Anti percaya kan kalau saya keluar asrama, pasti untuk tujuan syar’i?”

Aida   : “InsyaAllah saya percaya. Tapi bagi anggapan orang luar, itu masalah yang lain.”

Aku hanya mampu terdiam. Masalah ini senantiasa hadir tanpa ada suatu penyelesaian. Jauh dalam hati selalu tercetus keinginan, keinginan yang hadir semenjak aku hijrah bahwa jika suatu saat ada orang yang memintaku untuk mendampingi hidupnya, maka hal itu hanya dia lakukan untuk mencari keridhaan Rabb-nya dan dien-ku sebagai tolok ukur, bukan wajahku. Kini aku mulai risau mungkinkah harapanku akan tercapai?
***

Malam semakin beranjak. Kantuk yang menghantar ke alam tidur, belum menyerang. Sudah menjadi kebiasaanku tidak bisa tidur tenang bila saudaraku tercinta tidak hadir menemani. Aku tergugat apabila merasakan bantal dan guling di samping kanan telah kehilangan pemilik. Rasa penat yang belum ternetral menyebabkan tubuhku terhempas di sofa.

Aida sedang diam dalam kekhusyu’an. Wajahnya begitu syahdu, tertutup oleh deraian air mata. Entah apa yang terlintas dalam qalbunya. Aku tidak heran saat menyaksikannya. Tegak dalam raka’atnya atau lama dalam sujudnya.

Aida   :  “Ukhti, tidak solat malam?“ tanyanya lembut seusai melirik mata.

Aku    :  “Ya, sebentar,” kupandang wajahnya. Ia menatap jauh keluar jendela ruang tamu yang dibiarkan terbuka. “Dzikrul maut lagi?”

Aida   :  “Khusnudzan anti terlalu tinggi.”

Aku tersenyum. Sikap tawadhu’mu, Aida, menyebabkan bertambah rasa rendah diriku. Angin malam berhembus dingin. Aku belum mau beranjak dari tempat duduk. Aida pun nampaknya tidak meneruskan shalat. Ia kelihatan seperti termenung menekuri kegelapan malam yang kelam.

Aida   :  “Saya malu kepada Allah,” ujarnya lirih. “Saya malu meminta sesuatu yang sebenarnya tidak patut, tapi rasanya keinginan itu begitu mendesak dada. Siapa lagi tempat kita meminta kalau bukan diri-Nya?”

Aku    :  “Apa keinginan anti, Aida?” Aida menghela nafas panjang.

Aida   : “Saya membaca buku Syeikh Abdullah Azzam pagi tadi,” lanjutnya seolah tidak  menghiraukan. “Entahlah, tapi setiap kali membaca hasil karyanya, selalu hadir simpati tersendiri. Hal yang sama saya rasakan tiap kali mendengar nama Hasan al-Banna, Sayyid  Quthb atau mujahid lain saat nama mereka disebut. Ah, wanita macam mana yang dipilihkan Allah untuk mereka? Tiap kali nama Imaad Aql disebut, saya bertanya dalam hati; Wanita macam mana yang telah Allah pilih untuk melahirkannya?”

Aku tertunduk dalam-dalam.

Aida   :  “Anti tahu,” sambungnya lagi, “Saya ingin, sekiranya boleh mendampingi orang-orang sekaliber mereka. Seorang yang hidupnya semata-mata untuk Allah. Mereka tak tergoda rayuan harta dan benda, apalagi wanita. Saya ingin, sekiranya boleh menjadi seorang ibu bagi mujahid-mujahid semacam Immad Aql…”

Air mataku mengalir perlahan. Itu adalah impianku juga, impian yang kini mulai kuragui kenyataannya. Aida tak tahu berapa jumlah ikhwan yang telah menaruh hati padaku. Dan rasanya hal itu tak berguna diketahui. Dulu, ada sebongkah harapan kalau kelak lelaki yang mendampingiku adalah seorang mujahid yang hidupnya ikhlas kerana Allah. Aku tak menyalahkan mereka yang menginginkan isteri yang cantik. Tidak. Hanya setiap kali bercermin, ku tatap wajah di sana dengan perasaan duka. Serendah inikah nilaiku di mata mereka? Tidakkah mereka ingin menilaiku dari sudut kebagusan dien-ku?

Aku     :  “Ukhti, masih tersisakah ikhwan seperti yang kita impikan bersama?” ujarku. Aida meramas tanganku.

Aida    :  “Saya tidak tahu. Meskipun saya sentiasa berharap demikian. Bukankah wanita baik untuk

lelaki baik, dan yang buruk untuk yang buruk juga?”

Aku    : “Anti tak tahu…” air mataku mengalir tiba-tiba. “Anti tak tahu apa-apa tentang mereka…”

Aida   : “Mereka?”

Aku    : “Ya, mereka,” ujarku dengan kemarahan terpendam. “Orang-orang yang saya kagumi selama ini banyak yang jatuh berguguran. Mereka menyatakan ingin ta’aruf. Anti tak tahu betapa hancur hati saya menyaksikan ikhwan yang qowiy seperti mereka, takluk di bawah fitnah wanita!”

Aida  :  “Ukhti!”

Aku    : “Sungguh, saya terfikir bahwa mereka yang aktif da’wah di kampus adalah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Rasulnya semata. Ternyata mereka mempunyai sekelumit niat lain.”

Aida  : “Ukhti, jangan su’udzan dulu. Setiap manusia punya kelemahan dan saat-saat penurunan iman. Begitu juga mereka yang menyatakan perasaan kepada anti. Siapa yang tidak ingin punya isteri cantik dan shalihah?”

Aku   :  “Tapi kita tahukan, bagaimana prosedurnya?!!”

Aida  :  “Ya, memang…”

Aku   : “Saya merasa tidak dihargai. Saya merasa seolah-olah dilecehkan. Kalau ada pelecehan seksual, maka itu wajar kerana wanita tidak menjaga diri. Tapi saya… Samakah saya seperti mereka??”

Aida   :  “Anti berprasangka terlalu jauh.”

Aku    :  “Tidak,” aku menggelengkan kepala. “Tiap kali saya keluar rumah, ada sepasang mata yang mengawasi dan siap menilai saya mulai dari ujung rambut -maksud saya ujung jilbab-  hingga ujung sepatu. Apakah dia fikir saya boleh dinilai melalui nilaian fisik belaka..”

Aida   :  “Kita berharap agar ia bukan jenis ikhwan seperti yang kita maksudkan.”

Aku   :  “Ia orang yang aktif berda’wah di kampus ini, ukh…”

Aida memejamkan mata. Bisa kulihat ujung matanya basah. Kurebahkan kepala ke bahunya. Ada suara lirih yang terucap.

Aida    :  “Kasihan risalah Islam. Ia diemban oleh orang-orang seperti kita. Sedang kita tahu betapa berat perjuangan pendahulu kita dalam menegakkannya. Kita disibukkan oleh hal-hal sampingan yang sebenarnya telah diatur Allah dalam kitab-Nya. Kita tidak menyibukkan diri dalam mencari hidayah. Kasihan bocah-bocah Palestin itu. Kasihan saudara-saudara kita di Bosnia . Adakah kita bisa menolong mereka, kalau kualitas diri masih seperti ini? Bahkan cinta yang seharusnya milik Allah masih terpecah-pecah. Maka, kekuatan apa yang masih ada pada diri kita??”

Kami saling bertatapan kemudian. Mengungkap seribu makna yang tidak mampu dikatakan oleh kosa kata.

Ada janji. Ada mimpi. Aku mempunyai impian yang sama seperti Aida; mendukung Islam di jalan dakwah!

Aku ingin mempunyai anak-anak seperti Asma miliki. Anak-anak seperti Immad Aql. Aku tahu kualitas diri masih sangat jauh dari sempurna. Tapi seperti kata Aida; Meskipun aku lebih malu lagi untuk meminta ini kepada-Nya. Aku ingin menjadi pendamping seorang mujahid ulung seperti Izzuddin al-Qassam.

Ahh akhwat, berapa nilaimu sehingga mengimpikan mendapat mujahid seperti mereka?

Boleh jadi tuntutanku terlalu besar. Tapi tidakkah antum, ikhwan, ingin mendapat jodoh yang setimpal?

Afwan kalau surat antum tidak saya layani! Saya tidak ingin masalah hati ini berlarut.

Satu saja yang saya minta, agar kita saling menjaga sebagai saudara. Menjaga saudaranya agar tetap di jalan yang diridhai-Nya.

Tahukah antum, akhi, bahwa tindakan antum telah menyebabkan saya tidak lagi berada di jalan-Nya?! Ada riya’, ada su’udzhan, ada takabur, ada kemarahan, ada kebencian, itukah jalan yang antum bukakan untuk saya, jalan neraka?!!‘Afwan.

Akhifillah, Surat ini seolah menempatkan antum sebagai tertuduh. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Kalau antum mau cara seperti itu, silakan. Afwan, tapi bukan saya orangnya.

Jangan antum kira kecantikan lahir telah menjadikan saya merasa memiliki segalanya. Justru, kini saya merasa iri pada saudari saya. Ia begitu sederhana. Tapi akhlaknya bak lentera yang menerangi langkah-langkahnya. Ia jauh dari fitnah. Sementara itu, apa yang saya punyai sangat jauh nilainya. Saya bimbang apabila suatu saat ia berhasil mendapatkan Abdullah Azzam impiannya, sedangkan saya tidak.

Akhifillah, ‘Afwan kalau saya menimbulkan fitnah bagi antum. Insya Allah saya akan lebih memperbaiki diri. Mungkin semua ini sebagai peringatan Allah bahwa masih banyak amalan saya yang riya’ maupun tidak ikhlas. Wallahua’lam.

Simpan saja cinta antum untuk isteri yang telah dipilihkan Allah. Penuhilah impian ratusan akhwat, ribuan ummat yang mendambakan Abdullah Azzam dan Izzuddin al-Qassam yang lain. Penuhilah harapan Islam yang ingin generasi tangguh seperti Imaad Aql. Insya Allah antum akan mendapat pasangan yang bakal membawa hingga ke pintu jannah.

Mari kita sucikan hati dengan taubat nasuha. Pesan saya, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada ratusan Asma dan Aisyah yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama.

 

*cerpen manis, yang saya temukan di file…  dari negeri  Jiran, disadur lagi… ^^

Edelweis, 16 Juni 2012

Iklan
Categories: CerPen | Tinggalkan komentar

Cintamu Abadi, Wahai Khubaib!

     Seorang ksatria tengah tersenyum. Lembah Badar baru saja usai dari sebuah peperangan. Pekikan semangat Allah Maha Besar tak lagi terdengar. Senjata saling beradu sudah tak terjadi. Sebuah kemenangan baru saja tergenggam. Kaum kafir Quraisy beranjak pulang tanpa kepala yang tegak. Mereka merunduk malu setelah meneguk sebelanga pahit kekalahan. Tak pernah mereka kira jika manusia-manusia pencinta Muhammad, lebih memilih darahnya tumpah dibanding melihat Al-Musthafa terkena seujung kuku senjata. Untuk mereka, hari itu adalah kisah kelam yang amat sulit terlupa.

Cinta kepada Nabi yang Mulia menyemerbak di Lembah Badar. Nafas di raga bukanlah apa-apa dibandingkan keselamatan Al-Amin dan tegaknya Islam yang agung. Seorang ksatria masih saja tersenyum. Hatinya berbunga, karena Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal meregang nyawa di ujung pedangnya. Ia sungguh senang, bangsawan sekaligus pemimpin Quraisy pengganggu purnama Madinah itu, kini mati. Hari itu ia adalah salah satu perindu surga. Hari itu ia adalah salah seorang sahabat yang membuktikan kecintaannya kepada Rasulullah dengan turut menjadi pasukan para pemberani. Hari itu, ia adalah seorang ksatria pembela agama, yang kemudian cintanya abadi. Khubaib bin ‘Ady.

***

Suara Rasulullah memenuhi udara. Mesjid hening mendengar tuturnya. Semua pandangan berarah pada satu titik. Di sana, di atas mimbar, sesosok cinta tengah berdiri, memandang syahdu mereka semua. Dari bibir manisnya terlantunkan sebuah titah.

“Aku, baru saja didatangi, utusan dari kabilah ‘Udal dan Qarah. Berita tentang Islam telah sampai kepada mereka. Mereka sungguh berharap orang-orang yang akan membagi cahaya kebenaran, yang akan menghunjamkan bahwa Allah adalah Esa, yang akan mengajarkan Islam. Akan ada dari kalian yang terpilih untuk mengemban amanah itu”

Sesaat, Purnama Madinah menyapu pandangannya ke setiap penjuru. Para sahabat, tiba-tiba saja membusungkan dada, dan menegakkan kepala, seperti ingin dilihat Nabi. Setiap dari mereka berharap bisa dipilih sebagai duta. Padahal, ada beberapa dari sahabat yang masih terluka karena peperangan Badar.

Melihatnya, Nabi tersenyum, bahagia berkelindan di sepenuh kalbu. Selanjutnya Nabi menyebut nama-nama, sepuluh orang terpilih. Ada satu nama di sana. Nama seorang ksatria. Khubaib bin ‘Ady.

***

Esoknya, dihantarkan do’a yang dialunkan, mereka berperjalanan. Bersemangat mereka pergi. Sesungguhnya mereka tahu, perjalanan itu tidaklah untuk bersenang. Mereka tahu, akan ada hal-hal yang tak terduga. Orang-orang kafir dari kabilah yang mendiami lembah-lembah bisa kapanpun menghadang dan membunuh mereka. Namun, kecintaan kepada Nabi yang Ummi, keimanan yang bersemayam dalam dada, membuat mereka berpantang menyurutkan langkah.

Benar saja.

Dari sejarah, kita tahu ketika mereka sampai di daerah antara ‘Usfan dan Makkah, sebuah perkampungan dari suku Hudzail yang dikenal dengan nama Banu Lihyan, para kafir mencium keberadaan mereka. Hampir seratus penduduknya memburu para duta Rasulullah. Tujuannya tidak lain, membunuh dan membuat para pengikut Rasulullah itu kembali kepada ajaran nenek moyang Arab. Orang-orang dari suku Hudzail itu terus membuntuti mereka, beratus anak panah disiapkan.

Sebuah ujian, Allah berikan kepada para pemberani, didikan Rasulullah. Mereka ditemukan para penyembah berhala tengah berlindung di sebuah bukit. Riuh rendah, gerombolan itu mengepung dan berteriak lantang :

“Kami berjanji tidak akan membunuh kalian, jika kalian turun dan menemui kami”.

“Kami tidak menerima perlindungan orang kafir “ seru Ashim, yang diamanahi Rasulullah sebagai pemimpin para utusan.

Mendengar itu, gerombolan itu menyerbu dan memanah mereka satu persatu. Para pencinta Rasul dan agama itu roboh. Ada yang luput dari panah dan pembunuhan itu. Tahukah kalian siapa dia? Ya.. dia adalah ksatria itu. Khubaib bin ‘Ady

***

Khubaib dibawa ke Makkah. Seperti mengikat unta, ia diiringkan. Dan dengan harga yang mahal, Khubaib dijual sebagai budak, kepada keluarga Al-Harits. Seluruh keluarga itu, bersuka cita, pembunuh kepala keluarga, Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal di peperangan Badar, kini berada nyata di tengah mereka. Para wanita bersyair dan berpesta. Bara dendam semakin berkobar. Darah harus dilunasi dengan darah. Ksatria pencinta Rasulullah itu tetap bertenang.

Khubaib kemudian ditawan. Ia dirantai seperti binatang peliharaan di halaman rumah Banu Harits. Mereka membiarkan Khubaib kedinginan di malam-malam gulita. Mereka menyaksikan Khubaib di terik panas matahari. Mereka tidak memberi Khubaib makan dan senang dengan haus yang Khubaib derita.

Suatu hari, seorang anak kecil merangkak menjumpai Khubaib. Khubaib menyambutnya dengan senyum tulus, dibiarkannya anak kecil itu bermain-main di paha lelahnya. Mereka bercengkrama dalam keakraban, hingga wanita dari keluarga Harits berteriak penuh kekhawatiran. Tahukah apa yang diucapkan Khubaib :

“Tenanglah duhai ummi, Rasulullah tidak pernah mengajarkan aku membunuh seseorang yang tidak berdosa. Ia hanya ingin bermain-main.”

Si ibu segera merengkuh si kecil, dan dengan penuh keheranan ia memandang setangkai besar anggur yang berada di samping Khubaib. Makkah tidak sedang musim buah. Seluruh keluarganya tak ada satupun yang rela memberi makanan. Sedang Khubaib di rantai besi. Bagaimana mungkin buah ranum itu berada di sana. Masih dengan takjub, ia berkata :

“Aku tidak pernah melihat tawanan sebaik engkau duhai Khubaib. Anggur yang berada di sampingmu adalah rezeki bertubi yang Allah turunkan kepadamu.” Khubaib tersenyum.

***

Hari sudah sampai di pertengahan. Terik matahari, debu-debu yang berterbang garang di antara jubah indah yang dikenakan para pemuka Quraisy, hingga kilau pasir sahara yang panas tak terkira, menemani Khubaib yang tengah mendirikan shalat dua rakaat panjang. Ia masih ingin shalat sebenarnya, menjumpai zat yang dicinta sepenuh jiwa, Allah. Ia berkata kepada orang-orang Quraisy yang menyemut memperhatikannya “ Demi Allah, jika bukanlah nanti ada sangkaan kalian bahwa aku takut mati, niscaya aku menambah shalatku”. Yah, mereka memutuskan hari itu, Khubaib harus pergi selama-lamanya.

Beberapa dari orang Quraisy kini tengah bersiap dengan pelepah kurma yang mereka jelmakan serupa kayu salib raksasa. Tubuh Khubaib kemudian diikat kukuh disana. Khubaib mengatupkan kelopak mata, mengheningkan semua rasa yang meruah tumpah. Sesaat ia seperti terbang ke jauh angkasa. Salib pelepah terpancang sudah. Khubaib membuka mata, hamparan sahara terlihat mempesona. Di bawah sana berpuluh pasang mata menatapnya lekat. Khubaib memandang tangan mereka, beratus runcing anak panah tergenggam, beratus senjata tajam terkepal.

Di ketinggian, dengan sepenuh kalbu, Khubaib mengalunkan syair indah, mengenang cinta manusia terpilih yang mengirimnya untuk sebuah amanah indah. Merengkuh kembali ingatan atas sabda dari bibir manis Rasul mulia, syahid di jalan Allah akan menghantar setiap jiwa bertamasya di surga. Tiba-tiba saja Khubaib merindukan Al-musthafa. Tiba-tiba saja, ia menginginkan kembali saat-saat ia terpesona dengan wajah rembulah Rasulullah. Betapa ingin ia menjumpai manusia sempurna itu untuk menuntaskan utuh kerinduannya. Angin sahara menghantar suara Khubaib, membuat langit bersuka atas setiap untaian katanya :

 

Mati bagiku tak menjadi masalah.

Asalkan ada dalam ridha dan rahmat Allah.

Dengan jalan apapun kematian itu terjadi.

Asalkan kerinduan kepada Nya terpenuhi.

Ku berserah kepada Nya.

Sesuai dengan takdir dan kehendak Nya.

Semoga rahmat dan berkah Allah tercurah.

 

 Pada setiap sobekan daging dan nanah

Ucapan Khubaib terhenti. Beratus anak panah menghunjam tubuhnya. Pepasir Jan’im tersaput darah yang tumpah. Tubuh Khubaib perih. Tubuh Khubaib terkoyak. Luka menganga dimana-mana, namun jiwanya merasakan ketenangan yang tak pernah diresapi sebelumnya. Suara lesat anak panah terdengar riuh. Tenaga Khubaib melemah, dengan pandangan yang kian samar, ia menengadah. Ia tak perkasa bertutur lagi. Hingga doa yang ia pinta, hanya terdengar lirih di lengang udara :

 

Allahu Rabbi, ku telah menunaikan tugas dari Rasul Mu,

Maka mohon disampaikan pula kepadanya,

Tindakan orang-orang ini terhadap kami.

Sesaat kemudian tubuh Khubaib sunyi, sesenyap lembah yang ditinggalkan para kuffar setelah puas melihat nyawanya terhembus dari raga. Angkasa berdengung menyambut ruh ksatria perindu surga. Khubaib kembali, menuju Allah yang Maha Tinggi.

Tak seberapa lama, burung-burung bangkai memutari tubuh Khubaib yang masih mengucurkan darah. Berombongan mereka terbang datang dari kejauhan. Namun, Allah mencintai mu wahai Khubaib. Dengan cinta yang paling berkilau menyala. Dengan rahmat Nya, tak satupun burung pelahap bangkai dan nanah itu menyentuh tubuhmu yang dipenuhi panah. Satu persatu burung bangkai menghambur pergi, mengepak sayap terbang teramat jauh. Tubuhmu semerbak wahai Khubaib, hingga mereka malu dan tak mampu menyentuh meski hanya setipis kulit.

***

Allah mengabadikan cinta Khubaib. Doa Khubaib sebelum syahid dikabulkan. Kerinduan Khubaib saat akan dibunuh, sampai juga kepada Rasulullah di Madinah. Rasulullah merasakan sesuatu yang tak biasanya, sambil tertunduk ia terkenang seseorang yang tak diketahuinya. Ia memohon petunjuk Allah, dan tergambarlah sesosok tubuh yang melayang-layang di udara. Segera saja Nabi mengutus Miqdad bin ‘Amn dan Zubair bin Awwam untuk mencari tahu. Sebelum keduanya pergi, suara Al-Amin terdengar syahdu dan penuh rindu “Paculah kuda kalian seperti kilat, aku sungguh mengkhawatirkannya”.

Allah mengarahkan dan memudahkan perjalanan kedua sahabat. Mereka takjub melihat tubuh Khubaib yang masih utuh. Dalam hening, mereka menurunkan tubuh yang semerbaknya tidak hilang. Bumi menyambut Khubaib, akhirnya setelah sekian lama menunggu, bumi mendapat kehormatan untuk merengkuh dan memeluk Khubaib sepenuh cinta.

Kisah Khubaib berakhir di sana, namun di hati para perindu surga, Khubaib tetaplah hidup, menggelorakan cinta yang tiada pernah berakhir. Cinta yang abadi.

dibidik dari: http://www.eramuslim.com

 

*Meski tidak sekemilau cintanya Khubaib, meski tidak sebenderang cinta Khubaib, tidak seberdenyar cinta Khubaib, tidak seabadi cinta Khubaib, perkenankanlah saya mencintaimu wahai kekasih yang ummi, dengan sebentuk cinta yang sederhana, dengan cinta yang tertatih ringkih, dengan cinta yang lahir dari hati yang kadang wujudnya; buruk rupa…

allahumma solli’ala muhammad…

Edelweis.

Selasa, 5 Juni 2012; 10.47 wib

Categories: Inspirasi | 2 Komentar

Goresan SMS (Edisi 4)

ini adalah sms-sms yang berhasil mendarat dengan manis di HP saya. Dari pada di-delete, mending dikumpulin di sini… ^^

Pengurus Pusat KAMMI
Orang kecil itu membicarakan orang lain. Orang biasa, membicarakan peristiwa. Orang besar membicarakan gagasan. Dan orang dangkal membicarakan dirinya sendiri. BTP!
(29 Desember 2012;19.31 wib)

VitMes – BEM Unila
Semakin kita mengenal seseorang, maka yang akan semakin kita kenal adalah aib-aibnya. Semakin kita mengempati seseorang, maka yang harus kita lakukan adalah mengempati aib-aibnya, dan menerimanya. Karena tak ada yang tak retak, aktivitas mencermati, mengkritisi dan mengoreksi adalah aktivitas yang sehat dan sangat diperlukan. Semangadh pagi!
(2 Januari 2012; 05.00 wib)


Fadli Rahman H. – Unsoed

Karena cinta dan demi cinta langit dan bumi diciptakan, dan atas dasarnya makhluk diwujudkan. Demi cinta, planet beredar, dan dengannya pula semua bergerak mencapai tujuannya, bersambung awal dan akhirnya. Dengan cinta, semua jiwa meraih “harapannya” danmendapatkan idamannya, serta terbebaskan dari segala yang “mengesahkannya”. (ibnu qayyim al jauziyah)
(2 Januari 2012; 06.43 wib)


Mb Umi – Puskomnas FSLDK I

Do’a, betapa mudah kita melakukannya, tapi sungguh berarti buat mereka yang kita sebut namanya. Ketika keadaan, ruang, waktu, menjadi hambatan bagi kita berbuat untuk mereka, do’a adlah solusinya. Betapapun lirihnya, do’a sejatinya adalah ekspresi ikatan hati. Met rehat..
(3 Januari 2012; 20.18 wib)


Agoes Soleh – KAMMI Unila

Meneduhkan di kala gelisah, dekat di kala susah, mengobati di kala sakit, dan mesra di kala bahagia. Itulah sahabat sejati..
(4 Januari 2012;8.29 wib)


Anisa – Edelweis

Semoga lantunan do’a tidur memayungimu sebagai selimut di mala mini. Canda burung petang tak membisikkanmu sehingga tidur sihiasi mimpi di alam kebaikanlah yang kau kunjungi, kumohonkan perlindungan pada Allah SWT, Sang Tuhan Semesta untuk orang-orang yang kusayang. Terlelaplah…
(4 Januari 2012;21.55 wib)


Anis, S.Pd

Untuk sebuah hati yang tak pernah letih dari do’a. untuk sebuah jiwa yang tak pernah berhenti mengalun dzikir pada Nya. Untuk sebuah raga yang tak pernah lepas dari sujud kepada Nya. Dan untukmu.. sebuah persaudaraan yang tak pernah bertepi selamanya, semoga Alloh selalu hadir dalam silaturahim kita.. keep istiqomah, met rehat..
(4 Januari 2012; 23.20 wib)


Aditya Prasetya – KAMMI Lampung

Ada 3 hal pusaka kebajikan; merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah, dan merahasiakan sedekah yang dikeluarkan. (HR Tabhrani)
(10 Januari 2012; 20.58 wib)


VitMes – BEM Unila

Hidup layaknya sederetan kata yang hanya menyisakan beberapa spasi. Terkadang kita butuh koma untuk mengistirahatkan perjalanan kita, sering kali muncul tanda Tanya saat kita kehilangan arah. Sesekali kita juga menghadirkan tanda seru ketika kenyataan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Sadarlah bahwa perjalanan ini terkadang butuh peta & catatan yang senantiasa memberi petunjuk sebagai evaluasi jalan kita. Yakin bahwa titik bukan akhir dari segalanya, karena masih ada banyak kata yang harus kita untai menjadi sebuah lembar kehidupan yang indah. Selamat pagi, met beraktivitas!
(11 Januari 2012; 6.36 wib)

Anis, S.Pd.
Ukhuwah bukan pelangi, indah tapi sesaat.. ukhuwah bukan purnama, menerangi tapi hanya semalam. Ukhuwah bukan air hujan, sejuk tapi datangnya musiman.. ukhuwah adalah ikatan hati, lebih indah dari pelangi,lebih terang dari purnama, lebih sejuk daripada air hujan.. tak akan putus oleh jarak dan masa.. semakin erat karena do’a.. semakin kokoh karena Nya.. met rehat..
(11 Januari 2012; 22.35 wib)

Ayu – Edelweis
Ngerasa cantik ga? Ok denger ya!
Wanita cantik itu; tetap tertawa walau sebenarnya ia ingin menangis. Tetap tersenyum walau kecewa. Tetap kuat walau sebenarnya udah gak sanggup lagi. Tetap semangat walau tertekan masalah. Yang terpenting tetap sabar dan semuanya baik-baik aja.


Ratna – Edelweis

Sesungguhnya Alloh mengulurkan TanganNya pada waktu malam supaya bertobat orang yang berdosa pada waktu siang, dan Mengulurkan TanganNya pada waktu siang supaya bertobat orang yang berbuat dosa di waktu malam. Hingga terbitnya hingga terbitnya matahari di sebelah barat.(HR. Muslim)
(15 Januari 2012; 21.48 wib)


Agoes – KAMMI Unila

Orang yang semangat mengejar impiannya bagaikan tunas-tunas baru yang tumbuh di pepohonan. Namun bila kita menyerah bagaikan daun-daun yang berguguran dari pepohonan. Lalu disapu dan dibuang. Semangat pagi!
(17 Januari 2012; 8.30 wib)

Neneng – KAMMI IAIN Lampung
Ada yang bilang… hidup itu berawal dari B dan berakhir di D. B=birth (lahir), D= Death (Meninggal). Tapi di antara B dan D ada C, C = Choice (pilihan). Hidup selalu menawarkan pilihan. Tersenyum atau marah, memaafkan atau membalas, mencintai atau membenci, bersyukur atau mengeluh, berharap atau putus asa. Tidak ada pilihan tanpa konsekuensi… namun Alloh selalu memberi yang terbaik. Rencana kita boleh indah, tapi rencana Alloh-lah yang terindah. Met beraktivitas!
(18 Januari 2012; 7.01 wib)

Yuni, S.IP. – Kastrat KAMDA Lampung
Di malam ini sebaris do’a menyapamu, semoga Alloh Mengabulkan do’a-do’amu, Mewujudkan segala harapan&cita-citamu, Meluaskan ilmu&rezekimu, memberkahi umurmu, menyempurnakan pahalamu, menggugurkan dosa-dosamu, memuliakan wajahmu, meninggikan derajatmu di dunia&akhirat, menempatkanmu di Jannatu’and brsama orang-orang yang diridhaiNya.
Jazakumullah khairan katsiran… barokallah telah bertahan di KAMMI Unila selama 1th kepengurusan. Menghibahkan waktu, harta&tenaga untuk menjalankan amanah anti. Semoga Alloh membalas dengan yang lebih baik&lebih banyak.
(22 Januari 2012; 19.50 wib)


Istika – KAMMI Unila

Ghiroh yang membersamai, ukhuwah yang mengikat hati, maupun ketidakoptimalan mengemban setiap amanah, agar menjadi catatan berharga untuk bergegas memperbaiki diri. “bersegeralah!” (QS. 9:41). Karena kemenangan tidak akan menunggu antum, karena dakwah akan terus menyeleksi tempat yang nyaman untuk disambangi. Idhaa’ linafsi, semangat melakukan perbaikan diri, semoga menjadi jalan pertolongan Alloh meringankan hisab di akhirat kelak, serta menjadi penguat iltizam dalam mewujudkan masyarakat islami. Selamat rehat mujahidah! Afwan minkum, Mari saling memaafkan..
*Refleksi MusKom II KAMMI Unila 2011
(22 Januari 2012; 22.54 wib)


Elan – Puskomnas FSLDK I

Mari kita menghijrahkan cinta dari kata benda menjadi kata kerja, hingga tersusun kalimat peradaban dalam paragraph cinta. Mari kita menghijrahkan cinta, dari jatuh cinta menjadi bangun cinta agar tercipta bangunan menara-menara istana cinta yang tinggi menggapai surga. Jatuh itu sakit dan bangun itu pasti sulit. Maka berbahagialah yang menghijrahkan cintanya.
(25 Januari 2012; 19.43 wib)

Maria Ulfa S.P.
Mengenang kembali, masa-masa dakwah kampus.. selamat berjuang, saudaraku di manapun berada. Libatkan Alloh dalam setiap langkah kita..
(25 Januari 2012; 20.48 wib)

Ukh Anis, S.Pd.
Ukhuwah bukan pelangi, indah tapi sesaat..
Ukhuwah bukan purnama, menerangi taoi semalam..
Ukhuwah bukan air hujan, sejuk tapi datangnyamusiman..
Ukhuwah adalah ikatan hati, lebih indah dari pelangi, lebih terang dari purnama, lebih sejuk dari air hujan,, tak akan putus oleh jarak dan masa.. semakin erat karena do’a, semakin kokoh karena Nya.

(11 Januari 2012; 22.35 wib)


Vitri Mez. – BEM U

Sehebat apapun keinginan&pengetahuan kita, tetap saja hanya Alloh Yang paling Tahu apa yang terbaik untuk kita; “boleh jadi engkau tidak menyukai padahal baik bagimu, & boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal buruk bagimu, & Alloh Maha Tahu, sedangkan engkau tak tahu.” (QS.2:216)
Salam silaturahim.. ^^
(27 Januari 2012; 20.59 wib)

Akh Zaenudin – UNRAM
Seorang yang berjiwa besar selalu membiasakan diri dalam kebenaran, bukan membenarkan diri dalam kebiasaan.
(29 Januari 2012; 7.21 wib)

Humas PP KAMMI
Perjuangan dimulai dengan niat, diproses dengan kerja keras&dibingkai semangat berani gagal. Sebab itu, jangan takut mencoba agar kita tahu apakah berhasil atau gagal.
(29 Januari 2012; 7.59 wib)


Dian – FKIP Unila

Bila Alloh cepat mengabulkan do’amu, maka Dia menyayangimu. Bila Alloh lambat mengabulkan do’amu, maka Dia ingin mengujimu. Bila Alloh tidak mengabulkan do’amu, maka Dia merancang sesuatu yang lebih baik untukmu. Senantiasalah berprasangka baik pada Alloh dalam keadaan apapun, karena kasih sayang Alloh mendahului kemurkaanNya.
Semangat dan sukses!
(29 Januari 2012; 10.03 wib)


Kak Rasyim, A.Md. – KAMMDA Lampung

Amanah bukanlah suatu prestasi yang untuk dibanggakan, amanah adalah titipan kewajiban dari Alloh terhadap hamba Nya untuk dilaksanakan & akan dipertanggugjawabkan kelak..
Mari Bergerak Tuntaskan Perubahan!
(30 Januari 2012; 6.18 wib)


Akh Mubaroq – direktur MPK Kamda Lampung

Ujian yang sesungguhnya bagi manusia adalah bukan saat dia memainkan peran yang dia inginkankan untuk dirinya sendiri, tetapi saat dia memainkan peran takdir yang ditetapkan untuk dirinya.
(Vaclac Havel)
(31 Januari 2012; 9.21 wib)


Mb Umil – Puskomnas

Ali ra. Mengatakan bahwa amal yang paling sulit ada 4,yaitu: memberi maaf ketika marah, bermurah hati ketika fakir, memelihara diri dari perbuatan haram ketika berada di tempat yang sepi, mengatakan sesuatu yang hak pada orang yang ia takuti.
Pagi untuk hari ini…
(1 februari 2012; 8.41 wib)


Mb Umil – Puskomnas

Perang Khaibar, kemenangannya gilang gemilang.. pengorbanan penuh keberanian, keberanian penuh ketaatan, karena iman yang tidak mengkhianati Rabb nya, iman yang menghujam, berat-berat taat, benci-benci adil, cinta-cinta tak buta, senang-senang tak lalai..
Alloh Ghoyatuna!
(1 Februari 2012; 18.53 wib)


Ratna – Edelweis

Membuat kesalahan adalah kelemahan manusia, sedang mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut adalah kelebihan manusia.
(3 Februari 2012; 21.49 wib)


Mb Umil – Puskomnas

Ya Rabb, dalam lingkupan malam Mu penuh cinta, dalam nikmat menghela udara yang bumbungkan asa, berkahi setiap langkah saudariku ini, cemerlangkan kebaikan hatinya yang menenangkan jiwa, hadiahkan hati yang tak kenal sirna.. Rabb, berikan manfaat dari usahanya & buah dari segala doanya.
(4 Februari 2012; 20.48 wib)


Kak Fadli Rahman Hamasah – UNSOED

“Sungguh aku tahu, ada sekelompok dari ummatku yang dating pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan semisal gegunungan Tihamah yang berwarna putih, tetapi Alloh menjadikan debu yang beterbangan (sia-sia), Tsauban berkata; ‘Ya Rasulallah sifatkanlah mereka untuk kami, agar kami tidak seperti mereka, sedangkan kami tidak mengetahuinya.’ Beliau bersabda ‘ mereka adalah kalian, dari ras kalian, dan qiyam sebagaimana kalian, hanya saja mereka adalah orang-orang yang melanggar larangan-larangan Alloh dalam kesendiriannya.”
(HR Ibnu Majah-Thabrani)
Ya Alloh jagalah kami dalam istiqomah, saat ramai atau sendirinya kami.
(5 Februari 2012; 11.17 wib)


Akh Rusli, S.Pd. – Sekum KAMMDA Lampung

Ya Alloh.. tidak aka nada kemudahan, kecuali jika Engkau menjadikannya mudah, & jika Engkau menghendaki maka Engkau dapat merubah kepedihan menjadi kemudahan. (HR. Ibnu Majah)
(6 Februari 2012; 12.16 wib)


Kak Fadli Rahman Hamasah – UNSOED

Hidayah itu mahal, dan istiqomah jauh lebih mahal lagi. Menjadi baik itu susah, dan tetap bertahan dalam kebaikan lebih susah lagi. Tak setiap merekayang tampak baik, berakhir dengan khusnul khatimah, begitu juga mereka yang tampak buruk berakhir dengan syu’ul khatimah. Semoga Alloh selalu menetapkan hati ini dengan iman, islam, dan keistiqomahan.
(6 Februari 2012; 17.55 wib)


Akh Zaenudin – UNRAM

Sesuatu yang sedikit tapi mencukupimu, lebih baik dari sesuatu yang banyak tapi melalaikanmu.
(Abu Darda)
(7 Februari 2012; 19.01 wib)


Ukh Yuni,S.IP. – Kamda Lampung

Janganlah kalian memutuskan tali silaturahim, karena mereka itulah orang-orang yang dikutuk Alloh, lalu dibuat tuli pendengarannya, dan dibutakan penglihatannya. (QS.Muhammad; 22-23)


Akh Mubaroq – direktur MPK Kamda Lampung

Kita memang tidak bisa mengubah arah angin, tetapi kita bisa mengubah arah kita. Kita mungkin tidak bisa mengubah takdir, tetapi kita bisa mengubah sikap kita untuk mencapai kesuksesan.
Semangat pagi!
(10 Februari 2012; 6.21 wib)


Teh Luthfi – Puskomnas

Saat orang-orang memenuhi kebutuhannya sendiri, seorang pejuang memenuhi kebutuhan orang lain..
Saat orang lain beristirahat, pejuang masih harus bekerja keras untuk dirinya sendiri..
Semoga Alloh SWT Memuliakanmu, pejuang.
(11 Februari 20112; 15.19 wib)

Mb Umil – Puskomnas
Ada 3 kisah;
1)Suatu hari, semua penduduk desa berdo’a memohon hujan. Pada hari semua orang berkumpul untuk berdoa, hanya 1 bocah laki-laki yang membawa paying. Itulah “keyakinan”
2)teladan dari bayi 1th, ketika Anda melemparkannya ke udara, dia tertawa karena ia tahu anda akan menangkapnya kembali. Itulah “kepercayaan”
3)tiap malam saat jita tidur, kita tidak tahuapakah masih hidup saat bangun esok, tapi kita masih punya rencana untuk hari esok. Itulah “harapan”.

Semoga kita tidak takut untuk bermimpi.. terus berikhtiar dan banyak belajar, menyertai semuanyadengan doa dan bertawakkal-lah, karena Alloh-lah penentu segalanya.
Yassarallahu bijuhdikum..
(16 Februari 2012; 5.36 wib)


Ukh Uli – DP FKIP Unila

Semangat pagi!
Siap berkompetisi?
Berkompetisi untuk mendapatkan hadiah yang tak terbatas. Surge yang luasnya seluas langit&bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS.Ali Imran:134)
Ya! Berfastabiqul khoirot, makin produktif dalam melakukan amal-amal sholih, menebar manfaat untuk ummat, untuk meraih posisi terhormat di sisi Alloh..
Karena pahlawan mukmin sejati tidak akan membuang energy mereka untuk memikirkan seperti apa ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia. Yang mereka fikirkan adalah bagaimana mereka meraih posisi paling terhormat di sisi Allah swt.

Selamat berakhtivitas, awali dengan bismillah, agar ridho Alloh selalu menyertai.. uhibbuki fillah.
(17 februari 2012; 7.20 wib)


Teh Luthfi – Puskomnas

“seluruh amal akan diperlihatkan kpd Alloh pada hari Senin&Kamis. Maka aku menginginkan amal perbuatanku diperlihatkan ketika aku sedang berpuasa.” (HR Tirmidzi-Ahmad)
Semoga dipermudah untuk berpuasa, jangan lupa tilawah al qur’an y… ^^
*forum alumni FSLDK menyapa keluarga besar puskomnas
(19 februari 2012; 20.58 wib)

*jazakumullah khoir…, terima kasih atas sms yang berusaha selalu mengingatkan & memotivasi saya.
bermanfaat, insyAlloh..

Categories: Brangkas SMS | Tinggalkan komentar

Serupa Bidadari Surga


Simaklah dialog yang berhasil membuat saya terinspirasi ^^, antara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bersama Rasulallah SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrany dalam hadits berikut ini:

Saya (Ummu Salamah) berkata: “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Alloh tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli…”.

Beliau menjawab: “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”

Saya berkata lagi: “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)

Beliau menjawab: “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

Saya berkata lagi: “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)

Beliau menjawab: “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”

Saya berkata lagi: “Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)

Beliau menjawab: “kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar… atau yang biasa disebut putih telur…”

Saya berkata lagi: “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37)

Beliau menjawab: “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau menjawab: “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya: “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab: “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”

Saya berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”

Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat”.

Subhanallah…
Ada konklusi atau simpulan yang bisa saya ambil dari dialog tersebut:

1. Betapa Alloh lebih menghargai kita (wanita muslim yang bertaqwa) dibandingkan dengan bidadari surga yang sudah disiapkan Alloh, sebab ikhtiar untuk selalu menjaga ketaatan pada Nya.
2. Pemilik “akhlak terpuji” dapat menentukan posisi yang membanggakan di sisi Alloh, tidak hanya menciptakan efek yang “menguntungan” ketika hidup di dunia, tetapi juga di akhirat.
3. Sejatinya, wanita shalehah adalah bidadari surga yang ada di dunia.

Simak pula apa yang Alloh sampaikan dalam QS.Al Ahzab:32, “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa”.
Ya, Alloh tidak akan menyamakan orang-orang yang baik dengan orang-orang yang buruk! Jelas beda!

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (QS.Al Qolam:34).

Wahai Rabb-ku, jagalah kami…

*finished; 27 March 2012, 17.42 wib in my green room ^^

Categories: Inspirasi | 3 Komentar

Bukan Karena Senang

Saudaraku, sumber energi dakwah bukanlah terletak pada kesenangan. Bukan bertumpu pada teman-teman yang menyenangkan, amanah yang menyenangkan, atau fasilitas yang menyenangkan. Karena yakinlah, kesenangan-kesenangan itu bersifat sementara. Apakah ketika kita bertemu rekan-rekan dakwah yang tidak menyenangkan, kita jadi tidak senang berdakwah? Apakah ketika kita mendapati amanah yang tidak menyenangkan, kita jadi tidak amanah? Apakah ketika fasilitas sangat sedikit, kita jadi malas berjuang? Kalau itu yang masih kita rasakan, berhati-hatilah. Boleh jadi ada yang tidak beres dengan orientasi dakwah kita.

Untuk itu, isilah energi dakwah kita dengan cinta. Cinta kepada-Nya (QS. 2:165). Karena cinta tidak hanya setia ketika senang saja, tapi juga di saat susah. Karena cinta tidak hanya berjuang di saat ringan belaka, tapi juga di saat kita sangat berat untuk melakukannya (QS. 9:41).

Saudaraku, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai hal yang menyenangkan (syahwat).” [HR. Muslim]

Pada umumnya, memang tak ada kebaikan yang diawali dengan kesenangan. Salat Tahajud misalnya, mulanya kita bangun dengan penuh kepayahan, bukan? Bahkan saat mata belum sepenuhnya tersadar, kita sudah harus bersinggungan dengan dinginnya air dan berjuang sekuat tenaga untuk tegak berdiri, seraya bermunajat pada Allah SWT di kala yang lain tetap terlelap. Tapi kenapa kita tetap memperjuangkannya? Tak lain adalah karena satu alasan: cinta.

Dakwah pun demikian. Terkadang ‘kacamata’ kita menangkap hal-hal yang tidak menyenangkan, yang tidak sesuai dengan takaran kenikmatan kita, yang kita tidak sadar bahwa dari situlah ada pelajaran dari-Nya (QS. 29:2). Namun, sadarkah bahwa ketidaksenangan-ketidaksenangan itu adalah harga yang harus kita bayar guna meraih kenikmatan yang hakiki (QS. 9:111)?

Sungguh, cinta membuat segala penat terasa nikmat. Cinta jugalah yang menjadikan perjuangan kita terasa indah. Seperti ucapan kepada kekasih, “Bukan karena kau tampan aku jadi cinta. Tapi karena aku cinta, kau jadi tampan.” Maka begitu pula dalam dakwah, “Bukan karena dakwah terasa menyenangkan, aku jadi cinta. Tapi karena aku cinta, dakwah jadi terasa menyenangkan.”
Ya, cinta kita kepada Sang Kekasih, Alloh ‘azza wa jalla. ^^

*Disadur from akhuna Deddy S.
Edelweis, 21 Maret 2012; 23.30 wib

Categories: Inspirasi | Tinggalkan komentar

Apakah Benar, Engkau Pejuang?

Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak mampu menerima ujian
Engkau ingin berjuang;
Tapi rusak oleh pujian
Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan

Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak begitu setia kawan
Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak sanggup berkorban
Engkau ingin berjuang;
Tapi ingin jadi pemimpin
Engkau ingin berjuang;
Menjadi pengikut agak segan
Engkau ingin berjuang;
Tolak angsur tidak engkau amalkan
Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak sanggup terima cabaran
Engkau ingin berjuang;
Kesehatan dan kerehatan tidak sanggup engkau korbankan

Engkau ingin berjuang;
Masa tidak sanggup engkau luangkan
Engkau ingin berjuang;
Karena isteri tidak kau tahan
Engkau ingin berjuang;
Rumah tangga lintang pukang
Engkau ingin berjuang;
Diri engkau tidak engkau tingkatkan

Engkau ingin berjuang;
Disiplin diri engkau abaikan
Engkau ingin berjuang;
Janji kurang engkau tunaikan
Engkau ingin berjuang;
Kasih sayang engkau cuaikan
Engkau ingin berjuang;
Tetamu engkau abaikan

Engkau ingin berjuang;
Anak isteri engkau lupakan
Engkau ingin berjuang;
Ilmu berjuang engkau tinggalkan
Engkau ingin berjuang;
Kekasaran dan kekerasan engkau amalkan

Engkau ingin berjuang;
Pandangan engkau tidak diselaraskan
Engkau ingin berjuang;
Rasa ber-Tuhan engkau abaikan
Engkau ingin berjuang;
Iman dan taqwa engkau lupakan

sebenarnya, apa yang hendak engkau perjuangkan?

*Membersamai Qothrun¬nada. Saya suka nasyid ini, nyubit banget..!!!

Categories: Inspirasi | 1 Komentar

Nembak!

Oleh; Sufiroh

Dimuat di: dakwatuna.Com

 
“assalamu’alaikum. afwan, benarkah ini nomor ukh Reisha?” suara di sebrang sana dengan khas yang tegas, tertangkap di telingaku.

“wa’alaikumsalam, iya, ini… Ishan? Ada yang bisa ana bantu?” jawabku penuh tanya heran.

“na’am, benar ukh. Ini Ishan. Ana tidak menganggu-kan? afwan.”

“tidak, tafadhol. Ada apa?” suaraku coba menegaskan.

“mm.. langsung saja ukh. Afwan, ee… ana boleh mengajukan ta’aruf dengan anti, ukhti?” suara tegas itu dengan perlahan memberanikan diri, tepat pada inti pembicaraan nampaknya.

“…..” kagetku bukan main, hampir lepas rasanya hp Samsung yang kutempelkan di telinga kiriku. Seraya kemudian menangkupkan telapak tangan kanan tepat di bagian jantungku, dan berujar amat pelan ‘masyaAlloh…’.

“…ukh, afwan. Jika sekiranya ana lancang. Tapi, mohon kejelasan dari anti menanggapi hajat ana ini.” Kembali suara di sebrang itu memecah keheningan, sementara degup ini semakin kencang kurasa.

“…a-afwan, tidakkah antum mengomunikasikan terlebih dahulu dengan murobbi antum?”tanyaku, meneliti.

“mm.. sesudah ada tanggapan dari anti, akan ana sampaikan ke beliau.”

“masyaAlloh akh… ” kataku lepas.

“kenapa? Adakah yang salah, ukh?… Atau ,ana harus memberi jeda waktu untuk anti jawab, agar benar-benar memikirkan tentang maksud ana ini?”

“…” diam kembali, aku mengondisikan hati.

“ukh Reisha? Afwan.”

“ee.. hh.. semestinya, antum mengomunikasikan terlebih dahulu dengan murobbi antum. Karena memilih seseorang untuk dijadikan pendamping hidup itu tidak main-main,akh. hendaknya ada musyawarah agar tidak salah langkah.. afwan.” Tegasku.

“… iya ukh, afwan ana lancang. Lantas, bagaimana menurut antum terkait hajat ana ini?” lagi, suara tegas itu berani melempar tanya.

“….”

“ukh?”

“mmh… afwan akh, …ana tidak bisa”, kutundukkan kepalaku.

“kenapa? ana salah ya, ukh?” tanyanya, polos kudengar.

“ana,… Ana ndak menafikkan keluhuran akhlak antum, dari yang ana dengar di luar sana tentang antum, insyAlloh. Justru ana yakin, ada akhwat yang jauh lebih baik yang kelak lebih pantas bersanding dengan antum.”

“… alasan anti, tidak jelas ukh. Afwan. jika memang anti tidak meragukan ana, begitu pula ana kepada anti, ana mantap. insyaAlloh anti-lah akhwat yang terbaik itu… maka ana memberanikan diri, afwan.”

“…”

“ukh?”

“…karena, …ana sudah dikhitbah…”

“allahuakbar…” zikirnya pelan terdengar dari sebrang sana.

“…” hening.

“…ya ukhti, barokallah. semoga anti bahagia bersamanya.”

“… amin ya Rabb, jangan berputus asa dari rahmat Alloh. Ana yakin, ada akhwat yang terbaik yang menunggu antum.”

“na’am ukh, insyaAlloh. Amin. Syukron dan … afwan. Assalamu’alaikum.”

“wa’alaikumsalam warohmatullah…”

Klik!

Lemas kuterduduk di sudut kamar, “antum terlambat, akh…” lirihku…air mata akhirnya tumpah jua,..
“Alloh sedang mengujiku rupanya…” selaku, pelan dalam tangis.
“Robbi, aku yakin Ayash-lah ikhwan yang terbaik itu, bukan Ishan!” Kembali kucoba menenangkan hati. Nafsuku untuk makan malam setelah shalat Isya tadi hilang. Kemudian bergegas kembali wudhu, dan mengambil obat hatiku. Lembaran Qur’an itu ku lahap, sesekali kuhapus kembali air yang mengalir di pipi.

Kucoba muhasabah diri setelah lembaran-lembaran suci itu kubaca.

Dulu, ada kesan memang kurasa. Ya, nama Ishan pernah berkelabat dalam hatiku, kagum, dulu, ya dulu. Namun, kala itu langsung kubersihkan hati. Malu pada Nya.
Entah mengapa dulu sempat kuberpikir, sosok ikhwan seperti Ishan itulah dambaan imam-ku kelak. Heum.. mungkin karena dulu ia adalah mahasiswa nomor satu di kampus, ah.. wahai diri, betapa duniawi sekali!
Seorang khalifah dalam rumah tanggaku kelak tidak harus punya pengalaman memimpin ribuan mahasiswa di kampus. Kataku menepis kala itu dengan senyum semangat.

Betapa tak kaget diri ini, ternyata Ishan memiliki keinginan untuk bersanding hidup denganku. Tidak masuk akal. Dari mana ia kenal aku? Dan, siapalah aku?
hanya Mahasiswi yang tidak begitu suka dengan kegiatan kampus berbau politik seperti yang dia geluti, tidak bisa ber cap-cip-cus mengkritisi pejabat pemerintah yang kerap ia dan teman-teman dalam organisasinya itu nikmati. Siapa aku?
Mungkinkah karena aku seorang yang aktif di lembaga dakwah? Yang bergelut dengan urusan keislaman? Berjibaku dengan dunia keakhwatan pula? Sehingga aku terkesan… keibuan??

Memang pernah aku sebentar berkomunikasi dengannya, dulu. kurang lebih, enam bulan yang lalu. Tepat ketika ketua organisasi-ku memberi mandat menjadikan aku sebagai koordinator akhwat dalam agenda Bakti Sosial Ramadhan, untuk kemudian bekerjasama dengan lembaga mahasiswa yang Ishan pimpin. Tapi, di adegan mana yang aku bersamanya??
Apakah ketika aku diminta akh Amin (partner kerjaku dalam agenda itu) menelephone nya pertama kali untuk sekedar bertanya,
“saya bisa minta nomor HP yang aktifnya Mentri dalam Negeri?”, pun ia hanya jawab simple,
“oh, begini, HP Danu hilang, coba hubungi staf ahli-nya saja, nomornya…. ”.

sudah, tak ada komunikasi lagi. Hanya kenangan nomor HP Ishan saja yang masih ada dalam barisan daftar contact di Samsung-ku. Cukup, itu saja.
Jika memang itu penyebabnya, sungguh sekarang ingin rasanya kumarah dengan akh Amin, kenapa beliau kala itu begitu sibuk!
Ahh,,, adakah diri ini yang menggoda? Astaghfirullah…

***

“assalamu’alaikum, mbak Reisha… kok sendirian?” ujar Suni sambil bercipika-cipiki denganku, setelahnya ambil posisi duduk di depanku. Staf Kemuslimahan yang paling ceria dalam team ku di organisasi, Alhamdulillah kini ia sudah berjilbab.

“wa’alaikumsalam, iya nih. Nunggu temen-temen pimpinan akhwat, sore ini mau iftor pimpinan.” Jawabku sambil melempar senyum padanya.

“aku temenin ya mbak? Biar gak ilang.. berabe –kan kalau ketua kemuslimahan diculik. Ahhaha..” godanya.

“heuh, ngawur!” kemudian kucubit pipi kirinya yang tembem seperti kue bakpaw, kesukaannya.

“aduuuh… sakit tau mbak.” Sambil meringis dan mengelus-elus pipinya dengan tangan kiri.

“iya deeeh.. afwan. Makanya, jangan nakal yah! Heum..” nasehatku sambil mengelus kepalanya, bak seorang ibu pada anaknya.

“mm… mbak, gimana kemaren?” lanjutnya kemudian.

“gimana apanya? kemaren? apaan?” sahutku memborong kata tanya.

“heuh.. pura-pura. itu loh.. kalo’ kata istilah jahiliahnya… peristiwa ‘penembakan’.. hehe..” segera ia sangga dagunya dengan kedua tangan, menatapku dengan senyum penasaran. Sementara kuputar kembali memoriku di episode kemarin, apa yang dimaksud oleh ’bocah’ ini, kemudian berusaha memaknai kata ‘peristiwa penembakan’.

“mbak bener-bener gak faham, Suni… kalau ngomong yang jelas ah!”

“euummmck.. iya, iya, itu.. mmm, kak Ishan, gimana?”

“masyaAlloh…” sontakku, berubah wajah penuh tanya kembali, dari mana bocah ini tau? Batinku.

“kenapa mbak? Mbak kaget ya, kok aku bisa tau. Hehe..”

“Suni, mbak serius, ada apa ini? Suni kok bisa tau kak Ishan?”

“lha, mbak kok gak gaul sih?! Aku kan adeknyaaaa….”

“serius?!!”

“yaiyalaah, masa’ yaiyadhoong.. duarius deh! gak mirip ya mbak? Kami emang beda, aku cantik, kak Ishan ganteng. hehe..”

“Suni, mbak Reisha gak suka seperti ini. Ada apa sebenarnya? Kak Ishan dan Suni… kemudian peristiwa penembakan yang Suni maksud.” Kulempar ekspresi serius padanya.

“mbak, aku takut achh. Ekspresi mbak kaya’ gitu. Marah ya…?”

“jawab saja pertanyaan mbak, Suni… ”

“mmm… sebenarnya sudah beberapa lama ini, aku diem-diem jadi spionase, menyelidiki mbak Reisha… Atas perintah kak Ishan… aku cuma niat nolong kak Ishan aja mbak! Tapi sekarang pekerjaanku dah beres kok”. Ia menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah.

“kenapa musti mbak? Dan apa saja yang sudah adek laporkan ke kak Ishan tentang mbak?” tegasku bertanya kembali.

“sabar mbak.. sabar..”

“eeeuuhhh, Suni benar-benar buat mbak gregetan. Buru cerita!”

“iya mbak iya, ampuun.. mm.. kak Ishan itu sedang mencari isteri yang solehah, terus aku merekomendasikan mbak. Udah deh.. terus aku disuruh untuk melaporkan apa adanya yang aku tahu dari mbak ke kak Ishan, dan konklusinya kemaren kak Ishan katanya… ‘nembak’ mbak. Ya kan?”
Nada dering sms-ku tiba-tiba berbunyi.. menjeda percakapan kami.

assalamu’alaikum. ukh, besok siang bunda mau ke asrama anti, mau kasi gaun pengantin katanya. Oya, sekalian ana titipkan 700 lembar undangan pernikahan kita, ke bunda. Anti sibuk gak besok?
sender: +628xxx Akh Ayash

“mbak.. aku minta maaf kalau aku ternyata salah..” ujar Suni melanjutkan, mengambil perhatianku yang terpaku pada layar HP hitam putih itu, namun membuat rona di relung hati. Kukondisikan hati kembali.

Kuhela nafas. “heum… sudahlah. Sekarang sudah selesai.”

“sudah selesai? Jadi keputusannya apa mbak? Mbak bisa jadi mbak ipar aku yah? Yah?” tanyanya penasaran seraya melemparkan senyum.

“Tanya saja sama kakakmu!”

“mbaaa… kak Ishan dari kemaren gak mau ngomong kalau Suni tanya… mbak jawab donk, biar aku gak galau.” Tanganku ia goyang-goyangkan.

“pssstt.. berisik, kalau gitu ditunggu aja sampai kakakmu bicara.”

“mbaaaaaaa….” Rengeknya manja.

“udah ach, mbak mau pergi, tuh temen-temen pimpinan dah pada dateng. Dadagh.. Assalamu’alaikum..” kucubit kembali pipinya, kali ini lebih kuat.

Terdengar jeritan suaranya, sementara aku lari menuju sekelompok akhwat berjilbab syar’i itu, kubiarkan Suni mengaduh kesakitan sendirian di sana.

***

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan..; Itulah keberanian.
Atau
Ia mempersilakan..; Yang ini pengorbanan.

*TJ.Rusia, 18 Januari 2012 (dibuat di sela-sela penatnya mengerjakan skripsi ^^)

Categories: CerPen | 5 Komentar

Tidak Perlu Menunggu Hari Ibu


Oleh; Sufiroh

Hari Ibu mempunyai sejarah yang berbeda untuk setiap negara, dan tanggal pelaksanaannya pun berbeda. Di Bangladesh, Hari Ibu diselenggarakan pada minggu kedua bulan Mei. Beberapa ibu diberi “Ratnagarwa Ma Award“ yang ditujukan untuk mengakui seorang ibu dan peran penting yang mereka mainkan di masyarakat Bangladesh. Di Inggris dan Irlandia, Hari Ibu disebut dengan istilah Mothering Sunday yang jatuh pada minggu ke empat bulan Lent, tepatnya 3 minggu sebelum hari Paskah. Negara Afrika mengadopsi konsep Hari Ibu dari tradisi orang-orang Inggris. Sedangkan untuk Indonesia sendiri, Hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.

Sejarah Hari Ibu di Indonesia diawali dari pertemuan para pejuang wanita, dengan mengadakan Kongres Perempuan yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. (tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda). Pada tanggal 22 Desember 1928 organisasi-organisasi perempuan (didirikan tahun 1912 yang diilhami oleh para pahlawan wanita abad-19 seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutiah, R.A Kartini, dkk), membentuk Kongres Perempuan yang dikenal sebagai Kongres Wanita indonesia (Kowani). Kongres ini bisa dikatakan merupakan imbas dari peristiwa Sumpah Pemuda kepada kalangan perempuan, terjadi hanya sekitar 2 bulan setelahnya. Ada semacam semangat dan tanggung jawab untuk menyamakan derap agar dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara. Presiden Soekarno kemudian menetapkannya melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Hari ibu di Indonesia adalah sebuah peringatan tentang semangat dan perjuangan perempuan-perempuan Indonesia, apakah ia seorang ibu, seorang isteri, atau yang belum menjadi ibu, tidak akan pernah menjadi ibu, dan bukan seorang isteri, dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.

Semangat hari ibu di Indonesia sebenarnya lebih sarat dengan pesan pemberdayaan, dan bukan sebaliknya sekedar ungkapan cinta dan penghargaan kepada ibu yang sudah seharusnya dilakukan setiap saat, tidak harus menunggu momen yang datangnya hanya sekali dalam setahun, dengan simbolisasi penghargaan yang tidak sepadan pula.
Memang tidak ada yang salah dengan kemuliaan seorang Ibu. Islam, sejak keberadaannya dan sejak dibawa oleh Rasulullah, telah meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudianlah seorang ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadits Rasulullah SAW yang sudah terkenal. Pemuliaan kepada seorang ibu terjadi setiap waktu, bukan hanya satu hari saja. Bahkan Allah SWT mengabadikan perintahnya dalam QS. Al Ahqaaf 46:15, ”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)…” .

Sebuah kalimat bijak yang mengungkap bahwa, ibu sebagai tiang berdirinya negara. Negara dapat tegak berdiri karena berdirinya sekelompok manusia yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, dan bertebaran di berbagai belahan dunia. Jumlah kelompok yang banyak itu semuanya terlahir dari rahim kaum ibu.

Tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, bukan berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut serta bertanggungjawab. Tidak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuaan tersebut (Dr. A. Majid Katme). Pernyataan tersebut memuat penghargaan tentang peran ibu yang dinilai sebagai peran yang tak tergantikan. Mengapa peran ibu tak tergantikan? Karena ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Pertumbuhan generasi suatu bangsa pertama kali berada di tangan ibu. Di tangan seorang ibu pulalah pendidikan anak ditanamkan dari usia dini.

Karena begitu pentingnya peran ibu dalam membentuk karakter serta menanamkan nilai-nilai sejak dini, maka diperlukan ibu yang cerdas. Proses pewarisan nilai kepada genarasi baru senantiasa memerlukan keteladanan dari pelakunya. Artinya, untuk melahirkan sebuah genarsi baru yang unggul dan berkualitas, memerlukan sosok ibu yang berkualitas dan cerdas. Para ibu inilah yang akan sanggup melakukan pewarisan nilai-nilai kebaikan secara generatif kepada anaknya.

Sosok ibu yang cerdas itu bukan hanya cerdas secara nilai-nilai akademis, namun juga diharapkan cerdas secara emosi, akhlak dan spiritual. Karena seorang ibu bukan hanya menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan melahirkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi: biofisik, psikososial, kultural dan ruhiyah.
Untuk menjadi ibu yang cerdas, diperlukan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Selain dorongan dari ibu itu sendiri dan keluarga, peran pemerintah atau negara dalam memfasilitasinya sangat diperlukan, karena generasi yang berkualitas akan menjadi ujung tombak suatu negara. Tidak sedikit tokoh yang sukses karena peran seorang ibu yang cerdas di belakangnya. Mungkin nama para ibu ini tidak pernah tercatat dalam sejarah. Namun anak-anak mereka tercatat dengan tinta emas. Dan itu cukup menjadi bukti eksistensi ibu.
Dalam hal ini, pemerintah memiliki tugas penting, yaitu menjamin agar ibu bisa menjalankan peran keibuannya dengan sempurna. Bukan malah mendorong ibu untuk bekerja ke luar negeri dengan memberikan julukan pahlawan devisa. Itu sama artinya negara ini tengah menjual masa depannya.

Tugas negara pula untuk menjamin pendidikan para ibu. Pendidikan dengan kurikulum yang tepat. Agar para ibu tidak hanya menjadikan materi sebagai orientasi hidupnya. Namun sesungguhnya, ibu punya tanggung jawab besar di pundaknya untuk masa depan bangsa. Maka, memang tidak salah kalau dikatakan perempuan adalah tiang negara. Bila tiang itu roboh, maka tunggulah waktu keruntuhan negara tersebut.

Bila harus menuliskan bagaimana kasih sayang ibu tercurah, mungkin perlu berjuta-juta kalimat. Itu sebabnya seluruh negara di dunia memiliki tanggal masing-masing untuk memperingati Hari Ibu. Namun, tidak perlu menunggu Hari Ibu untuk menyatakan rasa sayang pada ibu kita. Tidak perlu menunggu Hari Ibu tiba untuk memberi beliau hadiah. Tidak perlu menunggu Hari Ibu untuk merayakan Hari Ibu, karena setiap hari kita sudah merayakannya dengan mendo’akannya (yang merupakan sebuah kado indah untuk ibu kita).

Dan, tidak perlu menunggu hari Ibu tiba, untuk sekedar mengucapkan ‘I Love u, Mom…’.

Edelweis, 22 Desember 2011.

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Surat dari Calon Ibu Mertua ^^

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarrakatuh

Duhai gadis yang baru ku kenal..

Tahukah kau, dia putraku..
Lahir dari dalam rahim suciku..

Ku pertaruhkan hidupku untuk memilikinya..
Anak kesayanganku yang sepanjang hidupnya ku besarkan dengan segenap rasa cintaku..

Tangan renta ini yang mengangkat tubuh mungilnya, menyuapinya, menyeka air matanya dan memeluknya dalam dekapanku..

Duhai gadis..

Tahukah kau betapa besar rasa cintaku padanya?
Bahkan aku tak mampu membayangkan bila ada yang merebutnya dari dekapku..

Tahukah kau gadis?

Betapa bangga ku rasakan ketika dia mulai beranjak dewasa?
Menatap tumbuh menjadi lelaki tegap dan tampan..
Seulas senyumnya mengingatkanku pada senyuman ayahnya yang sangat ku cinta..

Betapa hati ini terus diliputi rasa bangga dan buncahan cinta padanya..
Kebanggaanku.. Putraku..

Berbagai prestasi dia ukir dan memahatnya..
Bangga tak terperi dalam lubang rasaku..
Dan ku selalu merasa puas menyebutnya putraku..

Tak sedikitpun dia pernah mengecewakanku..
Tak pernah..

Gadis, tahukah kau..

Betapa haru hatiku, ketika ku melihat perubahannya..
Mencoba mengenal Diennya lebih dalam dari yang kami ajarkan padanya..

Dia menjadi laki-laki sejati..
Lelaki yang dirindukan JANNAH..
Aku semakin sayang padanya..

Putraku kini yang malah mengajarkanku banyak hal..
Mendekatkanku pada-Nya..
Pada Rabb ku yang selama ini ku kenal dengan sederhana karena kebodohanku..
Tapi aku tak malu..namun sebaliknya..
Aku semakin bangga padanya..
Putraku.. Cahayaku..

Namun..

Rasa itu berubah menjadu takut, cemas dan khawatir..
Ketika dia menyampaikan padaku keinginannya..

Dia ingin menyempurnakan separuh agamanya..

Yah.. Dia ingin membangun rumah tangganya sendiri..

Dan, dia telah memilih….., kaulah gadis beruntung itu..

Gadis, tahukah kau?
Betapa cemburuku padamu?
Yah, aku sangat takut kehilangan putra kesayanganku..
Takut kau merebut semua perhatiannya dariku..
Takut keberadaanmu, memalingkannya dariku..
Kau akan merebutnya dan aku cemburu..

Namun, kembali kusadari..
Putraku tak akan memilih wanita sembarang..

Ku yakin kau punya kelebihan yang membuatnya memilihmu..
Dan ku mulai menata hatiku..

Duhai gadis pilihan putraku..

Ku harap kau memiliki tangan yang lebih lembut dariku..
Karena ku tak mau kau melukai putraku..

Ku harap kau mempunyai senyum yang lebih sejuk dariku..
Karena kelak, dia akan datang padamu dalam tiap galaunya untuk mencari ketenangan..

Ku harap kau memiliki pelukan yang lebih hangat dariku..
Karena ku ingin hatinya selalu damai dalam dekapanmu..

Ku harap kau mempunyai tutur kata yang seindah embun..
Karena ku tak ingin dia mendengar kata-kata kasar dalam hidupnya..

Duhai gadis pilihan putraku..

Jadilah anakku..
Agar tak pernah ku merasa kehilangan putraku karena kehadiranmu…

Jadilah sahabatku..
Agar kau dapat mencurahkan rasamu padaku kelak..

Jadilah rekanku..
Agar bersama-sama kita mencintai lelaki yang sama-sama kita cintai..

Untukmu gadis pilihan putraku..

Selamat datang di istana kami..
Penuhilah dengan cinta dan kasih..
Semoga kau bahagia menjadi bagian dari kami..
Padamu gadis pilihan putraku..
Aku pun akan mencintaimu..

*from friend’s file…
Kamis, 15 Desember 2011. Kost-an penuh kenangan ^^

Categories: Inspirasi | 1 Komentar

Goresan SMS (Edisi 3)

ini adalah sms-sms yang berhasil mendarat dengan manis di HP saya, dari pada di-delete, mending dikumpulin di sini… ^^

*Vika – ADK Kota Bumi*
Bismillah..
Ibnu Rajab menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 th, namun mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan.
Mereka mengatakan, ‘anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Alloh menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku’.
Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo dan biasa mengemis.
Para ulama pun mengatakan tentang orang-orang tersebut?
‘inilah orang yang selalu melalaikan hak Alloh di waktu mudanya, maka Alloh pun melalaikan dirinya di waktu tuanya’. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal.225)
(7 Juni 2011; 9.49 wib)

*Waskito Are – Kepala Departemen Kaderisasi KAMMI Unila 2011*
Hidup manusia itu seperti sebuah buku..
Sampul depan adalah tanggal lahir, sampul belakang adalah tanggalpulang.. tiap lembarnya adalah hari-hari dalam hidup kita..
Ada buku yang tebal, ada pula yang tipis..
Hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang bersih, baru, dan tiada cacat..
Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Alloh selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kesempatan yang baru untuk bisa melakukan sesuatu yang benar setiap hari, memperbaiki kesalahan, melanjutkan alur cerita yang sudah ditetapkan Nya..

Selamat berjuang mengisi lembar demi lembar dengan kebaikan…

*Martini- Kepala Biro Kesekretariatan KAMMILA 2011*
Teruntuk saudara/I ku yang insyAlloh dicintai Alloh karena cintamu pada Nya.
“jangan berprasangka kepada Alloh, kecuali yang baik. Karena sudah menjadi kepastian bahwa Alloh pasti memberikan yang terbaik.”
(7 Juni 2011; 17.47 wib)

*Wahid – Staf Kaderisasi KAMMILA 2011*
Saudara-daudaraku, sahabat, kerabatku semua,,
Sebentar lagi adalah ‘malam nisfu sya’ban’ (tutupnya buku amal). Jadi, sebelum ditutup.. ma’afin kesalahanku ya..
Rasulallah Saw bersabda: barang siapa mengingatkan kepada sesama tentang kedatangan bulan ini, maka api neraka haram baginya..
(15 Juli 2011; 20.59 wib)

*Mb.Lutfi – Puskomnas FSLDK Indonesia*
Kita mengeluh: “tak mungkin”
Alloh menjawab: “jika Alloh menghendaki sesuatu, cukup berkata ‘jadi!’ maka jadilah” (Yassin:82)

Kita mengeluh: “saya terlalu lelah”
Alloh menjawab: ”Aku ciptakan tidurmu, untuk istirahatmu” (An Naba:9)

Kita mengeluh: “saya tak mampu”
Alloh menjawab: “Alloh tidak akan membebankan sesuatu pada seseorang, melaikan sesuai dengan kemampuannya” (Al Baqarah:286)

Kita mengeluh: “saya stress”
Alloh menjawab: “hanya dengan mengingat Alloh, maka hati menjadi tenang” (Ar Ra’du:28)

Kita mengeluh: “tak ada gunanya”
Alloh menjawab: “maka, barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (Az Zalzalah:7)
(18 Juli 2011; 20.12 wib)

*Numb asing*
Y Alloh, muliakanlah yang baca sms ini, lapangkanlah hatinya dan bahagiakan keluarganya, luaskanlah rezekinya, mudahkanlah segala urusannya, jauhkanlah dari segala penyakit, fitnah, prasangka keji & mungkar, & berikan jodoh yang baik, sholeh, saying kepada suami, & taat kepada Mu, serta terimalah amal ibadahnya, & kelak jadikan ia sebagai penghuni surga Mu nanti. Aamiin..
(27 September 2011; 22.05 wib)

*Umi Warmi*
Saudara itu seperti bintang, walau jauh ia tetap bercahaya, meski kadang menghilang, dia tetap ada, tak mungkin dimiliki tapi tak akan bisa dilupakan & selalu ada di hati. Keep on ukhuwah..
(2 Oktober 2011; 22.12 wib)

*Waskita – Kepala biro Penerbitan media Birohmah 2010*
Kunci sukses adalah kegigihan untuk memperbaiki diri, dan kesungguhan untuk mempersembahkan yang terbaik dari hidup ini.
(Aa Gym).
Sahabat..luruskan niat, optimalkan ikhtiar untuk hasil terbaik hari ini. Keep hamasah nd istiqomah dalam kebaikan.

*Fadli Rahman Hamasah – UNSOED*
Dermawan itu apabila memberi tanpa diminta, sedangkan memberi karena diminta itu mungkin malu atau pura-pura dermawan. (Ali bin Abi Thalib r.a.) semangKA!
(4 Oktober 2011; 10.21 wib)

*Mb Umi – Puskomnas FSLDK*
Seorang lelaki Inggris bertanya kepada seorang syeikh: “mengapa perempuan Islam dilarang berjabat tangan dengan lelaki lain?”, syaikh pun balik bertanya: “apa anda bisa berjabat tangan dengan ratu Elizabeth?”, lelaki itu menjawab: “tentu saja tidak, ratu kami bukan orang sembarangan, beliau hanya berjabat tangan dengan orang tertentu saja”, syaikh pun tersenyum seraya berkata; “demikian pula dalam Islam, muslimah kami adalah ratu, bukan orang sembarangan. Hanya orang tertentu saja yang bisa berjabat tangan dengan mereka”.
(4 Oktober 2011;20.08 wib)

*Mb Luthfi – Puskomnas FSLDK*
Katakanlah “jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu,
isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan lebih kamu khawatirkan kerugiannya, & rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rasul Nya, serta jihad di jalan Alloh, maka tunggulah sampai Alloh memberikan keputusa Nya, dan Allloh tidak akan memberi petunjuk orang-orang fasik”. (QS. At Taubah:24)

*M. Sabili – Trainer Metro*
Rabthul am: satu jama’ah sulit menampung seluruh kaum muslimin menjadi anggota, namun Islam mampu menjadikan mereka saudara. Fathi yakan
(12 Oktober 2011; 7.19 wib)

*Yuli – DPF*
Seperti apapun hari ini, semoga Alloh mengusap lembut hati kita, menjadikan kita orang-orang yang berjiwa tenang, semoga hari-hari kita diwarnai kasih sayang Nya dan setiap peluh ternilai sebagai pemberat amal kebaikan.
(13 Oktober 2011;21.23 wib)

*Mb Luthfi – Puskomnas FSLDK*
Kawan, suatu ketika, mungkin kita pernah jatuh hati, memendam rasa atau suka pada seseorang yang kita kagumi. Namun, banyak sekali yang salah mengekspresikan cinta sehingga terpedaya dengan cintanya. Sahabatku, marilah kita alihkan energy cinta kita bukan untuk melihat, bukan hanya untuk memikirkan bahwa dirinya yang terbaik bagi kita. Namun, untuk mempersiapkan sehingga jika saat kelak Alloh berikan yang tepat untuk kita, kita harus komitmen dengan dirinya. Sahabatku, seorang pecinta sejati bukanlah ia yang mengumbar-umbar cintanya. Tetapi pecinta sejati adalah ia yang siap untuk komitmen memberikan cintanya hanya untuk yang halal bagi dirinya. Mari bangun cinta sehingga kekal di surga. Setia Furqon Khalid
(16 Oktober 2011; 21.18 wib)

*Esy- ADF FISIP*
Alangkah syahdu menjadi kepompong; berkarya dalam diam; bertahan dalam kesempitan; tetapi bila waktu tiba untuk menjadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari; melantunkan kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia. Dan angin pun memeluknya, dalam sejuk dan wangi surga. Salim A. Fillah
(17 Oktober 2011; 5.35 wib)

*Fadli Rahman Hamasah – UNSOED*
Waktu adalah nikmat Alloh yang terbesar setelah iman. Orang-orang sukses ialah mereka yang piawai menerapkan manajemen waktu terbaik ialah yang dilandasi iman pada Alloh. Action plannya dipenuhi berbagai amal shaleh, bukan dihabiskan mayoritas mencari uang.alat kendalinya adalah evaluasi dengan standard kebenaran& kesabaran. Kavling waktunya berdasarkan waktu shalat fardu yang 5x sehari. Y Robbi, bimbing kami agar tidak menjadi orang-orang yang merugi. Aamiin
(18 oktober 2011; 10.59 wib)

*Mb luthfi – Puskomnas FSLDK*
“maka barang siapa memberikan hartanya di jalan Alloh&bertaqwa, & membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” QS. Al Lail;5-7
(18 otober 2011; 16.34 wib)

*Numb asing*
Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya. (HR. Muslim)
(24 Oktober 2011; 7.54 wib)

*Umi Warmi*
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, & berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik jika kamu mengetahui. (QS. At Taubah;41)
(24 Oktober 2011; 19.43 wib)

*Istika – Puskomnas FSLDK Indonesia*
Ya Alloh, ini adalah kesempatan mahal yang tidak dilihat oleh mata. Maka dengan pandangan Mu yang tajam peliharalah ia, gantikan keletihannya dengan kasih saying dan penjagaan Mu. Bebaskan saudaraku ini dari resah dan keluh kesah. Jadikan kebahagiaan tak terpisah darinya. Dengan hikmah Mu, tunjukilah langkah-langkahnya. Dan jadikan surge Firdaus sebagai tempat tinggalnya di akhirat. Uhibbuki fillah, my sister ^_^. Selamat bertugas, muslimah peradaban..
(25 Oktober 2011; 7.59 wib)

*Roza – FMIPA Unila*
Tasqif hari ini; peran pemuda dalam kebangkitan ummat; 1. Ba’tsul al himmati fittaasa ullati (membangkitkan jiwa kritis di kalangan ummat), 2 naqlul al ‘ajyaali (generasi penerus), 3. Histhiddalul ahdiyat (generasi pengganti), 4. Jihad fi sabilillah, 5. Tidak takut terhadap cercaan orang lain, 6. Ana sirut taghir (agent of change).
(28 Oktober 2011; 18.36 wib)

*Adit – Kastrat Kamda Lampung*
“akhirnya polisi nyerah juga”. Ini cerita aksi hari ini, sungguh perjalanan yang luar biasa. Pemerintah sudah represif dengan gerakan kita. Imbasnya dari progress kita yang terus ditekan. Semakin ditekan, kita harus semakin menggila… episode selanjutnya akan menjadi warna yang lebih indah. Dan antum akan menyesal ketika antum tidak terlibat dalam gerakan ini… sungguh, saya ingin semua kader ikut menikmati cita rasa perjuangan ini. Sungguh, ini perjuangan yang luar biasa, ketika akhirnya kita harus punya manfaat untuk ummat ini.
(29 Oktober 2011)

*Maria Ulfah – Sekretaris Umum Birohmah 2010*
Kelelahan yang disukai Alloh dan RasulNya; 1. Lelah dalam jihad (QS.9:111), 2.lelah dalam dakwah (QS.41:33), 3. Lelah dalamibadah dan amal soleh (QS.29:69), 4. Lelah mengandung-melahirkan-menyusui (QS.31:14), 5. Lelah mencari nafkah (QS.62:10), 6. Lelah mengurus keluarga (QS.66:6), 7. Lelah dalam belajar (QS.3:79), 8. Lelah dalam susah, miskin, dan sakit (QS.2:155). Karena itu, mari bersama-sama “natamatta’bimataibina”, yaitu menikmati kelelahan yang penuh berkah ini di bulan dzulhijjah..
(30 Oktober 2011; 23.39 wib)

*Fadli Rahman Hamasah – UNSOED*
A smile to start the day, a prayer to bless your way, a dzikir to lighten the moments, do your best today, good morning and have a nice day ^^.
(31 Oktober 2011; 8.44 wib)

*Auton – Santri PonPes*
Ketika ibadah terus lemah, saat taat dirasa berat, dan manakala hati terkubur dalam futur, maka jawablah: “relakah kita mati dalam keadaan seperti ini?”, jika tidak, maka bangkitlah, karena tak ada jaminan kita ‘kan berumur panjang, dan tak ada peluang ketaatan jika telah dating kematiaan..
(2 November 2011; 12.22 wib)

*Istina – UBL*
Rasulallah SAW bersabda; “tak ada yang dapat menolak takdir Allah SWT selain do’a. dan tak ada yang dapat menambah umur seseorang selain perbuatan baik.” (HR.Tirmidzi)
(2 November 2011; 20.53 wib)

*Dhian Satria UNAIR – Ketua alumni FSLDK Indonesia*
Selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan, separuh tersenyum, separuh terluka, karena win-win solution bukanlah pilihan sesungguh kesatria. Kau ingat, “resiko adalah pajak keberanian”, selalu harus ada pengorbanan; merah darah syuhada dan hitam tinta para ulama, melebur dalam kesatuan merah tua; kedalaman makna luar biasa.
(4 November 2011; 6.41 wib)

*Marchamah Ulfa – Edelweis*
Allah menguji keilhlasan kita dalam kesendirian, Allah memberikan kesewasaan saat masalah berdatangan, Allah melatih ketegaran dalam setiap cobaan, semakin sulit masalah semakin terbuka pintu kemudahan, sebagaimana semakin gelap malam, cahaya pagi semakin memancarkan sinarnya. Keep istiqomah!
(8 November 2011; 6.58 wib)

*Wahid – staf Kaderisasi KAMMI Unila*
Sumber bahagia bukan dari besarnya pencapaian atau kecilnya kegagalan. Bahagia di hati karena syukur atas berapa pun pencapaian & kesiapan hadapi kegagalan. Salam super!
(14 November 2011; 16.22 wib)

*Mb Umi – Puskomnas FSLDK*
Allahu ghayatuna! Sesungguhnya di dalam hati terdapat sobekan yang tidak bisa dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah, di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersama Allah (Ibnul Qayyim). Akhwatfillah, untuk setiap yang telah hadir, menyapa, dan telah meninggalkan kita, biarlah yang Maha Tahu menjadi saksi.. met rehat.
(16 November 2011; 21.04 wib)

*Wahid – staf Kaderisasi KAMMI Unila*
Dari Abu Hurairoh ra. “Rasul saw sekali-kali tidak pernah mencela makanan, jika beliau senang maka beliau makan, namun jika tidak, beliau tinggalkan.” (HR. Bukhari & Muslim)
(18 November 2011; 14.51 wib)

*Mb Umi – Puskomnas FSLDK*
Barangsiapa bangun di pagi hari&hanya dunia yang difikirkan, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya (tidak berdzikir/shalat), maka Allah akan menanamkan 4 penyakit; kebingungan yang tiada putus, kesibukan yang tiada berujung, kebutuhan yang tiada terpenuhi, khayalan yang tidak berujung.
(HR Muslim)
(21 November 2011; 9.24 wib)

*LDF FISIP Unila*
Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi. (Hasan Al Basri)
(21 November 2011; 10.30 wib)

Categories: Brangkas SMS | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.