Opini Sang Sufi

Kala Haidh; Masih Ada Cara Buktikan Cinta! ^^

Sahabat, telah kita ketahui bersama bahwa shaum atau puasa di bulan Ramadhan, hukumnya diwajibkan bagi setiap muslim demikian juga bagi muslimah adalah wajib bagi yang sudah baligh dan berakal sehat.

 

Khusus bagi muslimah, ada beberapa ketentuan yang diperbolehkan berbuka (tidak shaum) di siang hari pada bulan Ramadhan, salah satunya yaitu ketika kedatangan tamu yang tidak diundang ^^ ; haidh.

Muslimah yang sedang kedatangan haidh atau nifas di bulan Ramadhan dilarang melaksanakan shaum dan diwajibkan meng-qhada-nya pada hari lain.

Tersabda oleh beliau, Muhammad SAW;

“Bukankah Wanita itu jika sedang haidh dia tidak shalat dan tidak shaum / berpuasa? Itulah kekurangan agamanya.” –HR. Bukhari–  (mau nangis, baca hadits ini…)

 

Walaupun tidak diperbolehkan shaum dan shalat, namun demikian tentunya sebagai muslimah tidak akan kehilangan momentum keutamaan dan keberkahan di bulan madunya orang beriman; Ramadhan, yang segala amalan dilipatgandakan pahalanya,yaitu melakukan amalan-amalan yang dicintai oleh Allah SWT.

 

 

Laa tahzan, masih ada cara tuk buktikan cinta kepada Nya,  agar tetap terjaga kualitas keimanan dan terraih pahala berkepanjangan, seperti:

 

Meyediakan dan memberi ifthar (hidangan berbuka), kepada orang-orang yang shaum baik bagi anggota keluarga maupun saudara-saudara umat Islam. Ifthar adalah amalan yang dianjurkan oleh Rasulillah SAW,  sebab mengandung pahala yang besar dan kebaikan yang berlimpah.

Sabdanya :

” Sesiapa yang memberi ifthar (hidangan untuk berbuka) orang-orang yang shaum/berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang shaum/berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (HR. Bukhari Muslim).

 

Menjauhi larangan Islam, Muslimah yang bijak tentunya berupaya memanfaatkan setiap detik ketika bulan Ramadhan walaupun sedang haid, dan terhalang tunaikan shaum masih mendapat pahala yaitu dengan berusaha menjauhi segala yang dilarang oleh Islam; menjaga lisan dengan tidak mengunjing dan selalu berusaha berkata-kata yang manfaat.

“Sesiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan ghibah maka tiada artinya di sisi Alloh baginya shaum/puasa dari makan dan minum” (HR Bukhari).

 

Memperbanyak doa dan berdzikir sepanjang hari, berdoa kala Ramadhan adalah sangat mustajab dan sangat dianjurkan, tentunya sebagai muslimah juga memanfaatkan waktu dengan senantiasa memperbanyak do’a dan berzikir setiap saat.

 

“Tidak ada seseorang yang berdzikir kepada Alloh kecuali mereka dikelilingi oleh malaikat-malaikat, diliputi oleh rahmat, turun kepada mereka ketentraman, dan Alloh sambut mereka sebagai orang-orang yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

 

Mengingatkan dalam hal kebaikan, tersabda pula oleh Rasulillah SAW; “Barang siapa mengajak kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun pahala-pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)

 

Menyibukkan diri menuntut ilmu yang bermanfaat, salah satu kriteria wanita shalihah adalah selalu bersemangat dalam menuntut ilmu, semangat dalam mengamalkan ilmunya, dan semangat dalam mengajak orang lain agar mengamalkan ilmunya.

Di bulan Ramadhan, walau terhalang dengan tidak shaum maka selayaknya menyibukkan diri meluangkan waktu untuk bersemangat menuntut ilmu yang bermanfaat.

dalam sabda beliau, Rasulillah SAW:

“Sesiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Alloh Menunjukkan jalan menuju surga baginya.” (HR. Muslim)

Pula tersabda;

“Sesiapa wafat dalam menuntut Ilmu (dengan maksud) untuk mengidupkan Islam, maka antara dia dan Nabi-Nabi satu derajat di dalam surga.”(HR. At Thabrani)

ehm, setidaknya bersabar dalam kerinduan tuk rasakan berlama-lama sujud dan lafadzkan firman-firman dalam kitab suci-Nya kembali adalah bagian dari sekeping cinta untuk Nya ^^.

Semoga Alloh tetap menjaga kualitas ruhiyah dan kedekatan kita kepada Nya; dalam kondisi apapun…

 

Keep shining in Ramadhan! ^_^

*diselesaikan di Ratu, 8 Ramadhan 1434 H; 11.26 pm

Iklan
Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Bagaimana Mengelola Rasa?

5122647766_4475ca0afb

dimuat di dakwatuna

 

Tulisan ini saya buat tersebab jenuhnya dengan dunia facebook. ^^

Dunia yang menjadi washilah setan juga, jika tidak dikelola dengan ketersadaran kita.

Entahlah, mungkin karena saya belum lulus ujian yang Allah berikan, hingga saya harus di-remedial dengan motif ujian yang sama. Sungguh membosankan… ^^

Yahh, begitulah setan. Benar-benar konsisten dengan job-nya! Menggoda hingga di celah-celah manapun (QS.Al A’raf:16). Media, sebagai sarana untuk memudahkan penyampaian informasi dan ladang dakwah, pun diselusupinya!

Hem…

Tiba-tiba teringat orang tua dari salah seorang murid di tempat saya mengajar (sebenarnya, saya lebih suka dengan kata -mendidik- ^^), SDIT. Ia bercerita tentang puteranya yang duduk di kelas 5;

“Ummi, aku menyukai seorang perempuan di kelasku. Tapi ini rahasia! Aku tidak mau kasih tahu ummi, tentang siapa orang itu? Karena kata bu guru, kita boleh menyukai lawan jenis, tapi dengan syarat; tidak boleh ada seorangpun yang tahu, termasuk orang yang kita sukai itu! Jadi ummi, biar ini menjadi rahasia aku dan Allah saja.”

Unik, yahh?!

Benih-benih rasa cinta kepada lawan jenis, bisa ditemukan saat usia SD. Bayangkan jika ini tidak dikelola dengan baik! Akan merebak menjadi sebuah virus merah jambu, yang jenis-jenisnya bisa kita kenali di kalangan remaja dengan istilah ‘cinta monyet’, ada juga ‘pacaran’, dkk. Ya, ini fakta! Sudah menyerang, sekali lagi; sudah bisa menyerang, di kalangan mereka yang kata orang tua, masih ‘bau kencur’! Dan perlu kita ingat, semua virus merah jambu itu menjangkiti seseorang karena proses “pengelolaan” yang GAGAL! Ya, pengelolaan dalam merasakan cinta.

Masih ingatkah kisah wanita mulia, puteri kesayangan Rasulallah saw., Fatimah ra., dengan  Ali bin Abi Thalib ra.? Ternyata, keduanya saling menyimpan perasaan cinta di antara mereka. Ya, tersimpan dengan begitu rapat, sampai kedua belah pihak tidak ada yang mengetahui kondisi sama rasa tersebut. Dan yang lebih menakjubkan adalah rasa itu bisa lolos dari pantauan setan! Hanya Allah Yang Mengetahui lintasan hati di antara mereka saja.

Dan pada akhirnya, keduanya saling mengetahui perasaan cinta di antara mereka masing-masing ketika mereka menceritakannya saat sudah ter-sah-kan dengan ijab-qabul (menikah).

Betapa rapi pengelolaan rasa ini. Hingga Allah menghadiahkan dengan mempersatukan keduanya. MaasyaAlloh..

Kembali ke isu. ^^

Saya faham betul (ah, tidak! Lebih tepatnya menggunakan kata ‘seperti yang kita ketahui bersama’), ujiannya seorang lelaki adalah wanita, dan ujiannya para wanita adalah harta ^^. (garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum).

Sudahlah, jangan nyaman bersembunyi di balik dalih “itukan fitrah”. Ya, benar! Fitrah. Namun jangan terlenakan dengan berlindung pada dalih tersebut. Apakah dengan ‘fitrahnya manusia’ kemudian kita asyik saja menikmati ritmenya? Tanpa berikhtiar untuk berlingdung darinya? Hem?

Saudaraku, bantu kami menjaga kemurnian hati ini, agar tidak ada niatan menduakan-Nya, tidak ada niatan mengkhianati-Nya. Lantas menyelusup di dalam hati kami ketika beraktivitas adalah; agar engkau semakin rekat mencintai, agar engkau lebih mengagumi pesona kami, agar engkau…. agar engkau…  dan harapan agar engkau lainnya..

Cukup!

Simpan saja rapat-rapat, agar kami tidak mengetahuinya.

Simpan dalam-dalam, agar setan tak mencium informasi dari gerak-gerik sikapmu yang mencurigakan.

Jangan mudah sampaikan cinta, baik dengan verbal atau nonverbal-mu.

Ada saatnya, saudaraku… akan ada moment yang tepat… kala kau sudah berani meminang.

Dan engkau saudariku,

Muslimah sejati itu bukan dilihat dari kekhawatirannya yang takut digoda orang, tetapi dia yang merasa khawatir, jika ternyata dirinyalah yang menggoda!

Saya percaya..
Allah senantiasa mengajarkan; kembang itu pasti akan mekar, ketika telah tiba musimnya.
Ada hujan yang turun dengan basah dan derasnya, itupun pasti karena buminya sedang berdahaga.

Heum, Preventif lebih baik daripada mengobati, bukan?!

Ketika rasa itu muncul dalam hati, mari mintalah pertolongan Allah untuk menjaganya.

Semoga Allah mengaruniakan bashiroh yang jernih pada hati-hati kita… hingga mampu dan peka dalam membedakan; mana yang Allah suka, dan mana yang Allah murka?

Selamat menjaga izzah (harga diri), saudara/i Muslimku…

Jangan khawatir, sebab janji-Nya; ia yang terjaga, hanya untuk yang terjaga (QS. An Nur: 26).

Dan untukmu cinta,, di manapun engkau berada… bagaimanapun keadaanmu saat ini…

dan entah siapapun dirimu… sesungguhnya aku menyadari dirimu ada, ada dan ada!

Tetaplah indah terjaga di sana, terangkum lembut dalam perlindungan, serta tersimpan tenang dalam kedamaian… hingga hanya akan ada dua pilhan; kita bertemu atau kita dipertemukan.

Dan bagaimanapun datangnya jalanNya, engkau tetap sebaik-baik keberlimpahan, insyAlloh.^_^

Tulisan ini saya tutup dengan mengajak kita semua untuk merenungi kalimat yang Umar bin Khaththab ra.  Sampaikan, dengan khasnya yang tegas;

“Celakalah engkau! Apakah pernikahan hanya dibangun di atas cinta?! Lalu di manakah takwa, tanggung jawab, dan rasa malu?!”

Wallahu’alam… ^^

*Beginilah cobaan yang dialami oleh orang-orang yang benar-benar masih menempel status ke-jomblo-an pada dirinya. Haha.. 

Diselesaikan di Cempedak. 15 Desember 2012 pada penghujung rasa kantukku, 23:30 WIB.

 

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Am I The Winner?

Ku sapa bayang di cermin;

Bagaimana kondisi ruhiyahmu ba’da Ramadhan?

Adakah Ramadhan yang kau lewati memberi nilai perubahan yang cukup jelas?

Atau, berlalu tanpa meninggalkan bekas?

 

Ramadhan menyisakan banyak cerita indah. Ada bahagia yang membuncah, ada kisah yang sangat indah. Di bulan ini ada amal yang tersemat perlahan, dipelihara sejak awal mula, dan dirintis dengan banyak do’a. Mungkin ada di antara kita yang menemukan secercah hidayah. Mencoba memeluknya kuat-kuat dan ingin berdiri tegak di atasnya. Namun nampaknya ujian dan godaan begitu besar. Sehingga dahsyatnya badai hampir saja meluluhkan pegangan tangan. Deru angin hampir saja memecah konsentrasi diri, sehingga ingin lepas dari hidayah Ar Rahman.

Kini kita masuk di bulan Syawal. Secara harfiyah, “Syawal” sendiri artinya “peningkatan”, yaitu peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah sebagai hasil training selama Ramadhan. Umat Islam diharapkan mampu meningkatkan amal kebaikannnya pada bulan ini, bukannya malah menurun kembali ke “watak” semula yang jauh dari Islam.

Bulan inilah yang nantinya akan menentukan, apakah kita benar-benar seorang pemenang? Ataukah selama ini kita hanya bermain-main saja? Do’a yang kita panjatkan selama Ramadhan seharusnya menjadi sebuah keseriusan. Ia bukan hanya lips service, sebatas kata-kata indah belaka. Namun ia adalah permintaan dan harapan. Ia bukan hanya sebatas lantunan do’a yang melankolis, mengundang tangis. Namun do’a-do’a itu yang akan didengar Alloh. Dan bisa jadi Alloh akan mengabulkannya di bulan Syawal ini.

Inilah bulan Syawal itu. Bulan untuk kita lebih giat lagi beramal. Bulan yang harus dijaga konsistensi amal kita. Jangan kena virus malas dan menunda. Malas melanjutkan kebaikan selama Ramadhan, dan selalu menunda datangnya kebaikan-kebaikan amal berikutnya. Inilah bulan motivasi hati dan pikiran. Bulan untuk menghasilkan karya terbaik, bagi diri, keluarga dan umat Islam.

Jadilah pemenang!

Karena kemenangan adalah dia yang bisa melewati kekalahan-kekalahannya dan mampu mempertahankan kemenangan itu sendiri, serta menjadikan dirinya harus bisa lebih baik dari siapapun.

Alloh, terimalah amal para shalih/ah yang menghidupkan Ramadhan dalam ketaatan, karuniakan pada mereka kekuatan me-Ramadhan-kan hidup…

 

*Diselesaikan 2 Syawal 1433H, 21.12 WIB; Tanjung Rusia.

Categories: Opini Sang Sufi | 2 Komentar

Tidak Perlu Menunggu Hari Ibu


Oleh; Sufiroh

Hari Ibu mempunyai sejarah yang berbeda untuk setiap negara, dan tanggal pelaksanaannya pun berbeda. Di Bangladesh, Hari Ibu diselenggarakan pada minggu kedua bulan Mei. Beberapa ibu diberi “Ratnagarwa Ma Award“ yang ditujukan untuk mengakui seorang ibu dan peran penting yang mereka mainkan di masyarakat Bangladesh. Di Inggris dan Irlandia, Hari Ibu disebut dengan istilah Mothering Sunday yang jatuh pada minggu ke empat bulan Lent, tepatnya 3 minggu sebelum hari Paskah. Negara Afrika mengadopsi konsep Hari Ibu dari tradisi orang-orang Inggris. Sedangkan untuk Indonesia sendiri, Hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.

Sejarah Hari Ibu di Indonesia diawali dari pertemuan para pejuang wanita, dengan mengadakan Kongres Perempuan yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. (tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda). Pada tanggal 22 Desember 1928 organisasi-organisasi perempuan (didirikan tahun 1912 yang diilhami oleh para pahlawan wanita abad-19 seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutiah, R.A Kartini, dkk), membentuk Kongres Perempuan yang dikenal sebagai Kongres Wanita indonesia (Kowani). Kongres ini bisa dikatakan merupakan imbas dari peristiwa Sumpah Pemuda kepada kalangan perempuan, terjadi hanya sekitar 2 bulan setelahnya. Ada semacam semangat dan tanggung jawab untuk menyamakan derap agar dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara. Presiden Soekarno kemudian menetapkannya melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Hari ibu di Indonesia adalah sebuah peringatan tentang semangat dan perjuangan perempuan-perempuan Indonesia, apakah ia seorang ibu, seorang isteri, atau yang belum menjadi ibu, tidak akan pernah menjadi ibu, dan bukan seorang isteri, dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.

Semangat hari ibu di Indonesia sebenarnya lebih sarat dengan pesan pemberdayaan, dan bukan sebaliknya sekedar ungkapan cinta dan penghargaan kepada ibu yang sudah seharusnya dilakukan setiap saat, tidak harus menunggu momen yang datangnya hanya sekali dalam setahun, dengan simbolisasi penghargaan yang tidak sepadan pula.
Memang tidak ada yang salah dengan kemuliaan seorang Ibu. Islam, sejak keberadaannya dan sejak dibawa oleh Rasulullah, telah meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudianlah seorang ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadits Rasulullah SAW yang sudah terkenal. Pemuliaan kepada seorang ibu terjadi setiap waktu, bukan hanya satu hari saja. Bahkan Allah SWT mengabadikan perintahnya dalam QS. Al Ahqaaf 46:15, ”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)…” .

Sebuah kalimat bijak yang mengungkap bahwa, ibu sebagai tiang berdirinya negara. Negara dapat tegak berdiri karena berdirinya sekelompok manusia yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, dan bertebaran di berbagai belahan dunia. Jumlah kelompok yang banyak itu semuanya terlahir dari rahim kaum ibu.

Tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, bukan berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut serta bertanggungjawab. Tidak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuaan tersebut (Dr. A. Majid Katme). Pernyataan tersebut memuat penghargaan tentang peran ibu yang dinilai sebagai peran yang tak tergantikan. Mengapa peran ibu tak tergantikan? Karena ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Pertumbuhan generasi suatu bangsa pertama kali berada di tangan ibu. Di tangan seorang ibu pulalah pendidikan anak ditanamkan dari usia dini.

Karena begitu pentingnya peran ibu dalam membentuk karakter serta menanamkan nilai-nilai sejak dini, maka diperlukan ibu yang cerdas. Proses pewarisan nilai kepada genarasi baru senantiasa memerlukan keteladanan dari pelakunya. Artinya, untuk melahirkan sebuah genarsi baru yang unggul dan berkualitas, memerlukan sosok ibu yang berkualitas dan cerdas. Para ibu inilah yang akan sanggup melakukan pewarisan nilai-nilai kebaikan secara generatif kepada anaknya.

Sosok ibu yang cerdas itu bukan hanya cerdas secara nilai-nilai akademis, namun juga diharapkan cerdas secara emosi, akhlak dan spiritual. Karena seorang ibu bukan hanya menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan melahirkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi: biofisik, psikososial, kultural dan ruhiyah.
Untuk menjadi ibu yang cerdas, diperlukan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Selain dorongan dari ibu itu sendiri dan keluarga, peran pemerintah atau negara dalam memfasilitasinya sangat diperlukan, karena generasi yang berkualitas akan menjadi ujung tombak suatu negara. Tidak sedikit tokoh yang sukses karena peran seorang ibu yang cerdas di belakangnya. Mungkin nama para ibu ini tidak pernah tercatat dalam sejarah. Namun anak-anak mereka tercatat dengan tinta emas. Dan itu cukup menjadi bukti eksistensi ibu.
Dalam hal ini, pemerintah memiliki tugas penting, yaitu menjamin agar ibu bisa menjalankan peran keibuannya dengan sempurna. Bukan malah mendorong ibu untuk bekerja ke luar negeri dengan memberikan julukan pahlawan devisa. Itu sama artinya negara ini tengah menjual masa depannya.

Tugas negara pula untuk menjamin pendidikan para ibu. Pendidikan dengan kurikulum yang tepat. Agar para ibu tidak hanya menjadikan materi sebagai orientasi hidupnya. Namun sesungguhnya, ibu punya tanggung jawab besar di pundaknya untuk masa depan bangsa. Maka, memang tidak salah kalau dikatakan perempuan adalah tiang negara. Bila tiang itu roboh, maka tunggulah waktu keruntuhan negara tersebut.

Bila harus menuliskan bagaimana kasih sayang ibu tercurah, mungkin perlu berjuta-juta kalimat. Itu sebabnya seluruh negara di dunia memiliki tanggal masing-masing untuk memperingati Hari Ibu. Namun, tidak perlu menunggu Hari Ibu untuk menyatakan rasa sayang pada ibu kita. Tidak perlu menunggu Hari Ibu tiba untuk memberi beliau hadiah. Tidak perlu menunggu Hari Ibu untuk merayakan Hari Ibu, karena setiap hari kita sudah merayakannya dengan mendo’akannya (yang merupakan sebuah kado indah untuk ibu kita).

Dan, tidak perlu menunggu hari Ibu tiba, untuk sekedar mengucapkan ‘I Love u, Mom…’.

Edelweis, 22 Desember 2011.

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Bagaimana Karakteristik Kader Dakwah?

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan (dakwah), menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.3:104 )

Kader adalah aset termahal bagi sebuah gerakan dakwah (atau organisasi apapun). Setiap organisasi, jama’ah, suatu perkumpulan atau suatu komunitas tidak bisa lepas dari yang namanya kader. Tidak bisa disebut jamaah atau komunitas jika hanya ada seorang pimpinan tanpa ada pengikut (kader). Sebagus apapun seorang pimpinan, jika ia tidak memiliki kader-kader yang handal dan militan, maka lambat laun akan menjadi orang yang kalah. Pun dengan gerakan dakwah, dia harus memiliki kader yang solid, yang bisa diandalkan dan teruji militansinya, tidak mudah goyah dan luntur idealismenya hanya karena remeh temeh permasalahan hidup. Jika suatu jamaah atau organisasi memiliki kader-kader yang berkualitas, maka ia akan menjadi jamaah yang solid dan mampu membangun eksistensinya di tengah-tengah masyarakat dan mampu berperan aktif dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan kemashlahatan ummat.

Jika kita bertanya, bagaimanakah kader dakwah sesungguhnya? Maka jawabannya adalah dia harus beriman kepada Allah SWT serta beriman kepada Rasulallah SAW, dengan membenarkan apa-apa yang dibawanya tanpa keraguan sedikitpun dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya.
Kader dakwah adalah da’i yang siap untuk menghadapi apapun kemungkinan rintangan dan cobaan yang Alloh timpakan kepadanya. Rasulallah adalah uswah da’i yang tak pernah surut dan lelah dalam mengemban amanah-amanah Alloh dalam keadaan suka maupun duka. Kader dakwah merupakan harapan ummat yang siap melanjutkan perjuangan sampai waktu bertemu dengan Robb-nya. Setiap amal yang dilakukan akan menjadi saksi sejarah dakwah. Amal jama’i, berprasangka baik, sungguh-sungguh dalam beramal di antara kader merupakan sumber kekuatan utama dalam menatap keberhasilan. Ia juga harus mempunyai sikap yang jelas, tidak ambigu apalagi hipokrit (munafik). Sikapnya tegas dan pasti terhadap kekafiran dan kebathilan, lakum diinukum wa liya diin. Apa-apa yang dihalalkan oleh Alloh, ia halalkan, dan mengharamkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Nya.

Seorang kader dakwah dituntut untuk militan (militansi)! Karena ia mengusung misi untuk menolong agama Alloh di muka bumi ini. Konsisten dalam dakwah, itulah yang disebut militansi. Militansi menghimpun semua kecerdasan dan keterampilan intelektual. Mental dan spirit adalah elemen penyusunnya. Kesetiaan memenuhi seruan dakwah indikasi sikap militan kader. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang maka ia pun akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah.

Jika suatu jama’ah sudah dipenuhi kader-kader dengan karakteristik yang mengagumkan, maka jama’ah tersebut akan menjadi jama’ah yang terbaik di antara jama’ah-jama’ah manapun. Sebagaimana jama’ah Rasul dan para shahabatnya yang beliau definisikan sebagai sebaik-baik jama’ah, sebaik-baik zaman.
“Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).”

Seorang kader haruslah menjadi pisau belati yang selalu tajam, bak kesabaran yang tak pernah padam, tuk arungi dakwah ini jalan panjang. Inilah keyakinan yang lama dijalani dalam setiap langkah hidup para da’i, yang tidak ingin berpisah dengan jalan dakwah ini walaupun sesaat.
Mari bersama perkokoh barisan dan hancurkan kebathilan, dengan terus memperbaiki kualitas diri sebagai kader dakwah! Selamat berjuang sampai Alloh memberikan syurga yang penuh harapan..

Ya Alloh, saksikanlah kebersamaan kami bersama-Mu di jalan ini. Kuatkan kami untuk tidak bercerai berai saat mengalami kelapangan dan kesenangan. Satukan kami ketika menghadapi kesempitan dan kesulitan. Kita pasti bisa!

*tulisan lama, baru diposting ^^.
Edelweis, Rabu 16 November 2011 ditemani Suara Persaudaraan – Ajari Aku, renungan di kala lelah menerpa…

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Perempuan Berpolitik: Ideologi dan Aksi Kaum Feminis


Sebutan feminis atau seorang feminis yaitu orang yang menganut paham feminisme. Gerakan yang dimunculkan oleh Marry Wallstonecraff, seorang wanita yang telah berhasil mendobrak dunia lewat bukunya The Right of Woman pada tahun 1972, dengan lantang menyuarakan tentang perbaikan kedudukan wanita dan menolak perbedaan derajat antara laki-laki dan wanita. Gaung feminisme inipun disambut hangat oleh beberapa kalangan di dunia Barat, termasuk negara-negara Timur Tengah pun turut serta dalam memperjuangkan perbaikan kedudukan kaum wanita.
Gerakan Feminisme lahir dari sebuah ide yang di antaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan.
Secara etimologis feminis berasal dari kata femme (woman) berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial. Dalam pengertian yang paling luas, feminis adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya. Dalam ilmu sosial kontemporer lebih dikenal sebagai gerakan kesetaran gender.

Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, di mana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin).

Terlepas dari bagaimanapun awal berkembangnya, paham ini harus diluruskan dengan arti yang lebih luas dan tidak bermakna ganda atau bahkan sempit. Kalangan feminis memanfaatkan istilah “hak asasi” dan “pemberdayaan” perempuan untuk menyuarakan gerakan feminisme.
Sekilas, konsep feminisme tidak bermasalah karena bertujuan untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang selama ini dianggap didiskriminasikan dan dilanggar hak-haknya oleh kaum lelaki. Tapi, “konsep” feminisme yang notabene berasal dari Barat dan menggunakan standar-standar kehidupan perempuan Barat yang cenderung bebas.

Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap orang, termasuk kaum wanita, mereka mempunyai hak untuk bekerja dan menduduki jabatan-jabatan tertinggi,
kendati ada jabatan yang oleh sebagian ulama dianggap tidak boleh diduduki oleh kaum wanita, yaitu jabatan kepala Negara (Al-Imamah Al-Uzhma) dan hakim.

Sebagai bagian dari masyarakat, perempuan sudah saatnya menentukan arah politik di tanah airnya sendiri. Kaum itu jangan hanya selalu mengikuti arah kebijakan pemerintah, tanpa ada sikap kritis dalam mengawal aturan yang ada. Menyikapinya, tentu dengan gerakan yang lebih sistematis dan strategis. Langkah strategis politik perempuan, bukan dengan adanya pembagian quota gender di seluruh struktur legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pemegang kekuasaan kita hari ini tidak punya komitmen politik untuk pencerdasan dan pencerahan.

Bagi wanita Muslim, harusnya kita mampu membuat kekuatan semacam people power, dengan mengintensifkan dakwah dan gerakan kultural, yang menanamkan nilai syariat Islam. Harusnya, bila ingin persoalan perempuan diselesaikan lewat jalur parlemen, kita harus memahami terlebih dulu makna politik. Pengertian politik di kalangan ummat perlu diluruskan, jika parpol sesuai dengan manhaj Rasulullah SAW why not? karena perjuangan untuk mencerdaskan perempuan akan “politik Islam” immposible jika bersifat individual.

Sah saja bagi wanita berpolitik (ex. Menduduki kursi di parlemen), selama dia tidak melupakan atau melalaikan tugas utamanya yaitu sebagai Ummu dan Rabbatul Bait. Justru di sanalah tugas utama politik perempuan, sebab ketika dia menjadi Ummu dia mendidik anaknya untuk menjadi orang yang Arif dan Faqih dalam berbagai bidang sehingga menjadi seorang Ulama. Sebagai Rabbatul Bait di mana seorang perempuan membuat kondisi yang kondusif bagi keluarganya untuk mendidik mental / kejiwaan dan pemikiran anak-anaknya.
Perempuan berpolitik merupakan bagian dari kewajiban syara’, dengan menyeru perempuan untuk berkiprah dalam perpolitikan dengan paradigma ideologi Islam. Salah satu penyebab terpuruknya umat ini, karena mereka buta politik Islam, sehingga umat selalu dipolitiki. Oleh karena itu, umat harus tahu politik yang tentunya adalah politik Islam yakni yang selalu peka memperhatikan persoalan dan kemaslahatan masyarakat.
Perempuan bisa memainkan perannya dalam dunia politik. Tetapi, ruang politik bagi perempuan belum secara luas dapat diterima. Bahkan banyak orang berpendapat bahwa perempuan takut berpolitik. Benarkah demikian? Mungkin tidak semuanya benar. Sebenarnya perempuan bukannya tidak berani berpolitik. Namun, banyak hambatan yang dihadapi perempuan, terutama hambatan yang memaksa perempuan menjadi pihak yang paling bertanggungjawab di rumah. Perempuan juga takut memikul beban ganda, di rumah dan di luar rumah.

Hidup itu pilihan. Dan bukan karena kita para wanita ingin sejajar dengan laki-laki lalu menganggap pilihan tradisional yang seakan membatasi gerak kita sebagai wanita itu lantas menjadi salah.
Feminis adalah gagasan kesetaraan gender. Tapi, seharusnya bukan kebebasan dalam arti yang ekstrim sehingga keluar dari tata krama sosial masyarakat. Maksudnya adalah menjadi Ibu Rumah Tangga, hidup berkeluarga, atau sebaliknya menjadi wanita karier dan bekerja melakukan dua hal bersamaan adalah sebuah pilihan hidup bagi para wanita itu sendiri.

Bagi para wanita Muslim, Al-Qur’an dengan jelas menyebutkan bahwa Allah SWT menciptakan berbeda antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Masing-masing dianugerahkan peran yang berbeda pula untuk saling mendukung sebagai satu tim, dan bukan untuk saling bersaing. Tak seorang pun yang ingin mencabut hak-hak kaum perempuan, tapi kita harus memahami bahwa kebebasan bukan berarti harus mendegradasikan kaum perempuan, dan persamaan hak bukan berarti harus ‘identik’.
Masalah kesetaraan gender yang gencar didengungkan kaum feminis itu akan selalu ada, jika kaum feminis tidak pernah merasa bahwa laki-laki adalah “mitra”, melainkan sebagai pesaing dan musuh.

*diselesaikan Kamis, 12 Oktober 2011. Memburu untuk screening Daurah Siyasi 2 KAMMI Lampung.

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Mempertanyakan Eksistensi Pemuda Islam

 oleh: Sufiroh

dimuat di: dakwatuna.com

Ketika berbicara mengenai pemuda, banyak hal yang menarik dan hal-hal menyenangkan. Karena dalam fase kesatriaannya, kita akan menemukan berbagai macam hal tentang pencarian jati diri dalam menyusuri setiap lembaran mozaik masa depan yang masih terlihat samar-samar. Sebuah pepatah mengatakan, “Negara yang tangguh salah satunya bisa dilihat dari sosok pemudanya”. Bahkan Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa pemuda adalah salah satu dari lima pilar yang dibutuhkan untuk membangun negara tangguh selain pemimpin yang adil, ulama, wanita solehah, dan ummat yang baik.

Seharusnya, sebagai pemuda Islam merasa tersanjung dengan hal tersebut kemudian berusaha melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya. Tapi, mungkin saja, ada beberapa dari kita merasa bingung, tidak puas dan bertanya, “Kenapa harus pemuda?”. Jawabannya cukup sederhana, karena pemuda adalah kumpulan anak-anak muda dengan semangat besar, daya serap dan pikir yang cepat, juga fisik yang masih prima. Karena peranan pemuda yang strategis itulah, Soekarno sampai berani mengatakan sesuatu yang masih dikenang dunia hingga sekarang, “Berikan kepadaku 1000 orang tua, aku sanggup mencabut Semeru dari uratnya. Tapi, berikan kepadaku 10 pemuda maka aku sanggup menggoncangkan dunia.”

Pemuda Islam hari ini adalah gambaran masa depan Islam. Apabila baik pemudanya maka akan baik pula Islam di dalamnya. Dr. Syakir Ali Salim berpendapat, pemuda Islam merupakan tumpuan umat, oleh karena itu ekistensinya sangat diperlukan di masyarakat.
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami” (QS. al-Mu’minuun:115)
.

Kecintaan para pemuda Muslim terhadap dien-nya kini sudah begitu jauh. Bukan karena sebab, namun memang secara tersistem ternyata telah ada langkah-langkah terstruktur yang menjauhkan pemahaman dan kecintaan pemuda terhadap Islam. Paling tidak menjauhkannya dari segala nilai yang bernafaskan islami dan digantikan dengan nafas kebaratan (westernisasi).

Sering kita bertanya, kenapa ada orang Islam yang bergabung dengan aliran sesat?
kenapa ada orang Islam yang bermaksiat? kenapa ada orang Islam yang Islamphobia?
Pertanyaan semacam ini, dapat dijawab dengan merefleksi bagaimana daya tahan bangunan keislaman seorang Muslim, yang dapat dilihat dari kualitas pondasi (Iman), tiang (Islam), dan atapnya (Ihsan).

Ada empat hal yang harus diperhatikan pemuda dalam memperbaiki kualitas eksistensinya, yaitu hati nurani (spiritual intelligence), emosi (emotional intelligence), akal (intellectual intelligence), dan fisik. Menurut As-Syahiid Hasan Al-Banna, hal-hal tersebut dapat dimaksimalkan melalui perbaikan jiwa. Perbaikan jiwa dapat dilakukan melalui pendidikan dan pembinaan. Rajin menambah ilmu dengan mengikuti kajian, seminar, mentoring atau training, melakukan introspeksi diri, melembutkan hati dengan banyak berdo’a merupakan cara-cara yang dapat ditempuh untuk mendidik dan membina jiwa.

Dizaman di mana kekuatan kebathilan saling bersatu padu meminggirkan Islam bahkan menghancurkannya serta memberangus eksistensinya, sudah sepantasnya jika para penyeru Islam untuk bersatu, bergandeng tangan menghadapi musuh-musuhnya. Jika perbedaan yang ada di tengah-tengah ummat ini masih bisa ditolerir,  maka hendaknya saling berlapang dada. Tetapi jika perbedaan itu pada persoalan-persoalan yang prinsipil dan mendasar, maka mengedepankan sikap tanashuh (saling menasehati dalam kebenaran) adalah jalan yang paling tepat disaat kita menghadapi musuh dari berbagai arah.

Pemuda dalam sejarah Islam, selalu ditempatkan pada posisi yang istimewa, bahkan Al-Qur’an banyak menjelaskan bahwa manusia-manusia pilihan yang mendapat mandat kerasulan dan kenabian adalah mereka dari kelompok pemuda. Kenalkah Anda dengan Nabiyullah Ibrahim AS.? Bapak para Anbiya’, di mana agama-agama besar lahir dari perantara “rahimnya”. Ibrahim AS adalah sosok pemuda yang disebutkan Alloh yang mampu menggentarkan kerajaan Namrudz.

Jika semua pemuda Islam di Indonesia bertekad untuk menjadi pemuda berkualitas, impian akan ketangguhan negara Indonesia nantinya, besar kemungkinan akan terwujud. Karena di hadapan kita –bisa jadi– akan muncul lagi pemuda-pemuda tangguh yang mengikuti jejak Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, dan pemuda pejuang Islam lainnya. Dengan segala kemampuan mereka masing-masing, sehingga namanya terukir dengan tinta emas dalam pentas sejarah peradaban Islam. Lantas, bagaimana dengan masa muda kita?

Pemuda Islam tidak cukup hanya bertugas menjelaskan zaman, namun juga harus melampauinya dengan mengubah zaman. Karenanya, di tengah zaman yang bergerak, masyarakat membutuhkan pemuda Islam yang bergerak!

*diselesaikan Selasa, 9 Ramadhan 1432 H, pkl. 6.27 Wib (sebenarnya dah dari beberapa bulan lalu selesai, cuma baru inget untuk dipublish) ditemani lantunan nasyid ‘Berkelana’ nya Rabbani ^^, sedang belajar menulis, afwan klu garing ^^ .. untukmu pahlawan-pahlawan muda yg penuh semangat untuk memperbaiki diri dan ummat,, moga manfaat.

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.