Lembar Kisah

Pepaya untuk Tetangga

eumm… yummy

dimuat di dakwatuna.com

Sudah lama gak pulang kampung ^^, ada tetangga baru rupanya di samping rumah. Tapi kali ini saya agak kerepotan, akan lebih sering menjaga hati dan pendengaran untuk berkonsentrasi (lebay!). Bukan apa-apa, nih tetangga punya hobi dengerin musik kuat-kuat, sampai suaranya bak menggedar-gedor jendela kamar saya, mengusik kekhusyu’an dalam melahap buku, atau yang sedang mengerjakan draft Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dll. untuk saya selesaikan selama liburan ini -_-‘ (cie… rajin beneur ^^.  *ini Tuntutaaaaannn!!).

Posisi sound di rumah si tetangga baru, mungkin tepat bersejajar dengan kamar saya! T.T  untung bawa earphone! Bisa disumpel nih telinga dengan suara nasyid atau murottal dari laptop, hehe… tapi tetap proporsional juga, nanti kalau ada yang ketok-ketok rumah malah kagak kedengeran. Maklum, kalau Abah dan Mak lagi jemput rezeki maka tugas saya adalah menjaga rumah (Ooh, satpam ya? ^^).

Kembali ke soal tetangga baru tadi, sebenarnya ini masalah (lebih pasnya: tantangan) bagi saya, tidak bisa dibiarkan! Grrrr… musiknya itu lho, tepat kaya’ musik yang selalu saya dengar kalau naik angkot, musik disco! Telinga saya panaaaassshh!! (haha.. lebay berpangkat! *Eh, ini sungguh! -_-‘).

Baiklah, saya coba ke dapur, lirak-lirik di dalam kulkas. Ada sesuatu gak ya…?

Pepaya segar, eummm…  Aha! saya punya ide! (meski belum izin sama Mak. Ah, gampang! Bisa dijelaskan nanti kalau sudah pulang. Peace… ^^)

Saya kupas dan potong-potong sedemikian rupa si Pepaya, setelahnya saya taburi dengan susu kental manis, sehingga… Nampak lezat untuk dimakan saat cuaca panas seperti ini (yummy! Mau nyobain, tapi lagi shaum…  Sabar! Sabar! -_-‘).

Yup! Pepaya segar nan sederhana ini akan saya bawa ke tetangga sebelah. Biar tau pemilik baru di rumah itu, kalau kita hidup bertetangga ^^.

Dengan langkah mantap dan berkibar-kibarnya jilbab marun (lebbaaaayyy!), saya membawa piring berisi Pepaya segar nan sederhana menuju rumah ber-cat ungu.

“Tok..tok.. assalamu’alaikum…” sapa saya, sambil mengayunkan punggung tangan ke daun pintu warna ungu muda itu, berkali-kali. Nampaknya harus lebih kuat, agar bisa mengalahkan suara musik disco di dalamnya.

Alhamdulillah, ada yang bukain pintu…

Langsung saya lemparkan!!!

Senyum saya lempar ke si pembuka pintu, sambil menyodorkan piring berisi beberapa potongan Pepaya segar yang ditaburi susu kental manis di atasnya.

“bang, ini ada Pepaya segar…,” sapa melembut ke laki-laki di hadapan saya, mm… mungkin lima tahun lebih tua usianya dari saya. Sambil senyum agak bingung laki-laki itu menerimanya (tepatnya: heran?), seperti tidak pernah mendapat hadiah (bukan, tapi bertanya dalam hati: siape lu??!  *ahhaha..). Langsung saya lengkapi kalimat saya yang tadi, “ini Pepaya dari Abah, yang rumah sebelah ini.” Sambil menunjuk rumah ber-cat hijau di samping, sementara terus mengembangkan senyum (senyum proporsional sama si abang).

“oh, iya… makasih ya… nanti piringnya dianterin.” Piring saya sudah di tangannya kini.

“iya, mari bang…”. balik kanan, pulang.

Alhamdulillah, misi selesai! ”Ya Alloh, berilah hidayahmu untuk tetanggaku agar lebih baik.” Batinku.

Eh, suara musiknya udah gak se-hebbooh yang tadi!^^

Sekarang hanya terdengar sayup-sayup tipis suara disco-nya itu di kamar saya -_-‘, dan perlahan-lahan suara menghilang. Yey! Saatnya tidur… (lho? RPP euy! RPP!).

Satu jam kemudian.

Ada perempuan muda dengan rambutnya yang di-cat berwarna Almond dan berkacamata di rumah saya, membawa piring tadi berisi ikan sambel goreng di atasnya. Subhanallah… rupanya beliau adalah isteri si Abang tetangga. Heum, padahal niatnya gak butuh balesan, cuma ingin nyapa aja pake buah Pepaya. Alhamdulillah…

Ngobrol bentar sama Mak, sambil melihat foto-foto wisuda saya yang sedang dimasukkan ke dalam bingkainya. “Ini anak ibu, yang baru diwisuda kemaren di Unila… bla…bla…bla…”, mulai deh Mak… mempromosikan.

Saya senyam-senyum membalas senyum yang dilempar beliau bertubi-tubi ke saya.

“makasih ya, Pepaya-nya enak.” Katanya sambil terus senyum ke saya (bukannya semua rasa Pepaya sama, ya? Enak.  *iya ya… ah, si mbak gak kreatif nie mujinya.. ehhehe. Maksud si tetangga baru itu berusaha menyenangkan hati saya… heuh).

“oh, iya mbak, sama-sama. Makasih juga ikan sambelnya….” balasku. ^_^

Sejatinya, bersaudara itu bukan saling take and give. Tapi give, give, and give.

Rabb,

jangan henti keindahan Mu mengilhamkan senyum nan cerah di wajah kami, agar pergaulan semanis susu – seharum kasturi…

***

Hei.., saya dengar Sulis berdendang di sebelah rumah!

Sungguh, melantunkan syair “Salam ‘Alaika” nya…

Lagu favorit saya, kala SD.

*diselesaikan Senin, pkl.13.39 WIB. 12 Sya’ban 1433H, Tanjung Rusia

Categories: Lembar Kisah | 2 Komentar

Kaifa Haluk? Ana, Rindu….

Bismillah…

Sahabatku, perjuangan tak ‘kan pernah putus karena diikat dengan rantai iman. Mujahid tak keseorangan, karena diikat dengan rantai ukhuwah.
Istiqomah dalam perjuangan sebagai BUKTI keimanan.

Hmmm…
ana rindu jabat tangan anti yang erat plus tatapan sinar mata yg ceria, seolah-olah tak ada masalah ^^.

Ana rindu sapaan kala kita bersua, “ruhiyah makin mantap?, kita adalah da’iah ukhti! Ummat haus keteladanan..” ^^.

Ana rindu tepukan anti di pundak ini, “semangat ukh! Innallahama’ana…” ^^.

Ana rindui moment kala berlapar dan haus bersama demi suksesnya agenda2 dakwah kita.. ^^.

Ana rindu candaan-candaan manis penghilang penat, kala beradunya argument2 untuk mengambil keputusan.

Hah? Syuro’ lagi..?
ganti suasana dg tipe mabit, tapi tetep syuro’ ^^.

Tahukah anti, ana rindu sangat…

Di manapun kita ditempatkan, kita masih pada visi yang sama kan?
yup.. Alloh ghoyatuna!

Jikalau hamasah itu masih bergejolak dalam sukma kita, maka pekikkan takbir bukanlah sebatas lisan untuk penyemangat tanpa makna.

Bersyukur kita karena hingga detik ini Alloh masih mempercayakan hidayah ini untuk senantiasa kita pelihara. Mengajak kita untuk terus merasakan percikkan cinta seperti di awal kita mengenal-Nya,,

Ukh, istiqomah ya…

Semoga ikatan ukhuwah ini terbina untuk selamanya…

(*sebuah masa…
Kepemimpinan LDK Unila_UKM Birohmah masa jihad 2010-2011.

Saudaramu,
Ukhti Sufi_chan

Edelweis, 8 Oktober 2011. PKL. 08.30 WIB..

Categories: Lembar Kisah | Tinggalkan komentar

Untuk Yang Merasa Lelah

“Ukhti, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan, ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh…”
(begitu keluh kesah seorang kader dakwah kepadaku di suatu sore.
Aku hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri ikhwah ini).

“Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?” (sahut ku setelah sesaat termenung.).

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti;kaku
dan sering mematikan potensi anggotanya. bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja..”
(jawab ikhwah itu. Aku termenung kembali. Tak kutampakkan raut terkejut dari roman wajahku.).

“ukhti, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas, kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia.Lalu, apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” (Tanyaku dengan kiasan. Ikhwah itu terdiam ).

“Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?” (Aku memberi opsi).
“Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan Lumba-Lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai ketujuan? Bagaimana bila ikan Hiu datang? Dari mana antum mendapat makan dan minum? bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?”
(Serentetan pertanyaan kuhamparkan di depan akhwat tersebut.).

(Kudengar tangisnya tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun aku justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.).
“Ukhti, apakan antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah SWT ?” (Ia hanya mengangguk).

“Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?”
(tanyaku lagi. Sang ikhwah tetap terdiam dalam sesunggukkan tangis perlahannya).

(Tiba-tiba ia mengangkat tangannya),
”cukup ukh, cukup. Ana sadar. maafkan ana, InsyaAlloh ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapatkan medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan,. Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya jalan ini saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana…” (azzam-nya di hadapanku).

(Aku Tersenyum). “Ukhti, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan..” (papar ku).

“Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Alloh Ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Alloh, belum tentu antum lebih baik dari mereka.
Futur, Mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidaksepakatan selalu disikapi dengan jalan itu?”
(sambungku panjang lebar. Kudapati ia termenung kembali. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya).

“Tapi, bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?” (sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga. ^^)

“Siapa bilang kapasitas antum lemah? semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lainnya!” (sahutku).

“Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah tausyiah dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghibah antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang yang mantan budak hina menemukan kemuliaannya….”

Sore itu sang akhwat menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah dalam mengarungi jalan dakwah.
***

Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang. Dihempas gersangnya debu ‘wahn’ yang begitu kencang menerpa. Biarkan amal-amal ini semua menjadi saksi, sampai kita diberi satu dari dua kebaikan oleh Allah SWT yaitu KEMULIAAN atau MATI SYAHID.
Ikhwah..,
Jalan ini, seberat dan sesulit apapun itu, seorang mukmin sejati akan senantiasa menikmati dan mencintainya. Dalam menjalaninya, kita akan dapat merasakan manisnya jalan ini, rasa manis yang akan memudahkan semua kesulitan, meringankan beban berat, menabahkan kita untuk terus menapaki dan mendakinya, dan menjadikan kita ridho terhadap-Nya, bahkan ketika melewati masa terpahit dan hari terberat sekalipun. Kita akan selalu ingatkan siapa saja yang berniat mundur dari jalan ini:
“Sesungguhnya akibat dari pengunduran diri adalah keburukan. Apalagi bagi orang yang telah mengerti kebenaran lalu berpaling dari-Nya. Bagi orang yang telah merasakan manisnya kebenaran lalu tenggelam dalam kebatilan. Sesungguhnya membatalkan janji kepada Alloh termasuk dosa yang besar di sisi Alloh dan hina di pandangan orang-orang yang beriman..”

Sesungguhnya kita akan menemui masa-masa sulit, masa-masa yang melelahkan, dan berbagai ujian. Padahal kita tengah berada dan berjalan di atas jalan kebenaran dan disibukkan berbagai aktivitas dakwah. Tapi kita meyakini bahwa teguh di atas jalan ini dan sabar menghadapi berbagai cobaan, niscaya kepedihan akan sirna, kelelahan akan hilang, dan yang tersisa bagi kita adalah ganjaran dan pahala…
Kita selau menyadari bahwa sesungguhnya amal islami bukanlah aktivitas sesaat.. amal islami bukanlah aktivitas yang cukup dikerjakan disaat kita memiliki waktu luang dan bisa ditinggalkan saat kita sibuk. Sekali-kali tidak! Amal islami terlalu mulia dan agung..
Sesungguhnya celah tidakakan pernah tertutup… kekurangan tidak akan pernah hilang, dan yang ma’ruf tidak akan pernah terwujud kecuali dengan amal…
Di sinilah peran kita…ya, peran kita semua, saudaraku.
Tentu saja, kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi ia untuk dipahami dan diamalkan. Kita paham dan sadar bahwa agama ini hanya akan tegak di atas orang-orang yang memiliki azzam yang kuat. Ia tidak akan tegak di atas pundak orang-orang yang lemah dan suka berhura-hura, tidak akan pernah!
Tidak akan pernah tegak agama ini hanya dengan ragu-ragu, termangu menjalin mimpi tanpa gerak maju,, Tidak akan pernah tegak mimpi ini tanpa kerja nyata dan terjerat angan hampa.
Ada nasehat yang luar biasa dari Ibnul Qayyim rahimahullah,,,
” Wahai orang yang bersemangat banci..! Ketahuilah, yang paling lemah di papan catur adalah bidak. namun jika ia bangkit, ia bisa berubah menjadi mentri bahkan ’ster’.

Nasehat tersebut sangat mengena buat kehidupan kita… Betapa sering kita memiliki semangat yang banci dalam mengemban dan menapaki jalan ini, bukan semangat yang membaja. Kita hanya mau aktif dalam ‘zona nyaman’. kita menjadi militan karena lingkungan memang membentuk seperti itu, tapi sebenarnya kita rapuh. Kita sering dan mudah sekali mengeluh dan mengeluh.
Padahal kita belum mencoba berbut sesuatu. Semoga Alloh merahmati orang yang telah mengucapkan kalimat berikut:
“Wahai orang yang meminang bidadari surga tetapi tidak memiliki sepeserpun semangat, janganlah engkau bermimpi, telah sirna manisnya masa muda dan yang tersisa hanyalah kepahitan dan penyesalan.” ^^

Jika kesusahan adalah hujan
Dan kebahagiaan adalah mentari
Kita tetap membutuhkan keduanya
Untuk Melihat indahnya pelangi
Begitulah aku mengibaratkan Ukhuwah ini
Senantiasa saling melengkapi satu dengan lainnya
Dan tak ku nafikan jika ada kekurangan di dalamnya
Karena itulah ruang pemakluman ini begitu terbuka luas untuknya.
Dan aku senantiasa belajar untuk dapat memahaminya semoga begitu juga denganmu….^^

*Edelweis, 1 Oktober 2011 (disadur lagi ^^)

Categories: Lembar Kisah | 1 Komentar

Karena Aku Wanita Muslim

oleh: Sufiroh

Batinku heran bertanya-tanya, melihat perempuan-perempuan Jilbaber (berjilbab syar’i_red.) itu, “Tak gerah-kah mereka dalam berpakaian?”.

Setelah sempat terbelenggu oleh kebodohan yang berkarat dalam kehidupanku, kini Dia membebaskan, membuka hati yang sempat terkunci, memberi cahaya pada akal yang dulu kelam, untuk hamba-Nya yang lemah ini.
maka, nikmat Tuhan mu yang mana lagikah yang kau dustakan?
(QS. Ar Rahman:16).

Hidayah… Hadiah yang special bagiku dari Nya ^^.

dan katakanlah pada perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan jangan menampakkan auratnya, kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya… dan bertaubatlah kamu semua kepada Alloh, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS An Nur:31).

Ya Rabb, terjawab sudah! Setelah sang Pembicara menunjukkan ayat cinta dari Mu ini, di masjid Al Wasi’i Universitas Lampung, dalam rangkaian acara Kemuslimahan oleh Lembaga Dakwah Fakultas, untuk Mahasiswi baru. Tepat sasaran! pada salah satu dari ratusan peserta yang ada, ke pemilik hati berkarat itu. Diriku! Hingga mataku gerimis dibuat Nya. Sungguh kalimat cinta yang begitu indah itu, telah berhasil membuatku takluk pada Mu. Ya, seorang wanita yang mengimani Engkau, Allah SWT sebagai Tuhan-ku.

19 September 2007, masih kuingat kalimat dengan suara sesenggukan namun mantap, keluar dari mulutku setelah itu, “aku ingin hijrah…!!!”.
Kumulai museum-kan celana-celana jeans dan jilbab yang mini size itu. Ah! malu rasanya jika kuingat bahwa aku sudah tertipu beberapa tahun lamanya setelah aku dilahirkan ke dunia ini. Tertipu oleh kejahiliahan!
“Kalau sudah hijrah, Alloh akan mengujimu, menguji kesetiaanmu pada Nya, musti sabar ya… selamat berjuang untuk mempertahankan izzah (kehormatan) mu. Tenang saja, Dia bersama selalu dengan hamba Nya yang bertakwa.” Seorang sahabat akhwat menyemangatiku.
Benar saja, ini neh deretan ujian kesetiaan itu yang berhasil masuk ke memori otakku…

”ehm, sekarang udah jadi akhwat ya? Bukan muhrim lagi kita.”,
(jadi, selama ini aku ikhwan?!).

“kenapa sih musti pake rok dan kaos kaki ke mana-mana??!! Ga’ ribet?!”
(hem, justru ini bisa melatih ketangkasan, aku kan cewek, lebih girly dan kulit jadi lebih bersih terlindungi.).

“trus, kamu gak mau pacaran? Rugi dunkz!”
(pacaran ko’, setelah prosesi ijab-qabul selesai. Pembeli yang baik, tidak mau membeli produk yang seglnya terkelupas, apalagi rusak. Rugi katanya!).

“Assalamu’alaikum,neng…”
(subhanallah, aku dido’akan cowok perokok yang nongkrong di pinggir jalan! Semoga keselamatan tercurah untukmu juga).

“husttt! Ada Sufi, gak boleh ngomong kaya’ gitu!
(alhamdulillah, kini hadirku menjadi pengingat mereka. ^^).

“kamu bukan terrorist-kan?!”
(bukan! , gak liat? wajah manis gini…).

Dll, dst, dsb… ujian lainnya… ^^

Aku ber-Islam bukan karena keturunan, tapi karena kini aku memahami… ada rambu-rambu di sana, agar kita tidak mengalami kecelakaan dalam perjalanan hidup ini! Pun setelah itu kita akan melaporkan untuk mempertanggungjawabkan tingkah laku ini selama hidup, pada Nya! Yang Janji-Nya tak pernah diingkari!

Oya, surga itu mahal, kawan! Butuh perjuangan untuk meraihnya! ^^
Faghfirlana Y Rabb… mohon istiqomahkan diri..

*Diselesaikan 19 September 2011: 23.45 WIB _ heningnya Edelweis ku… ^^

Categories: Lembar Kisah | 2 Komentar

Gara-Gara Si Kucing!

oleh: Sufiroh

Aku sempat tertawa geli saat ingat argument Ponakanku yang laki-laki, ketika aku mengkritik seekor Kucing bunting yang sedang tidur di lantai ruang tamu rumahku.

Aku  : “perasaan, kucing ini hamil mulu sih?!!!”

Ponakan : “Gimana gak hamil mulu, auratnya ja gak ditutup gitu!”. Sahutnya dengan semangat, sambil memandangi kartun Detective Conan, di stasiun TV kesukaannya.

Aku  : “ ??????@###!!!!!!!!!……….”

Ibuku  yang lagi menerima tamu wanitanya, langsung melirik ke arahku. Pasalnya, mungkin karena Ibu takut sang tamu yang pakaiannya kurang bahan (hampir sama kondisinya dengan Kucing, Upz!!! ^^) itu tersinggung.

Dalam hati aku berteriak:  “Ibu… bukan aku yang mengajarkan kalimat itu padanya…!!!”.

*======*

Hehe… tapi, like this-lah boy! Siapa tau kata-katamu itu, bisa menyentuh hati sang tamu yang langsung mengirimiku senyuman saat ekspresiku tak menerima tuduhan Ibu secara implisit itu.

Maaf lahir batin ya Kucing,, kamu jadi difitnah gitu (eh, tapi ini kenyataan ko, Cing! Kamu kan gak nutup aurat … coz, u are animal,are n’t it? Jadi, boleh umbar-umbar aurat! Yahhh, si Kucing cuek aja, dibelain juga!  ^^) . Ponakanku itu emang terlalu kritis. Mungkin jawaban dari pertanyaanku itu, bisa jadi kamu hamil setelah menikah ya? Trus kamu dikaruniai rezeki berkesempatan u/ punya anaknya mudah. ^^ (Lho Ko’ minta maafnya sama kucing?! ntu si tamu?! Lha, emang aku salah apa, sama si tamu?! -pertengkaranbatin.com- ) Mmm… aku do’ain aja deh, biar sang tamu bisa kaya’ mereka yang kini merasakan betapa terlindunginya karena menutup aurat dengan rapih (berjilbab), seperti yang Alloh janjikan. Jilbab bisa menjadi rambu-rambu cewek muslim, agar kita tak kecelakaan dalam perjalanan hidup ini. Yuks, terus belajar memperbaiki kualitas keimanan diri…

Aku bangga menjadi wanita Muslim! Bagaimana dengan mu?

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri orang Mukmin: ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali (sebagai seorang Muslim), sehingga mereka tidak diganggu. Dan Alloh Maha Pengampun, Maha Penyayang.” ( QS.Al-Ahzab:59).

Ini aku, Robb… bersegera dalam seruan-Mu.

So, Pakai Jilbab? Siapa Takut! ^^

 

*Diselesaikan Kamis 23 September 2010, 14.23 Wib. Di Kost-an penuh kenangan,( sepi penghuni neh. Ya, karena penduduknya lg ada yg kuliah, rapat organisasi, dan menikmati tidurnya…. ) hujan kali ini membantuku menemukan inspirasi u/ sedikit mencorat-coret layar note book dengan huruf, dan merumuskan strategi2 gerak ku. Alhamdulillah, ada sedikit kesempatan waktu luang ^^.

Categories: Lembar Kisah | Tinggalkan komentar

Menyapa Sahabat Dakwah

Oleh: Sufiroh

dimuat di: dakwatuna.com

 

Kaifa haluk ya ukh?

Alhamdulillah, ada jeda dalam ruang waktu untuk sekedar mencoret-coret layar note book, meluapkan apa yang dirasa ^^.

Entah mengapa diri ini teringat beberapa sahabat dalam medan juang, anti, ukh ^_^ yang sudah cukup lama kita tak saling berjabat tangan untuk sekedar menyapa… hem, kita sibuk dengan urusan masing-masing ya ukh? Mudah-mudahan kesibukan ini, tak membuat lupa untuk memperbaiki kondisi diri, ummat juga tentunya.

Gimana kabar tarbiyah anti? Qiyamul lail masihkah terjaga? Tilawah Qur’an yang tak pernah luput untuk dilantunkan… juga target gerakan membantu saudara kita, untuk menemukan jalan hidayah, gimana? smoga smakin berkualitas…

Huffh.. terik sang Raja Siang ini berhasil membuat tubuh mengucurkan banyak peluh, Maha Gagah Alloh… ini masih panas di planet Bumi, tak akan dirasa lagi bila kita sudah dilabuhkan pada surga Nya, yang begitu nyaman. ah… tak terkatakan kenikmatannya di sana, apalagi jika kita bisa berkumpul bersama merasakannya kelak. Amin ya Robb…

Ukh, sepenuh hati ana harap tiada beban yang sedang menyusahkan anti kini. Harapku tiada masalah berarti yang mampu mengendurkan semangatmu. Meski kita tak bersama, tapi dipertemukanNya selalu dalam rindu. Maafkan ana. Maafkan ana yang jarang atau bahkan tidak lagi pernah sms anti, mungkin ana jarang menanyakan kabar anti atau bahkan tidak bisa membantu menyelesaikan beban amanah anti sekarang ini. Tapi tak henti dalam tahajud malam-malam itu, ana selalu memohon yang terbaik. Kala tiba waktunya satu-persatu hikmah ‘kan menjawab doa-doa ana. Amin ukh yaa…

Ukh, kini ana sedang Praktik Pengalaman Lapang/PPL (praktik mengajar di sekolah, wajib bagi Mahasiswa Fak.Keguruan), selama 2,5 bulan ke depan. Menghabiskan cukup banyak waktu untuk melatih diri sebagai seorang Pendidik. Hem.. keseharian menghadapi pola tingkah anak remaja yang lapar-dahaga dengan ilmu, ada yang polos (seperti kertas putih, bisa ana gambar apa saja), ada yang luar binasa ^^ (butuh perhatian spesial), teringat dulu, ketika diri ini masih jahiliah saat SMA… belum lagi menghadapi tipe-tipe pendidik tetap di sekolah itu… ya, inilah kondisi ummat ukh, ladang amal yang terbentang luas, menumbuh-kembangkan bibit-bibit kebaikan, meluruskan pemikiran salah kaprah yang sudah membudaya. Ini baru di satu lembaga, ukh!

Beberapa pekan ini sungguh, ana merasa tidak bisa berkontribusi maksimal dalam organisasi yang sudah memberikan ana amanah. Ana takut ukh… pertanggungjawaban di hadapan Alloh nanti..

Ana sempat berpikir, beberapa hal atau impian yang ana harapkan tidak tercapai itu merupakan iqob bagi ana! karena kerja dakwah ini tidak maksimal. Ana malu, ketika meminta hal yang lebih pada Nya, namun pengorbanan yang ana persembahkan di jalan ini sungguh tak seberapa… meski ana tahu, bahwa Alloh Maha Pemurah pada hambaNya.

Hem..ukh, ana merindu syuro’ yang biasanya kita mulai pkl.6 pagi…, merindu agenda dakwah kampus yang kita adakan bersama, dan tentunya merindu melihat semangat dakwah anti yang menyala-nyala, sampai lupa waktunya makan, kalau tidak diingatkan. Berpanas-panas ria dalam aksi, dan diskusi renyah tentang problematika ummat, pengkaderan, sampai pada persiapan menjadi seorang ummahat ^^, ummahat yang penuh semangat membina jundi yang soleh/solehah dalam keluarga, plus ummahat yang kelak teteup exis dalam dakwah, dan aksi? Hehe..

Ukh,ana ingin cerita… Semoga anti bisa mengambil hikmahnya…

Setiap Jum’at di kampus kita kan ada gerakan White Jilbab n Koko day’s ya bagi ADK Unila, ana sangat terkesan pada akhwat kita yang amat konsisten dengan budaya ini, meski jilbab putih beliau cuma satu-satunya yang dimiliki, setelah dipakai hari Kamis sebagai dresscode sebuah agenda, malamnya ia cuci dan keringkan untuk dipakai di hari Jum’atnya. Ketika ditanya,kenapa sampai sebegitunya? ‘musuh akan gentar ukh, jika melihat kita kompak!’ Jawabnya dengan senyum semangat. Ana membayangkan jika ADK Unila itu semua punya pola pikir seperti beliau untuk sehariiii saja konsisten pakai jilbab putih bagi akhwat, dan baju koko bagi ikhwan, sungguh simbolisme islami yang kokoh dan rapih terkoordinir! Tidak perlu lagi lah itu kotak iqob! Sehariiii saja menjadikan kampus ini seperti pesantren, ya pesantrennya kaum intelektual muda di Lampung, bahkan Indonesia…

Hem,,Yang tak surut semangatnya adalah cerita dari senior akhwat kita, ketika kini ia menjadi tulang punggung keluarganya karena ayah sudah tiada, beliau harus membagi waktunya dengan ekstra efisien, antara mencari ma’isyah, mereguk ilmu dalam tarbiyah, serta membina kader dakwah kita. Tidak ana temui raut wajah lelah dan untaian keluh dari beliau. Subhanalloh ya ukh… ana tidak bisa membayangkan, betapa bidadari cemburu padanya.

Beda lagi cerita adik tingkat kita, ia ingin hijrah memakai jilbab, namun keluarganya tidak sepakat dengan keputusan beliau, jika di kampus ia memakai jilbab, ketika pulang ke rumah, jilbabnya dilepas paksa… karena takut beliau ikut jaringan teroris yang dibicarakan media TV. Perih ya ukh, ketika di luar sana ada orang tua yang justru mengharapkan putrinya memakai jilbab, namun sang putri lebih nikmat menjajakan auratnya untuk dilihat banyak orang…

Ada lagi ukh kisah yang dialami dari seorang ikhwah kita, beliau PPL di salah satu sekolah. Sekolah itu punya budaya bersalaman, antara murid dengan guru, guru dengan guru beserta karyawan, pokoknya semua masyarakat sekolah tersebut musti bersalaman. Bagus kan budayanya? Tapi maaf, itu campur baur (bersalaman dengan lawan jenis juga). Ketika sang ikhwah ini ingin mempertahankan prinsipnya dalam menjaga diri, menjalankan syari’ahNya untuk bersalaman dengan muhrimnya saja, apa yang terjadi? Sang penguasa sekolah tersebut bicara dengan tegasnya, ‘sekolah kami tidak akan menerima mahasiswa PPL yang tidak mau bersalaman dengan lawan jenis!’ Dan anti tau, penguasa sekolah tersebut melontarkan kalimat itu ketika upacara hari Senin saat penyambutan mahasiswa PPL, yang tentunya disaksikan oleh semua masyarakat sekolah. Kini ia terpaksa menuruti apa titah sang penguasa sekolah itu.. ia merasa seperti seorang munafik yang sangat lemah… di sana ia begitu, di sini ia begini.

Mungkin Alloh ingin menguji, seberapa besar cinta kita pada Nya dengan pengorbanan untuk merealisasikan syari’atNya…  seperti perjuangan Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi masalah besar dan bersedih, Alloh selalu menghiburnya dengan sejarah Nabi-Nabi sebelumnya. Itu seperti pesan, bahwa beliau tidak sendiri dalam perjuangannya. Ini adalah mata rantai kenabian yang panjang, menghadapi tantangan yang sama…

Tapi…Di lain sisi ukh, ada cerita dari ikhwah kita yang terkena penyakit, ya penyakit klasik yang menjangkiti seorang kader, apalagi kalau bukan Virus Merah Muda! Kenapa ya ukh, proyek musuh Alloh yang satu ini senantiasa ada dalam cerita perjalanan indah kita, lelah ana jika urusan kita masih berkutik pada problem internal! tak tergiurkah kita dengan janjiNya, yang sudah Alloh siapkan bagi mereka yang bersabar? Bersabar dalam penantian suci…   pandangan orang amah di luar sana, menjudge kita sama saja. Hem, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Semoga Alloh senantiasa menjaga izzah kita sebagai pejuang agama Nya..

Ehm, afwan ya ukhti. kalo cerita-cerita itu justru membuat anti semakin pusing atau malah kecil hati. Tapi karena hanya cerita-cerita yang ana temui di lapangan inilah, yang bisa ana berikan ke anti, dengan harapan semoga anti juga ana lebih tegar melangkah, memicu semangat, dan membuat dobrakan-dobrakan dakwah.

Ukh, tetap semangat& istiqomah ya! Jangan mundur, jangan lelah, jangan mudah kecewa, karena kita adalah pilihan Alloh untuk menjadi penerang dalam suramnya sebuah kondisi, maka mari bercahaya-lah ukh! Robbi, jagalah kami…

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan
Buah dari sabar meniti jalan,
teguh dalam barisan
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan
Berjalan lurus jauh dari penyimpangan.

*tulisan ini ana persembahkan untuk sahabat-sahabat perjuangan dalam medan dakwah, Pimpinan akhwat FPPI FKIP 2009-2010, Pimpinan akhwat Birohmah Unila 2010-2011, Team solid Komisi A Puskomnas FSLDK, KAMMI kom.Unila, kawan2 FPM2KB yang dirindu …, teman2 akhwat yang menginspirasi ana untuk belajar lebih banyak dalam hidup ini…Jazakumulloh ^^.

Categories: Lembar Kisah | 4 Komentar

Dialog Imajiner; Akhwat Luguisme dan Akhwat Bijakisme ^^

Oleh: Sufiroh

–Selepas agenda konsolidasi dan dauroh tahsin Murobbi FKIP Unila–

………………………………………………………..

Kulabuhkan diri ini di bawah pohon Pinus kecil, di bibir trotoar mushala Ulul Albab FKIP. Betapa Sang Raja Siang menampakkan kekuasaan dengan gagahnya, (ah, jauh lebih Gagah Yang Menciptanya ^^). Panasshh… shaum-ku diuji, bilakah bersedia sabar untuk Nya? insyaAlloh!!

Ingat doeloe, ketika kanak-kanak jika sedang Ramadhan di siang bolong seperti ini (apanya yang bolong? ^^), diam-diam ke dapur, meng-adem-kan diri di kulkas ^^. Ketauan ibu, tutup lagi, hoho… (hmm ibu, ingin rasanya melerai rindu ini… T.T   –jiaaah, baru aja berapa pekan bergentayangan di kampus?!!–).

Samsung GT–C3322 ini masih ku putar-putar di tangan (berpikir keras_red., iyakah? Bukannya galau sindrome_red?? ^^).

crinkk!! (seperti ada bola lampu di kepala menyala, bunyinya gitu gak y? ^^)

“Yup! Mb Zein!” (senior ADK Unila_DP Universitas 2009, sekaligus wak genk kost-an ku ^^).

Kumulai memijit tombol-tombol kecil berhuruf dan berangka di alat komunikasi itu..

“sms ah…  ^^ “

Anna   : assalamlkm. Mb, lagi ngapain? Sibuk tak?

Mb Zein    : wlkmsalam. Lagi melahap karyanya Ust.Ahmad Ar rasyid. Ono opo?

Anna    : mb …  mmm… kalau misal ada  seorang ikhwan yang ngajakin mb ta’aruf, apa jawaban pertama mb untuk menanggapinya?

Mb Zein    : Suruh ngomong ke Murobbinya (Mr. _red.) dulu.

Anna   : maksudnya Mr. ikhwannya atau akhwatnya ni?
Trus kalau kita tanya, kenapa alasannya mau ta’aruf? boleh ga?

Mb Zein : ya, suruh ngomong ke Mr. nya ikhwan itu sendiri. Urusan sama Mr. akhwat itu nanti.
Gak usah ditanya kenapa mau ta’aruf. Ngajak ta’aruf, yo jelas mau ngajak nikah..

Anna   : hehe.. y juga y, karena mau nikah…
Maksudnya, kenapa jadi pilihan?^^
ya kalau dia punya Mr.?  Kasusnya, belum tau ni ikhwan satu jama’ah dengan kita ga…?

Mb  Zein   : kenapa jadi pilihan, itu tanyanya pas waktu ta’aruf.
Kalau belum liqo, suruh liqo dulu. Kalau gak sefiqroh, ya berarti dia lagi recruitment.
Cari yang sekomandan aja. Nanti kalau beda-beda barisan, susah ngatur visi, dan gerakannya nanti malah tawur trus, karena geraknya gak kompak.

Anna   : ^^, berarti ditanya y, antum liqo ga? Nanti kalau kata ikhwannya: ‘iya’, trus akhwatnya bilang: ‘mintalah fatwa dengan Mr. antum…’. Gitu mb?

Mb Zein  : bukan minta fatwa, tapi minta pertimbangan dan mengomunikasikan dengan Mr. dulu…

Anna   : o.. y y. mmm.. jarak waktu yang syar’i antara ta’aruf dengan pernikahan, berapa lama mb?

Mb Zein : entahlah bila itu yang ditanyakan..
hey,.. kamu jadi gak, mau bantu ngisi SanLat di SMP 2 BaLam?!

Anna  : Senin, Anna masih ada dauroh mb,, piye jan?

Mb Zein  : Hmm…. Bantu cari pengganti!

Anna   : iyaaa,,, enggiieeuh.. oy mb, masi ada lagi..!
Bagaimana cara mb menolak untuk diajak ta’aruf, bila ikhwan itu tidak satu jama’ah?

Mb Zein  : bilang aja kalau tidak bersedia…

Anna    : o gitu ya? Kalau misalnya, menolak karena akhwatnya blum siap? Ahsan gak mb…?
Kan ada haditsnya yang mengatakan seperti ini kalau tidak salah; ‘bila datang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaqnya (untuk meminang),  maka nikahilah ia. Bila tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas.’
Nah, itu gimana mb?

Mb Zein  : makannya ndenger nasyid itu, jadi hobi sama Edcoustiq juga…

Anna   : mb salah kirim cmz, y? ^^

……………………………………………….
(menunggu plus tambah bingung ^^)

Anna  : mb afwan, Anna ndak faham maksud cmz mb itu…. T.T

………………………………………………
(lagi shalat mungkin, atau pending?)

Mb Zein  : tentang lama atau waktu yang efektif itu, mb kurang paham.
Ya kalau lagi berproses, untuk menjaga hati ya lebih cepat lebih baik. Asal jangan kyak lagunya Edcoustiq, “nantikan aku di batas waktu…”

Anna  : oh, hoho… ^^  tadi cmz Anna pending ya?

Mb Zein    : gak pending. Aku ngantuk. Malez mbalez…

Anna  : ieeh mb ini… ni masalah ummat. Jangan tidur dulu… !!
cmz tadi blum dibalez, menolak karena blum siap, piyeeeeee?!?!  (–kaya’ anak-anak minta dibelikan Ciki-Ciki –)

 …………………………..………………….

(udah ‘pingsan’ agaknya bliau ^^)

 

–Beberapa jam kemudian, di tempat yang berbeda ^^–

one message received…

 

Mb Zein  : nolak itu bisa karena apapun. Tapi yang lebih penting, pemahaman tentang arti bangunan Rumah Tangga ke depan itu bagaimana? dan untuk apa?
Jadi kalau sudah paham… biasanya bukan masalah umur, financial, study, dll.. tapi sekali lagi kepahaman. Maka tolak ukur siap menurut Islam itu adalah pada kepahamannya.

 …………………………………………………………..

Mb Zein  : hey ummat, aku dah bangun! Kok ndak tanya lagi…

….………………………………………… (pending)

Anna : cmznya baru masuk… afwan mb, tadi abis liqo.

Kita lanjutin diskusinya ya malam ini,  ba’da tarawih. Tapi pinginnya 4 mata ja.

Malu… @_@

*================*==============*

 

Itulah sekelumit kisah di kalangan ikhwah, sekecil apapun sebuah permasalahan, Islam menjadi pilihan untuk menemukan solusi, agar tidak tersesat dan teteup kudu’ berhati-hati… mau berkah dan ridho Nya, kan? ^^

 

Berbicara masalah pernikahan (beuugh berat, penulisnya saja belum nikah? Hoho..), prepare.com ^^… Awalnya dari niat, kata Ustadz Fauzil ‘Adhim. Karena memang Alloh selalu mengintai niat yang terbersit untuk dijadikan pertanyaan pertanggungjawaban. Juga karena Alloh meletakkan karunia balasan pada niat yang diteguhkan.

“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatannya. Dan bagi tiap-tiap orang terdapat balasan sesuai dengan niatnya… “
(HR. Bukhari&Muslim).

 

Ya,  dari niat!

Niat ketika kita berazzam untuk bersegera merenda sebuah kebersamaan suci, dalam naungan ridha Illahi. Niat ketika menetapkan kriteria-kriteria. Niat ketika kita memulai sebuah proses yang bersih, tanpa hubungan haram pacaran, tanpa interaksi yang mubadzir dan merusak hati. Niat ketika melihat calon suami atau kandidat isteri. Niat ketika menyaksikan kondisi keluarganya. Niat ketika menentukan mahar dan persyaratan. Niat ketika menyatakan persetujuan dan penerimaan. Niat ketika merencanakan hari akad dan perayaan walimah. Niat selama dalam penantian.

Niat dan niat, ketika dan ketika… ^^

 

Niat ketika mengucap ijab dan qabul. Niat di saat menerima ucapan selamat dan do’a. niat di waktu menjamu tamu. Niat di saat para tamu meninggalkan tempat. niat ketika mengucap salam dan mengetuk pintu kamar. Niat ketika berjama’ah dua raka’at pertama kalinya. Niat ketika meminum susu dari tepi gelas yang sama. Niat ketika mengajak bicara dan meneguhkan komitmen bersama. Niat ketika menyelinginya dengan canda. Niat ketika mengajaknya bermain dan tertawa.

Allahu Akbar… banyak sekali niat yang harus diteguhkan…

Lahaula wa laa quwwata illa billah…

Tolonglah kami, ya Alloh!

 

Kalau muncul pertanyaan, di jalan apa Anda menikah? Maka benarlah judul buku ustd. Pak Cah, Di Jalan Dakwah Aku Menikah. Karena, sekali lagi, rumahku adalah madrasah peradaban… ^^

insyaAlloh…

 

*diselesaikan, Sabtu 20 Ramadhan 1432 H. Pkl. 14.43 Wib. Di kost-an penuh kenangan.

Nama disamarkan, afwan jika terdapat kesamaan. ^^

tulisan ini ditulis sebagai rasa ingin tahu (jujur bangeeet ^^), juga miris melihat ada kondisi yang katanya ikhwah, namun di lapangan dalam melakukan proses ‘ini’ masih blepotan alias “tidak syar’i”. semoga tidak terjadi pada kita, saudaraku seiman..

jangan cepat puas dan lelah untuk memperoleh ilmu, Rasul SAW saja bilang, ingin masuk surga, mesti pake’ ilmu, kan?!!

Wallahu’alam bishowab… ^^

Categories: Lembar Kisah | 2 Komentar

Izinkan Aku Pacaran!

Dimuat di : Dakwatuna.Com

“ Sebenarnya Islam memperbolehkan kita pacaran gak seh, mbak? ”.

Pertanyaan klasik, sampai-sampai aku berfikir sang penanya pun pasti tahu jawabannya! Hmm… teringat tempoe doeloe (baca:dahulu kala) pertanyaan itu sempat kulontarkan beberapa kali ke orang-orang yang berbeda tentunya, (yang aku tanyain itu pak ustad, bu ustadzah, tutor ngaji, dan semotifnya loh!) dengan niat sebagai seorang hamba yang baik, maka mencari pendukung yang bisa mengizinkan ku untuk itu, ya! untuk peMErah kuku, upz… bukan guys, maksudnya menjalin kasih dengan lawan jenis (pra nikah) gitu lah! Pahamlah ya.. (kita ma’rifatul jahiliyah sedikit ^^)

Kini pertanyaan yang pernah kuajukan itu, kembali lagi padaku. “mbak, yang penting nggak sampe melakukan zina ko! Ya… “ seorang gadis yang masa pubernya baru tumbuh (mungkin), bersikeras meluluhkanku. “ boleh, “ kataku. Sontak wajah dengan senyumnya sumringah, mata yang berbinar-binar, sampai-sampai tubuh ini dipeluknya tanpa permisi, lengkap sudah ekspresi kebahagiaan itu dikeluarkan. “setelah prosesi ijab qabul di depan Penghulu.” Lanjutku mantab, kini giliranku tersenyum sambil menepuk pundaknya berkali-kali. Wajahnya berubah sedikit dengan gaya memelas amat dahsyat (Cut! Gak usah dibayangin.).

Itu kisah sekelumit pertanyaan dari adik-adik, teman-teman, bahkan senior pun pernah dialamatkan padaku. Mungkin juga kamu, yang lagi baca (kasusnya menjadi penanya atau yang ditanyain? ^^).

Benar sob! Perasaan menyukai lawan jenis itu normal bangettt. Pingin disayang sama lawan jenis juga fitrahnya kita. Tapi… Musti tepat, dan pada tempatnya. Gak megap-megap kaya’ Ikan ditaruh di daratan, berharap pingin banget menyelami air. Tersiksa kan?! Kalo baca status di FB,katanya:  “sungguh sakiiiittt hati ini… melihat dia jalan dengan yang lain di belakangku”. Gubrakkk! Kecil proyek, guys! belon tentu dia Bbuakall jadi suami/isterimu?! Siapa berani jamin?! Hah?! (Tenang..tenang.. keep cool, semangat banged yak? ^^). Ada lagi neh kasusnya, saat lagi bedua dengan sang pacar, rela nahannn buang angin (duh, maaf, tapi ini bener, kata mereka di negri antah berantah, bukan kamu kok ^^). Ee.. pas kebetulan mereka berjodoh (udah nikah), bedaaaa abizz! Gak pada tempatnya tuh dibuang. Nah sedihnya lagi, ketika sudah menikah malah membanding-bandingkan dengan sang mantan pacar dulu. Apa lagi kalo’ ada rasa CLBK (Cinta Lama Bsemi Kembali), udah nikah,Sob ! Apa gak sakit tuh hati? bukan Ayam pemiliknya, tapi kamu, manusia kan?

Belum lagi ketika di tengah perjalanan masa pacaran, sampe menyerahkan diri untuk rela…… (sensor) dengan dalih sebagai bukti cinta, na’udzubillah… Dan masih banyak sederet dampak periihhh berbekas penderitaan lainnya yang ditimbulkan. Guys, setan itu cerdik, tahu sisi lemah kita, mereka pernah janji ko’, Alloh mengabadikannya dalam QS.Al A’raf:16-17, neh…

“(Iblis) menjawab, karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” 

So, Was-Waslah! Was-Waslah!

Guys, Pacaran itu keinginan sex yang tertunda. (Let’s konsentrasi memikirkan kalimat ini! putar balik memori kamu selama ini, tarik nafas,,,tahan,,,hembuskan,,, fresh kan otakmu, tengok lagi ke kalimat tadi, -ribet.com- ^^). Kalo’ aku analogikan, ada orang  niat mau beli Mangga yang dijajakan di pasar tradisional. Mangganya dihinggapi lalat-lalat, pembelinya megang-megang Mangganya, setelah itu ada adegan diciumin tuh Mangga berkali-kali, terus sampe dikupas untuk dicicipi rasanya. Ada sesi tawar-menawar abis-abisan ke pedagangnya, setelah ‘Ok deh’ kata si pedagang, eh malah gak jadi beli tuh pembeli! Katanya Asemmm rasanya.! Ditinggal pergi aja tuh Mangga yang abis dijamah. Bisa jadi laku terbeli seh, tapi dengan harga sangat murahahhah.

Beda kalo’ Mangga yang ada di Etalase, jangan sentuh sebelum dibeli, harga tanpa tawar  karena berlabel, dan kualitas terjamin. ^^

Sob, masih ingatkah kisah cinta Nabi kita Adam as., dan Hawa? Ketika diturunkan oleh Alloh dari Surga ke dunia. Mereka awalnya dipisahkan di Bumi yang begitu luas ini dalam kurun waktu yang lama. Kemudian dengan izin Nya, mereka pun dipertemukan kembali. Dan akhirnya ada aku,,, hmm? ya, aku termasuk keturunannya… (kecuali Bung Darwin dan yang meng-amin-i teorinya, dari Monyet. Kamu? ^^)

Hemm, seperti itu pulalah kisah kita dengan nyang bakal jadi jodoh kita nanti. Saat ini kita sedang dipisahkan beberapa kurun waktu dengan pendamping hidup yang sebenarnya. Merasakah kalau ternyata sekarang sedang selingkuh dengan orang lain? Menggunakan aji mumpung, kita belum bertemu dengan tulang rusuk/sang pemilik tulang rusuk ini (maksudnya pendamping hidup! -menikah- )?

Saat ini ibaratnya kita sedang berpuasa. Menahan/memenjarakan nafsu. So, bersabarlah untuk indah itu… Akan tiba masanya bedug maghrib petanda boleh berbuka ^^. Dia pun (calon suami/isteri kita ^^) sedang ditempa, seperti kita ini. Sampai tiba masanya, Alloh mengizinkan kita siap bertemu dengannya…

Upz, ada yang nyeletuk, “ kalo’ aku sudah terlanjur pacaran, gimana? ”.  Ada 2 pilihan untukmu: segera Putuskan dengan Menikah, atau Berpisah! (demi keamanan dalam perjalanan).

“Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari Surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang- orang yang tidak beriman.” (QS.Al A’raf:27)

Selamat berjuang menjaga kehormatan diri, wahai saudaraku seiman. semoga dijumpakan dengan seseorang yang punya kualitas terbaik untuk mendampingi hidupmu, seperti kau menjaga dirimu, karena dia nanti adalah cerminan mu saat ini…

“Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Pun juga dengan laki-laki yang tidak baik hanya untuk perempuan yang tidak baik.”  Hidup adalah pilihan! Akan seperti apa gambaran hidup mu, bergantung bagaimana kau mengukirnya. Hem?

By: Sufiroh

( Kepala Kemuslimahan UKM Birohmah Universitas Lampung ‘10-’11 )

Diposting kembali ^^ (u/ mengisi blog baruku, heheu..)

*Diselesaikan hari Rabu 6 Syawal 1431 H, sambil menunggu berbuka puasa ^^. tulisan ini sebagai ungkapan rasa sayangku pada kawan, adik, kerabat, khususnya lagi adalah girls muslim di mana pun berada (karena kita adalah istimewa…). Setidaknya tulisan sederhana ini mudah-mudahan bisa menjadi pembela-ku, ketika jika kelak kau menuntut- ku di Akhirat. dengan dalih karena aku membiarkan kau terlena dengan aktivitasmu yang ‘itu’.

Teruslah mendekat, bersahabat dengan mereka yang wangi, yang mampu meluluhkan keangkuhanmu pada Nya, renungkanlah setiap perjalanan hidup ini, karena dibaliknya tersimpan hikmah/pelajaran. Semoga Alloh melembutkan hatimu, agar kita bisa bersama-sama kembali pulang kampung ke Surga, itulah tempat kehidupan kita yang kekal…  Tetap berfikir cerdas! aku mencintaimu, saudaraku.

Ya Alloh, saksikanlah… sesungguhnya aku sudah menyampaikan!

Categories: Lembar Kisah | 6 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.