Inspirasi

perpisahan, kesendirian

sndirisuatu saat kubaca tentang ‘Umar ibn Al Khaththab

adalah ia menangis,

hingga janggut hitamnya mengkilatkan air mata

ketika perbendaharaan kisra persia dihadapkan

“jika memang ini kebaikan”, begitu katanya

“mengapa ia tak terjadi di masa Rasululullah dan Abu Bakr?

ya Allah, hendakkah engkau memisahkanku

dari kedua sahabatku?”

maka begitulah ‘Umar

lelaki yang ditakuti syaithan

ia takutkan perpisahan

 

suatu saat, kubaca tentang ‘Utsman ibn ‘Affan

adalah ia, hanya menunduk dan hening ketika disebut neraka

tetapi ia menangis, bahunya berguncang

dan menutup wajah dengan kedua telapak

ketika mendengar kata kubur

“mengapa”, begitu ditanyakan padanya

dia menjawab, “andaikan pun disiksa

di neraka, kita takkan sendirian

ada banyak kawan”

***

“tapi di dalam kubur

siksa apalagikah yang lebih mengerikan

daripada kesendirian?”

itulah ‘Utsman

lelaki yang selalu berbagi

lelaki yang bashirahnya sejernih embun pagi

lelaki yang begitu menjunjung tinggi

indahnya kebersamaan, manisnya persahabatan

ia takut akan kesendirian

 

kukatakan pada diriku..

begitulah para pejuang

bahkan rasa takut mereka

adalah kepahlawanan..

-Salim A. Fillah-

 

*subuh kali ini membuka memory; merindukan I’tikaf Ramadhan kemarin, di rumah Allah brsama para shohabiah… ; Robb, jagalah aku kala dalam kesendirian.. sebab benar adanya; sendiri lebih mengkhawatirkan, karena tak ada bebas pengaruh.

(Cempedak, 26 Februari 2013; 05.00 wib)

Iklan
Categories: Inspirasi | 3 Komentar

Mendedah Kontribusi Wanita Muslim

Sejak dakwah Islam lahir pada tahun pertama kenabian, sejak saat itu pulalah peran wanita Muslim (muslimah) dimulai. Maka kita pun mendapatkan hadits kedua Imam Bukhari menjadi bukti kontribusi pertama muslimah dalam dakwah. Saat Rasulullah tiba di rumah dari gua Hira dengan pengalaman spiritualnya yang luar biasa, beliau masih dalam ketakutan. Satu hal yang wajar, sebab beliau baru saja bertemu dengan makhluk yang tidak biasa beliau lihat. Lebih dari itu beliau mendapatkan tanggung jawab besar; sebagai Nabi.

Dalam kondisi seperti itulah beliau berkata: “Zammilunii… zammilunii…” (Selimuti aku, selimut aku..). Khadijah mengerti. Ia melakukan perannya. Ia wanita pertama yang telah berhasil menyemaikan dakwah yang saat itu baru mengecambah agar tetap bertumbuh. Maka Khadijah tidak hanya menyelimuti Rasulullah agar kondisi fisiknya membaik. Lebih dari itu Khadijah memotivasi sang suami agar yakin bahwa tidak ada hal yang salah pada dirinya.

“Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.” Begitu pandainya Khadijah meyakinkan.
Tidak berhenti di situ. Khadijah juga membawa Rasulullah kepada pamannya. Waraqah sang ahli kitab. Dari sanalah keyakinan keduanya semakin mantab. Ya, Muhammad telah menjadi Nabi!

Maka sejak saat itu sejarah dakwah ditulis. Namun ia telah ditulis dengan adanya peran muslimah. Khadijah yang pertama kali percaya dan menjadi muslimah. Khadijah ummul mukminin yang memberikan langkah awal dan teladan pertama bagi kiprah muslimah berikutnya.
Kini kita hidup di era yang berbeda. Sejarah dakwah telah berusia lebih dari empat belas abad sejak muslimah pertama berperan menyokongnya. Kita kini hidup di abad modern yang memiliki karakteristik zamannya sendiri. Banyak hal yang telah berubah. Bahkan dakwah di masa modern ini pun telah disusun sedemikian rupa dalam berbagai orbit atau mihwar-nya.


Memahami Realitas Muslimah
Hal pertama yang perlu dilakukan aktivis dakwah muslimah adalah introspeksi. Introspeksi nasib kaumnya. Memahami realitas muslimah. Realitas muslimah sebagai pribadi, dalam keluarga, dan realitas masyarakatnya. Secara jujur kita akan menemukan kata kunci untuk menggambarkan realitas muslimah masa kini: lemah!

Sebagai pribadi, banyak muslimah di negeri ini yang masih mengalami kekeringan jiwa, tidak memahami tujuan penciptaannya, dan dilanda keputusasaan. Pendek kata, mereka masih jauh dari Islam.

Pada lingkungan Keluarga, secara ekonomi banyak keluarga di Indonesia yang miskin secara ekonomi dan bodoh secara pendidikan. Keduanya lalu dipertahankan oleh keluarga-keluarga baru yang terbentuk tanpa kesiapan yang memadai.

Tidak siap membangun keluarga, juga tidak siap mendidik anak-anak yang lahir nantinya. Maka kemiskinan, kebodohan, ketidaksiapan itu seperti telah menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan.

Lalu masyarakat. Ia juga tidak lebih baik dari keduanya. Karena pada dasarnya masyarakat adalah bangunan besar dari keluarga-keluarga yang tentu saja terdiri dari individu-individu. Di antaranya adalah muslimah, yang bahkan menjadi unsur terbesar pembentuk masyarakat. Realitasnya, masyarakat kita saat ini telah terserang berbagai penyakit. Mulai dari individualisme, hedonisme, sekuler, sampai pornografi.

Realitas yang demikian, bagi aktivis dakwah muslimah, seharusnya menjadi pemicu dan tantangan tersendiri untuk meningkatkan kontribusinya dalam memperjuangkan Islam. Realitas ini (yang jika dipahami dengan baik) akan mendorong semakin kuatnya azzam untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Akan menjadi landasan; mengapa muslimah harus berkontribusi?

 

Tahapan dalam Amal atau Kontribusi

Islam merupakan agama yang melingkupi seluruh aspek kehidupan (syamil mutakamil). Maka kita akan mendapatkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan ini Islam telah menyediakan aturannya; ada yang bersifat umum ada yang detail. Pada saat Islam diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan itulah maka peradaban Islam yang gemilang akan terwujud.

Sementara kini, dakwah tengah berjalan menuju ke sana. Ada banyak konsep dalam tiap gerakan dakwah yang ditawarkan lalu menjadi manhaj perjuangannya masing-masing. Namun, kebertahapan adalah sebuah sunnatullah yang bisa didapatkan intisarinya dalam Al-Qur’an dan hadits. Mungkin pencapaiannya akan terasa lama. Tetapi inilah cara yang efektif dan ditemukan dari dua pusaka Islam tersebut. Formulasi tahapan perjuangan seperti ini disebut Hasan Al-Banna sebagai maratibul amal (Tahapan dalam Amal).

  1. Perbaikan Diri Sendiri (Islahun Nafsi)

Wanita Muslim harus serius dalam melakukan siyasatun nafs, yaitu bagaimana agar unsur dalam diri dapat mengendalikan unsur dalam diri lainnya.

Potensi taqwa mengendalikan potensi fujur. Potensi kebaikan mengalahkan potensi keburukan. Lalu ia berkontribusi dalam upaya memperbanyak muslimah lain melakukan ishlahun nafsi pula, dengan cara : pertama, menjadikan diri sebagai teladan. Kedua, menginspirasi orang-orang terdekat, baik keluarga, saudara, sahabat atau teman untuk melakukan ishlahun nafsi. Ketiga, berusaha tetap istiqamah dalam memperbaiki dirinya dan mengajak orang terdekat untuk melakukan hal yang sama. Proses ini harus terus dilakukan hingga kematian menghentikan.

2. Membina Rumah Tangga Islami (Bait al-Muslim)

Bagaimana agar muslimah bisa mengatur rumah tangga, sementara suami tetap pemimpin dalam keluarga. Maka kontribusi muslimah mewujud dalam bentuk; menjadi istri yang shalihah, menjadi anak yang shalihah bagi orang tuanya, menjadi ummi madrasah bagi anak-anaknya, yang mampu menjadi teladan bagi mereka serta menjalankan peran taurits (pewarisan), baik pewarisan ideologi, cita-cita, dan kebaikan.

  1. Membentuk Masyarakat Islami (Irsyad Al-Mujtama’)

kontribusi muslimah yang perlu dilakukan adalah menjadi daiyah dengan pemahaman metode dan fiqih dakwah yang baik, berkhidmah melalui profesi dan keilmuan di bidangnya untuk kemajuan masyarakat, dan peduli serta terlibat dalam upaya penyelesaian problem-problem pokok masyarakat terdekat. Mungkin tidak semua muslimah berkesempatan melakukan semua kontribusi itu. Misalnya dalam keilmuan dan profesi. Ini terutama bagi muslimah yang diamanahi profesi tertentu. Bukan berarti muslimah yang “profesi”-nya sebagai ibu rumah tangga kurang kontributif. Bukan.

Semua sesuai dengan level dan kemampuan masing-masing. Namun, dalam level apapun, muslimah harus mengukir tinta emas dalam kehidupannya.

  1. Membebaskan negeri muslim dari penjajahan asing (Tahrirul Wathan)

Muslimah bisa memberikan kontribusinya dalam bentuk pembelaan atas setiap jengkal tanah kaum muslimin yang terzalimi dan berkontribusi dalam mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Tentu dalam kontribusi ini tidak otomatis sama dengan peran lelaki muslim (ikhwan). Namun ia tetap memiliki komitmen dan kontribusi, sebagaimana muslimah Palestina yang menanamkan jiwa jihad dalam diri anak dan suaminya, bahkan ada sebagiannya yang turut langsung terjun ke medan jihad melawan penjajah Israel.

5. Memperbaiki pemerintahan (Islahul Hukumah)

Muslimah harus menggunakan hak-hak politiknya dalam memperbaiki pemerintahan. Apalagi fakta berbicara bahwa wanita adalah pemilih terbesar yang otomatis jumlah suaranya lebih menentukan siapa yang berhak menjadi pemerintah. Setingkat lebih tinggi dari itu adalah peran muslimah untuk turut melakukan pendidikan politik (tarbiyah siyasiyah) dan advokasi kepada masyarakat agar sadar politik dan tergerak melakukan perbaikan. Lebih besar lagi tanggungjawabnya di bidang ini, adalah ketika muslimah berperan aktif dalam ranah publik dan politik. Tentu ini membutuhkan kesiapan yang lebih besar pula.
6. Menegakkan Negara Islam (Siyasatu Ad-Daulah)

Ada dua kaidah penting yang dikemukakan Ikhwan. Pertama, prinsip umum emansipasi antara laki-laki dan perempuan, bahwa muslimah memiliki peran yang tidak bisa dilakukan laki-laki, baik itu dalam pengurusan rumah tangga maupun pendidikan anak. Sedangkan dalam politik, sebagaimana wanita bukanlah jenis kelamin di bawah laki-laki, ia pun memiliki hak politik yang setara, dan berhak menempati posisi sebagai legislatif dan jabatan-jabatan kepemimpinan tertentu. Maka dalam maratibul amal ini, kontribusi muslimah bisa mewujud dalam kontribusi di berbagai organisasi dan lembaga profesi, birokrat, termasuk legislatif. Intinya; muslimah perlu berkontribusi semampunya, mengoptimalkan potensi-potensinya dengan tetap mengambil jalan keseimbangan dan keadilan bagi peran-perannya.
7. Islam sebagai pusat peradaban dunia (Ustadziyatu Al-Alam)

Muslimah pun tetap dituntut kontribusinya. Pada tahapan inilah ditegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama ini hanya menjadi milik Allah.

Karakter Wanita Muslim

 

Sedikitnya ada 5 karakter yang dibentuk pada seorang muslimah. Karakter itu antara lain:

Pertama, Bertaqwa.

Kedua adalah sejahtera, menyangkut aspek; ekonomi, kemananan fisik dan kenyamanan psikologis.
Ketiga, cerdas. Menuntut muslimah membekali akalnya dengan hakikat yang benar, makna hidup terbaik, dan pengetahuan yang benar. Muslimah juga harus membekali akal pikirannya dengan sejarah Islam dan berbagai pengetahuan modern.
keempat adalah berdaya. Sehingga muslimah bisa memberikan kemanfaatan kepada diri, keluarga, masyarakat dan negaranya secara seimbang.

Kelima, berbudaya. Yakni dengan mewarnai budaya yang sudah ada agar menjadi islami dan mengembangkan iklim budaya yang lebih kondusif bagi muslimah untuk memuliakan harkat dan martabatnya.

Selamat berkontribusi saudari Muslim-ku, semoga Alloh ridho bahwa generasi Rabbani penerus dakwah kelak lahir dari rahim & tangan kita; untuk Islam.

Referensi:

Zarkasyi, Sumaryatin. 2010. Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah. Solo:Era Adicitra Intermedia.

*diselesaikan  di Dahlia, 8 Oktober 2012 membersamai Hijjaz – Khadijah. 20.05 wib

Categories: Inspirasi | Tinggalkan komentar

Ukhuwah adalah Bermasalah

Selama ini, ketika membaca sirah, yang kita bayangkan seolah-olah di antara RasuluLlah dan para sahabatnya tidak ada masalah-masalah yang pelik dalam soal ukhuwah. Padahal pernahkah kita membayangkan situasi ketika kita suatu saat, berada pada keadaan di mana orang yang paling kita cintai berdiri di hadapan kita untuk membela dan melindungi orang yang paling kita benci?? Itulah yang terjadi pada Muhammad saw ketika terjadi Fathul Makkah.

Ada di antara seorang Quraisy bernama AbduLlah bin Abi Sarh, seorang yang pernah masuk Islam. Namun, begitu masuk Islam karena kecerdasan dan kebaikannya, oleh Nabi saw, dia diangkat untuk menjadi penulis wahyu. Sayangnya, baru menulis beberapa ayat dari Al Quran, lalu dia murtad (keluar dari Islam) dan melarikan diri kembali ke Mekkah. Lalu, di Mekkah dia membocorkan seluruh detail pertahanan Madinah, hingga dia memprovokasi sebuah perang yang tidak akan dilupakan oleh seluruh penduduk Madinah karena betapa payahnya mereka menghadapi itu. Sebuah perang total yang dilancarkan oleh orang-orang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan, yaitu perang Ahzab. Inilah provokatornya, AbduLlah bin Abi Sarh.

Maka ketika terjadi Fathul Makkah, RasuluLlah memerintahkan dengan tegas: “Siapapun yang bertemu dengan AbduLlah bin Abi Sarh, dimanapun dia bahkan meskipun bergantung di atas Ka’bah, bunuh.” Sebab dosanya tidak terampunkan, sebab kesalahannya kepada kaum muslimin tidak bisa ditolerir.

Akan tetapi, inilah AbduLlah bin Abi Sarh, dia bersembunyi di satu tempat. Lalu, ketika rombongan kaum muslimin lewat, dia cari dengan teliti dimana saudara sepersusuannya yang tak lain saudara sepersusuannya adalah Utsman bin Affan ra. Setelah diketemukan, dia pun berlari mendekat ke arah Utsman, menggandeng tangannya, dan kemudian mengatakan kepada Utsman: “Demi Allah, hai Utsman, aku telah menggandeng tanganmu, maka demi Allah, aku berharap engkau bisa menyelamatkan nyawaku atas nama persaudaraan yang ada diantara kita.”

Kita tahu semua, Utsman bukan orang yang tega hati. Maka, permintaan saudara sepersusuannya itu akan dia kabulkan. Dengan amat sangat berat, gemetar, dan berkeringat dingin, Utsman membawa AbduLlah bin Abi Sarh menghadap RasuluLah saw. Dan Utsman bicara terbata-bata: “Ya RasuluLlah, aku memohonkan kepadamu untuk pengampunan bagi AbduLlah bin Abi Sarkh dan demi Allah aku melindunginya, ya RasuluLlah.”

Inilah Utsman, seorang yang paling dicinta oleh RasuluLlah saw, seorang yang, bahkan karena betapa sayangnya RasuluLlah kepada Utsman, diambil menantu pun sampai dua kali. Karena sayangnya RasuluLlah kepada Utsman, ketika Utsman dikabarkan terbunuh dalam peristiwa Hudaibiyah, beliau ulurkan tangannya: “Ini tangan Utsman, siapa berbaiat kepadaku untuk Utsman?” Dan hari ini, Utsman berdiri di hadapannya melindungi orang yang namanya AbduLlah bin Abi Sarh, orang yang paling dibenci oleh kaum Muslimin pada umumnya.

Terdiam RasuluLlah, tidak berbicara, tak ada kata sama sekali. Panjang hening itu, sampai andaikan ada sehelai rambut jatuh, pasti terdengar salah seorang di antara sahabat. Hening sekali. sampai akhirnya, setelah beberapa lama kemudian RasuluLlah menundukkan kepala dan mengatakan “Iya.” Lalu, Utsman bergegas untuk membawa AbduLlah bin Abi Sarkh ke tempat yang aman. Ba’da itu, RasuluLlah bersabda: “Andai saja tadi ada di antara kalian yang maju dan memenggalnya. Sesungguhnya aku telah berdiam lama agar ada di antara kalian yang maju dan memukul tengkuknya.” Salah seorang dari kaum Al-Anshar berkata: “Mengapa engkau tidak memberi isyarat kepada kami ya RasuluLlah?” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Nabi tidaklah berkhianat meski hanya dengan isyarat!”

Ada situasi-situasi yang tidak mudah di dalam sebuah kehidupan ukhuwah para sahabat dan bahkan dengan RasuluLlah. Bukan hanya Utsman, kita ingat seseorang yang bernama Thalhah bin UbaidiLlah. Seorang yang mempersembahkan tubuhnya untuk menjadi perisai bagi tubuh RasuluLlah saw. Dia tak rela secercah pun kulit beliau terluka. Sedangkan Thalhah sendiri memiliki 70 luka yang mendera tubuhnya akibat tusukan tombak, hunjaman anak panah, serta sabetan pedang. Bahkan, dua jarinya hilang dan lutut bagian bawahnya tertebas sehingga seumur hidupnya Thalhah akan agak terpincang ketika berjalan. Ketika luka itu mengalirkan darah maka doanya kepada Allah adalah: “Rabb, khudz biddaamii hadzal yaum hatta tardho. Ya Allah, ambil darahku hari ini sampai Engkau ridho.” Dan ketika selesai perang, RasuluLlah dengan menitik air mata pun tersenyum melihat Thalhah berjalan tertatih-tatih, kata Nabi: “Barangsiapa ingin melihat syuhada (orang yang mati syahid) yang berjalan di muka bumi, maka hendaklah ia melihat Thalhah bin Ubaidillah.” Bahkan jika Abu Bakar mengingat Perang Uhud, beliau selalu berkata: “Hari itu adalah milik Thalhah.” Tetapi, semua pahlawan punya ceritanya sendiri. Antara Nabi saw dengan Thalhah ra bukan berarti tidak ada masalah. Dan masalah itu terjadi justru di saat-saat yang sangat genting, di penghujung risalah.

Pada suatu hari, Thalhah bin UbaidiLlah ra, demikian diceritakan Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam Lubabun Nuqul fi Asbabun Nuzul, sedang berbincang akrab dengan sepupunya, Aisyah ra. Berbincang ia dengan sepupunya yang tak lain ialah istri RasuluLlah, lalu RasuluLlah ketika itu pulang dan melihat mereka berbincang. Terbitlah seketika sesuatu yang sangat manusiawi pada diri beliau, cemburu, sebagai seorang suami. Lantas RasuluLlah memerintahkan agar Aisyah masuk. Apa kata Thalhah ketika itu? Gumamnya dalam hati: “Beliau melarangku berbincang dengan Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar Aisyah.”

Pulanglah Thalhah dan kalimat itu sampai ke telinga Umar bin Khattab (karena Thalhah pernah mengungkapkan maksud tersebut kepada kawan). Maka, Umar mendatangi RasuluLlah dan berkata: “Wahai Rasulullah, telah masuk ke tempatmu orang yang baik dan jelek, alangkah baiknya kalau seandainya engkau memerintahkan kepada istri-istrimu untuk memasang hijab (tabir) dari mereka.”

Hal ini adalah masalah di antara aktivis-aktivis dakwah yang paling puncak surganya: RasuluLlah, Thalhah, dan Umar. Maka kelak Umar akan mengenang: “Aku menetapi keputusan Rabbku dalam tiga perkara, dan di antaranya adalah tentang hijab.” Karena belum Umar selesai bicara, ayat ke-53 surat Al Ahzab turun kepada RasuluLlah. Dan kemudian RasuluLlah membacakannya sehingga Umar merasa sangat lega, karena ayat itu mengatakan:

“Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Di satu sisi, ketika ayat itu disampaikan kepada Thalhah bin UbaidiLlah ra, beliau menangis sesenggukkan. Luar biasa sakit dan sembilu di hati beliau. Betapa menyesalnya beliau atas kata-katanya, lalu beliau bebaskan dua budaknya, beliau sedekahkan 10 untanya, dan beliau berangkat untuk menebus kesalahan dengan umrah jalan kaki ke Mekkah. Namun, apa yang paling memilukan? Ketika Thalhah pulang dari umrah, RasuluLlah sudah wafat. Alangkah terbebannya beliau, ketika RasuluLlah wafat tanpa beliau hadir, dan ketika beliau belum menuntaskan satu masalah yang terjadi di antara mereka. Sakit sekali.

Kemudian, inilah yang dimanfaatkan oleh Ali bin Abi Thalib untuk nanti saat Waq’atul Jamal membangun perdamaian: “Hai Thalhah, datanglah ke kemahku. Aku rindu saat-saat dimana kita mengayunkan pedang bersama di sisi RasuluLlah. Kenapa hari ini kita saling berhadapan? Datanglah, aku rindu.”

Begitu Thalhah datang, Ali menghadap ke arah dinding sambil berkacak pinggang, kemudian dengan sangat merdu membaca Al Qur-an surat Al Ahzab ayat ke-53. Thalhah terisak. Dadanya bergemuruh oleh malu dan sesal. Bahu kekarnya bergeletar.

Ali menepuk bahu Thalhah. “Ya”, katanya sambil mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat tercabiknya batin Thalhah oleh kata-katanya. Tapi demi perdamaian dan persatuan kembali kaum Muslimin, Ali mau tak mau harus mengatakan ini. Ia menguatkan hati. “Ayat itu turun karena maksud hati dan ucapanmu untuk menikahi Aisyah.”

Ali meraba reaksi Thalhah. Lalu Ia melanjutkan sambil menatap tajam pada sahabatnya itu. “Dan kini sesudah beliau saw benar-benar wafat, mengapa engkau justru membawa Aisyah keluar dari hijabnya dan mengajaknya mengendarai unta dan berperang di sisimu?”

Thalhah menubruk Ali, memeluk dan menangis di bahunya. Hari itu mereka sepakat berdamai dan menyudahi perang saudara. Dan di hari itu pula, sepulang dari kemah Ali, Thalhah, bersama Az Zubair sahabatnya dibunuh oleh orang-orang yang tak menghendaki perdamaian. Dan Ali ibn Abi Thalib dengan duka yang begitu dalam, sore itu, menggali kubur untuk kedua cintanya.

Begitulah, berukhuwah adalah bermasalah. Hanya saja, meskipun ada masalah-masalah itu, kita tetap berpeluk dan berdekap, dalam dekapan ukhuwah, menuju ufuk kebaikan tertinggi.

Sabtu, 8 September 2012; Cengkeh.

Referensi:

Dalam Dekapan Ukhuwah: ust. Salim A. Fillah

 

Categories: Inspirasi | Tinggalkan komentar

Mengapa Harus Satu Juz Setiap Hari?

“Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an
minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar
jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”
(Hasan al-Banna dalam Majmuatur Rasail –risalah pergerakan- )

Saudaraku, sadarkah kita bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada manusia agar menjadi sumber tazwid (pembekalan) bagi peningkatan ruhiy (spiritualitas), fikri (pemikiran) serta minhaji (metodologi da’wah) ? Sehingga jika sehari saja kita jauh dari al-Qur’an, berarti terputuslah dalam diri kita proses tazwid tersebut? Sadarkah kita bahwa yang akan terjadi adalah proses tazwid dari selain wahyu Allah; baik itu dari televisi koran, majalah, maupun yang lainnya yang sesungguhnya akan menyebabkan ruh yang ringkih dan keyakinan yang melemah terhadap fikroh dan minhaj ? Padahal tiga unsur ini sesungguhnya menjadi sumber energi untuk berdakwah dan berharokah. Sehingga melemahlah semangat beramal saleh dan hadir dalam halaqoh, padahal halaqoh merupakan pertemuan untuk komitmen beramal saleh.
Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau proses tazwid itu telah terputus sepekan, dua pekan, bahkan berbulan-bulan. Semoga Allah menjaga kita dari sikap menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang mahjuran (ditinggalkan).

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورً
Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang ditinggalkan “. (Q.S. Al-Furqan ayat 30)

Sesungguhnya ibadah tilawah satu juz ini sudah tertuntut kepada manusia sejak dia menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, cukup banyak orang-orang yang tanpa tarbiyah atau halaqoh, namun memiliki komitmen tilawah satu juz setiap hari, sehingga setahun khatam 12 kali (bahkan lebih, karena saat bulan Ramadhan dapat khatam lebih dari sekali).

Lalu, bagaimana dengan kita, ashhabul (aktifis) harokah wad da’wah ? Sudahkah keislaman kita membentuk kesadaran iltizam (komitmen) dengan ibadah ini ? Ketika kita melalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah dha’ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan karena tidak mampu melafalkan ayat-ayat al-Qur’an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus dibentuk dalam hal ini bukanlah hanya sebatas mampu membaca, namun lebih dari itu, bagaimana membentuk kemampuan ini menjadi sebuah moralitas ta’abbud (penghambaan) kepada Allah, sehingga hal ini menjadi sebuah proses tazwid yang berkesinambungan sesuai dengan jauhnya perjalanan da’wah ini !

Dari sini kita menjadi faham, bahwa ternyata tarbiyah adalah sebuah proses perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lakukan. Semoga belum mampunya kita dalam beriltizam dengan ibadah ini adalah karena masih sedikitnya jarak yang kita tempuh. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan proses tarbiyah, dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah ini. Dan sekali-kali janganlah kita menutupi ketidak mampuan kita terhadap ibadah ini dengan berlindung di bawah waswas syaithan dengan bahasa sibuk, tidak sempat, acara terlalu padat dan lain sebagainya.

Sadarilah bahwa kesibukan kita pasti akan berlangsung sepanjang hidup kita. Apakah berarti sepanjang hidup kita, kita tidak melakukan ibadah ini hanya karena kesibukan yang tak pernah berakhir ?

Kita harus berfikir serius terhadap tilawah satu juz ini, karena ia merupakan mentalitas ‘ubudiyah (penghambaan), disiplin dan menambah tsaqofah. Apalagi ketika kita sudah memiliki kesadaran untuk membangun Islam di muka bumi ini, maka kita harus menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan ini. Al Ustadz Asy Syahid Hasan Al-Banna Rahimahullah begitu yakinnya dengan sisi ini, sehingga beliau menjadikan kemampuan membaca al-Qur’an satu juz ini sebagai syarat pertama bagi seseorang yang berkeinginan membangun masyarakat Islam.

Dalam nasihatnya beliau mengatakan, “Wahai saudaraku yang jujur dengan janjinya, sesungguhnya imanmu dengan bai’at (perjanjian) ini mengharuskanmu melaksanakan kewajiban-kewajiban ini agar kamu menjadi batu bata yang kuat, (untuk itu) : “Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”

Sebagaimana kita saat melakukan hijrah dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islamiyah harus banyak menelan pil pahit selama proses tarbiyah, maka jika kita sudah ber’azam (bertekad) untuk meningkat kepada kehidupan yang ta’abbudi (penuh nilai ibadah), maka kita harus kembali menelan banyak pil pahit tersebut. Kita harus sadar bahwa usia dakwah yang semakin dewasa, penyebarannya yang semakin meluas dan tantangannya yang semakin variatif sangat membutuhkan manusia-manusia yang Labinatan Qowiyyatan (laksana batu bata yang kuat). Dan hal tersebut kuncinya terdapat di dalam interaksi dengan al-Qur’an !

Sebuah proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi hati dan jiwa yang semakin bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-Qur’an mengalami proses peningkatan. Sejarah mencatat bahwa para sahabat dan salafusshalih ketika mendengar Rasulullah SAW bersabda, “bacalah al-Qur’an dalam satu bulan”, maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang minimal.

Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal ! Maka tugas yang sangat minimal inipun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah) ?

Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan al-Qur’annya dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Jadi, jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Maryam, misalnya.
Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan al-Qur’an. Berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari al-Qur’an !

Kalau saja tarbiyyah qur’aniyyah kita telah matang, kita akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran. Begitu juga beda antara an-Nisaa, al-Maidah dengan surat yang lainnya. Sehingga ketika seseorang sedang membaca an-Nisaa, pasti dia akan merindukan al-Maidah. Inilah suasana tarbiyyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Kita harus waspada, jangan sampai hidup ini berakhir dengan kondisi kita melalaikan ibadah tilawah satu juz. Sehingga hidup berakhir dengan kenangan penyesalan. Padahal sesungguhnya kita mampu kalau saja kita mau menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyyah ini.

Kiat Mujahadah dalam Bertilawah Satu Juz
1. Berusahalah melancarkan tilawah jika Anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Jika lebih dari itu, Anda harus lebih giat berusaha melancarkan bacaan. Jika melihat durasi waktu di atas, sangat logis untuk melakukan tilawah satu juz setiap hari dari waktu dua puluh empat jam yang kita miliki. Masalahnya, bagaima kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya.

2. Aturlah dalam satu halaqah, kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. Kiat ini terbukti lebih baik daripada ‘iqob (hukuman) yang terkadang hilang ruh tarbawi nya dan tidak menghasilkan mujahadah yang berarti.

3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan ! Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur’aniyyah di dalam diri kita.

4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah yang memiliki al-Qur’an ini. Pengaduan kita kepada Allah yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.

5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang llain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah. Jika kita saat ini sering berbicara tentang ri’ayah maknawiyyah (memperkaya jiwa), maka sesungguhnya pesan Imam Syahid ini adalah cara me- ri’ayah maknawiyyah yang paling efektif dan dapat kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Ditinjau dari segi apapun, ibadah ini harus dilakukan. Bagi yang yakin akan pahala Allah, maka tilawah al-Qur’an merupakan sumber pahala yang sangat besar. Bagi yang sedang berjihad, dimana dia membutuhkan tsabat (keteguhan hati), nashrullah (pertolongan Allah), istiqomah, sabar dan lain sebagainya, al-Qur’an tempat meraih semua ini. Kita harus serius melihat kemampuan tarbawi dan ta’abbudi ini, agar kita tergugah untuk bangkit dari kelemahan ini,

Kendala yang Harus Diwaspadai
1. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca al-Qur’an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada al-Qur’an.

2. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca al-Qur’an. Sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca al-Qur’an.

3. Tidak memiliki waktu wajib bersama al-Qur’an dan terbiasa membaca al-Qur’an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah al-Qur’an.

4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah agar dimudahkan tilawah al-Qur’an setiap hari. Materi do’a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.

5. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah al-Qur’an ini. Rasulullah bersabda, “Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya.”

6. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan al-Qur’an. Padahal menghidupkan majlis-majlis al-Qur’an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan al-Qur’an.

Akibat dari Tidak Serius Menjalankannya
1. Sedikitnya barokah dakwah atau amal jihadi kita, karena hal ini menjadi indikasi lemahnya hubungan seorang jundi pada Allah. Sehingga boleh jadi nampak berbagai macam produktivitas dakwah dan amal jihadi kita, namun dikhawatirkan keberhasilan itu justru berdampak menjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Kemungkinan yang lain, bahkan lebih besar, adalah tertundanya pertolongan Allah SWT dalam amal jihadi ini. Kalau jihad salafusshalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunnah bersiwak (menggosok gigi), apalagi karena meninggalkan suatu amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu ? Oleh karena itu, masalah berinteraksi dengan al-Quran selalu disinggung dengan ayat-ayat jihad, seperti surat al-Anfaal dan al-Qitaal

3. Terjauhkannya sebuah asholah (keaslian/orisinalitas) dakwah. Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah dakwah bil qur’an. Bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah bil qur’an kalau interaksi kita dengan al-Qur’an sangat lemah ?
Bahkan sampai tak mencapai tingkat interaksi yang paling minim, sekedar bertilawah satu juz saja ?

4. Terjauhkannya sebuah dakwah yang memiliki jawwul ‘ilmi (nuansa keilmuan). Hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat yang sumber utamanya dari al-Qur’an. Maka minimnya kita dengan pengetahuan ke –al-Qur’an- an akan sangat berdampak pada lemahnya bobot ilmiyyah diniyyah (keilmuan agama) kita. Dapat dibayangkan kalau saja setiap kader beriltizam dengan manhaj tarbiyyah yang sudah ada. Lebih khusus pada kader senior. Pasti kita akan melihat potret harokah dakwah ini jauh lebih cantik dan lebih ilmiyyah.

5. Terjauhkannya sebuah dakwah yang jauh dari asholatul manhaj. Bacalah semua kitab yang menjelaskan manhaj dakwah ini. Khususnya kitab Majmu’atur rosail (diterjemahkan oleh Ustadz Anis Matta dalam bahasa Indonesia dengan judul “Risalah Pergerakan”) ! Anda akan dapatkan begitu kental dakwah ini memberi perhatian terhadap interaksi dengan al-Qur’an. Tidakkah kita malu ber-intima’ (menyandarkan diri) pada dakwatul ikhwah, namun kondisi kita jauh dari manhaj-nya ?

Semoga kita tergugah dengan tulisan ini, agar kita lebih serius lagi melaksanakan poin pertama daripada wajibatul akh (kewajiban aktifis muslim) ini.

Oleh:

Al-Ustadz Al-Hafidz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.

Categories: Inspirasi | Tinggalkan komentar

Testimoni Wisuda Saya ^^

dipaksa foto… -_- (lg ngantuk-ngantuknya…)

Berikut beberapa testimoni, wisuda saya; 19 Juni 2012.

Maha Suci Alloh, yang memudahkan segala urusan bagi hamba-Nya… ^^

 

Sukses ya ananda Sufiroh…

insyaAlloh kita bisa berjumpa lagi…

#Dr. Wini Tarmini – Dosen Pembahas#

 

Sejatinya sebuah pencapaian adalah sebuah tambahan beban.

Cupi, pencapaian S.Pd. nya artinya beban baru dan amanah baru lagi…

Baiklah, mari bekerja untuk Indonesia agar menjadi lebih baik!!

Bersungguh-sungguh karena Nya, membangun pribadi dan bangsa tidak ada yang lain melainkan hanya dengan kesungguhan. Sebuah taujih semoga bisa menjadi penyemangat; (dengan haru & optimis)

“bekerja / beramal agar Indonesia menjadi lebih baik memang melelahkan, lelah pikiran, lelah fisik, lelah hati, bahkan bisa jadi membutuhkan pengorbanan; harta, waktu, dan bahkan jiwa. Tetaplah mengangkat ‘pedang & menggenggam Al Qur’an’ hingga Islam tegak di bumi Timur dan Barat, membentang kibar kilau panjinya. Berawal dari titik awal di sebuah negeri di sini, INDONESIA.

Bekerjalah! Alloh, Rasul, & orang –orang beriman yang menjadi saksi.

Bersama Alloh, akan selalu ada solusi.”

#Mb Sri Mulyawati, S.E.#

 

Assalmu’alaikum..

Kami dari halaqoh catiqiyah (Ayu & Tesa, S.E.) mengucapkan barakallah atas S.Pd. nya yang telah diperoleh. Semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat dunia & akhirat.

(Ayu) : Sufi itu orangnya…. Apa ya?? Finally Suf, u keluar juga ya dari Unila! Dapet peringkat terbaik pula se-Fakultas… cie.. 3x

(Tesa) : subhanallah ya bu, sukses di organisasi juga sukses akademiknya… wish u all d’best dah…

#Ayu Mustika S.E & Tesa, S.E.#

 

Bismillah..

Barakallah mba Sufiroh, S.Pd., sebuah tantangan baru dengan embel-embel di belakang namamu. Semoga keberkahan di detiap langkahmu dan selalu menebar kebaikan.

Teruslah berkarya dengan segala kemampuanmu.

Mba Sufi, jazakillah khoir telah mengajarkanku banyak hal dan mengenalkan dengan dakwah ini yang mengantarkanku berhijrah dari kejahiliahan.

#Zahra#

 

Cupiiiiiiiiiiii (tahan nafas) ^_^

Barakallah fi ilmy…

Semoga bisa menjadi sarjana ‘tarbiyah’ sesungguhnya. Mida lebih bahagia Sufi bisa bekerja & berkarya sesuai ilmunya.

Mantapkan langkahmu, menatap masa depan!!!

#Khamida Khairani#

 

Cupiloh jelek!!! ^_^

Selamet ya, cinta… akhirnya lulus juga.. hehe..

Sukses ya, cinta.. semoga menjadi guru SD IT yang baik, hingga sukses menjadi guru bangsa…

Barakallah sudah menjadi wisudawan FKIP terbaik pertama.

Semoga ilmu yang dimiliki bermanfaat bagi ummat..

BTW, saya suka tulisan-tulisanmu..

Dibukuin ya, entar saya beli… hohoho…

#Yuni Haryati#

 

Bismillah..

Barakallah mba Sufi, semoga segala ilmu yang didapat bisa memberikan kebermanfaatan yang banyak bagi ummat ini.

Barakallah bu kader KAMMI..

Semoga dengan selesainya masa studi di Unila tidak dijadikan sebagai satu landasan untuk menyelesaikan pengkaderan…

Tetaplah mengkader ya mba, supaya KAMMI rame… ^_^

#Sekretaris Biro Kesekretariatan KAMMI Unila 2012#

 

Mbak Cupi…

Barakallah mba, akhirnya kelar juga kuliahnya…

Semoga ilmunya bermanfaat, mba.

“maju adalah jalan terbaik, dan berkarya adalah hal terindah.”

Selamat berkarya, yundaku..

Semangat mengkader!

#Ely Ulfa – abid Kaderisasi KAMMI Unila 2011#

 

Mb Cupy… barakallah ya… ^_^

Perjuangan untuk mendapatkan skripsi ini semoga menjadi pengalaman unik untukmu, pengalaman yang ‘kan membawamu mengalami kehidupan baru sebagai seorang S.Pd. yang akan lebih banyak rintangan yang akan menghalangimu.

Afwan jidan ya jika selama ini, aku Nanik Susanti Pravitasari, pendidikan Kimia 2009 FKIP Universitas Lampung, tak banyak memberikanmu pengalaman indah, namun smoga yang tak banyak itu selalu kau kenang.

Teruslah berkarya wahai mujahidullah… semoga Alloh mempertemukan kita di syurga Nya dan membuat istana Edelweis yang lebih indah di sana…

#your sister; Vita D’Ijhoe#

 

Mba cupi..

Selamet yaw, akhirnya kelar juga dan kelar juga dan keluar dari Unila. Selamat juga atas prestasinya terbaik FAKULTAS..

Semoga segala ilmu yang dimiliki bermanfaat… semangat berburu kader, jangan sampe surut..

Tetap semangat.

Bergerak, Tuntaskan Perubahan!

#Nurul Hidayati#

 

Mb Sufi, aku bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata-kata indah nan puitis, namun goresan tangan ini lahir dari dalamnya hati.

Barakallah ya mb Sufi, akhirnya nama mb Sufi sudah bisa tertulis di buku tebal hard cover warna ungu ini, semoga Alloh senantiasa memberkahi  ilmu yang yang mb Sufi peroleh, dan ilmunya senantiasa bermanfaat untuk ummat, biar gak Cuma bidang Kajian Islam aja yang untuk ummat.

Afwan ya mb, jika selama ini senantiasa ada perbedaan di antara kita sehingga mungkin terselip luka, tapi tanpa perbedaan itu Edelweis tak akan terasa indah.

Lihat saja pelangi, akan indah jika warnanya berbeda, dan baru disebut pelangi kalau warnanya berbeda. Dan memang tak selamanya perbedaan itu harus disamakan, tapi yang perlu adalah saling memahami. Mungkin masa studi bisa berakhir, tapi dakwah tidaklah berakhir di sini.

#Martini#

 

Cupi… iroh.. ^_^

Barakallah fi ilmi..

Semoga menjadi sarjana pendidikan ‘tarbiyah’ yang istiqomah. Bekerja & berkaryalah sebagai seorang pengajar sejati yang mendidik generasi Islam ke depan.

Teruslah bergerak, hingga lelah itu akan lelah mengikutimu.

Fighting! Fighting! Fighting!

#Ulfah-Mba; Ndut# ^_^

 

Assalamu’alaikum mba mu…ngil ^_^

Mbak Sufi baraakallah ya sudah dapat gelar S.Pd. nya.

Hmm, jangan berhenti di sini ya mbak! Di luar sana, tarbiyah-tarbiyah yang lain telah menunggu, dan semoga mba Sufi dapat melanjutkan S2 dan S3 nya (doakan Ima juga ya mba).

Oya, nanti kalau sudah mengajar, semoga mba Sufi disayang sama murid-murid & menjdai guru teladan.

Terus kalau udah mau walimah, jangan lupa woro-woro, insyAlloh Ima siap jadi panitia penerima kado! Hahaha…

Jazakillah sudah jadi mba nya Ima ^_^

#Imatul Khoiriyah#

 

Bismillah..

Barakallah ukhti, semoga selulusnya anti bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan Negara.

Tetap istiqomah di segala kondisi.

#Ghesika#

 

Assalamu’alaikum..

Moga dengan perjuangan mba dalam menyelesaikan study mba Sufi untuk memperoleh gelar S.Pd. ni bisa mengantarkan mba dalam menggapai cita-cita dan semoga menjdai guru yang dapat menghasilkan generasi muda penerus bangsa yang berbudi luhur dan berprestasi.

Smangat mba, perjalanan hidup belum berakhir!^_^

#Yulinda#

 

Cupiloh…

Barakallah ya, semoga ilmu yang didapat bermanfaat bagi tempat yang kau naungi nanti.

Ciye.. udah S.Pd. …

Aku tunggu undangan berikutnya ya…

^_^

#Roza#

 

Asslm..

Barakallah  ukh, atas wisudanya, moga ilmu yang didapat berkah dan bermanfaat untuk orang banyak.

#Puspita-KAMMI Medan#

 

Barakallah ya, atas wisudanya.

Semoga selalu sukses aja ya.

#Akh Basrin KAMMI Lampung#

 

Barakallah ya mba atas diwisudanya mba, semoga bisa berkontribusi lebih banyak lagi untuk masyarakat luas..

Keep BTP!

#Akh Yassin – KAMMI Unila#

 

Barakallah y ukh,

Afwan tak sempat jumpa, coz baru selesai agenda DPM U.

Semoga sukses dunia akhirat ya dengan ilmu yang telah didapatkan.

#Yesi Aria#

 

Barakallah ya mba, atas wisudanya..

Semoga ilmunya bermanfaat..

Menjadi sarjana yang bermartabat, dan jodoh cepat dapat ^_^

#Qori FISIP#

 

Barakallah atas wisudanya, semoga barokah..

Afwan gak bisa ke Arafah, ada acara di Mesin, dan agenda lain.

Prepare agenda ke luar kota.

#ka Hadi – Ketua KAMMI Lampung#

 

Selamat wisuda ya,

Semoga kian sukses!

#akh Mubaroq – Direktur MPK KAMMI Lampung#

 

Selamet ya, teh…

Pertahankan terus prestasinya!

#Mudiya#

 

Barakallah ya ukh,

Akhirnya… ^_^

Lanjutkan kesuksesan antum!

#Pak Ahmad – SD IT#

 

Semoga Alloh selalu memberikan keberkahan pada setiap langkah yang ditempuh sampai menjadi S.Pd.

#ka Indra – Batrasia ‘06#

 

Semoga ilmu yang didapat jadi modal untuk berproses di lain tempat dan berkah bagi bangsa dan agama, berguna bagi masyarakat. Barakallah…

#akh Adit – KAMMI Lampung#

 

Sukses & berkah buat S.Pd. nya anti…

#ka Dian – Ketua Alumni FSLDK I#

 

*Alhamdulillah… ^_^

Ya Allah, jangan henti kemuliaanMu menyusupi syaraf-syaraf  ini,

hingga tiap ilmu jadi amal, tiap hasrat baik jadi akhlaq berseri…

terima kasih, untuk semua pihak yang telah berperan penting dalam menyelesaikan kuliah S1 saya, hingga mampu melewati satu siklus perjuangan ini ^^.

untuk Abah & emak ^^; smoga Alloh memberi sebaik-baik balasan.

Edelweis, 19 Juni 2012; 17.30 wib.

Categories: Inspirasi | Tinggalkan komentar

Cintamu Abadi, Wahai Khubaib!

     Seorang ksatria tengah tersenyum. Lembah Badar baru saja usai dari sebuah peperangan. Pekikan semangat Allah Maha Besar tak lagi terdengar. Senjata saling beradu sudah tak terjadi. Sebuah kemenangan baru saja tergenggam. Kaum kafir Quraisy beranjak pulang tanpa kepala yang tegak. Mereka merunduk malu setelah meneguk sebelanga pahit kekalahan. Tak pernah mereka kira jika manusia-manusia pencinta Muhammad, lebih memilih darahnya tumpah dibanding melihat Al-Musthafa terkena seujung kuku senjata. Untuk mereka, hari itu adalah kisah kelam yang amat sulit terlupa.

Cinta kepada Nabi yang Mulia menyemerbak di Lembah Badar. Nafas di raga bukanlah apa-apa dibandingkan keselamatan Al-Amin dan tegaknya Islam yang agung. Seorang ksatria masih saja tersenyum. Hatinya berbunga, karena Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal meregang nyawa di ujung pedangnya. Ia sungguh senang, bangsawan sekaligus pemimpin Quraisy pengganggu purnama Madinah itu, kini mati. Hari itu ia adalah salah satu perindu surga. Hari itu ia adalah salah seorang sahabat yang membuktikan kecintaannya kepada Rasulullah dengan turut menjadi pasukan para pemberani. Hari itu, ia adalah seorang ksatria pembela agama, yang kemudian cintanya abadi. Khubaib bin ‘Ady.

***

Suara Rasulullah memenuhi udara. Mesjid hening mendengar tuturnya. Semua pandangan berarah pada satu titik. Di sana, di atas mimbar, sesosok cinta tengah berdiri, memandang syahdu mereka semua. Dari bibir manisnya terlantunkan sebuah titah.

“Aku, baru saja didatangi, utusan dari kabilah ‘Udal dan Qarah. Berita tentang Islam telah sampai kepada mereka. Mereka sungguh berharap orang-orang yang akan membagi cahaya kebenaran, yang akan menghunjamkan bahwa Allah adalah Esa, yang akan mengajarkan Islam. Akan ada dari kalian yang terpilih untuk mengemban amanah itu”

Sesaat, Purnama Madinah menyapu pandangannya ke setiap penjuru. Para sahabat, tiba-tiba saja membusungkan dada, dan menegakkan kepala, seperti ingin dilihat Nabi. Setiap dari mereka berharap bisa dipilih sebagai duta. Padahal, ada beberapa dari sahabat yang masih terluka karena peperangan Badar.

Melihatnya, Nabi tersenyum, bahagia berkelindan di sepenuh kalbu. Selanjutnya Nabi menyebut nama-nama, sepuluh orang terpilih. Ada satu nama di sana. Nama seorang ksatria. Khubaib bin ‘Ady.

***

Esoknya, dihantarkan do’a yang dialunkan, mereka berperjalanan. Bersemangat mereka pergi. Sesungguhnya mereka tahu, perjalanan itu tidaklah untuk bersenang. Mereka tahu, akan ada hal-hal yang tak terduga. Orang-orang kafir dari kabilah yang mendiami lembah-lembah bisa kapanpun menghadang dan membunuh mereka. Namun, kecintaan kepada Nabi yang Ummi, keimanan yang bersemayam dalam dada, membuat mereka berpantang menyurutkan langkah.

Benar saja.

Dari sejarah, kita tahu ketika mereka sampai di daerah antara ‘Usfan dan Makkah, sebuah perkampungan dari suku Hudzail yang dikenal dengan nama Banu Lihyan, para kafir mencium keberadaan mereka. Hampir seratus penduduknya memburu para duta Rasulullah. Tujuannya tidak lain, membunuh dan membuat para pengikut Rasulullah itu kembali kepada ajaran nenek moyang Arab. Orang-orang dari suku Hudzail itu terus membuntuti mereka, beratus anak panah disiapkan.

Sebuah ujian, Allah berikan kepada para pemberani, didikan Rasulullah. Mereka ditemukan para penyembah berhala tengah berlindung di sebuah bukit. Riuh rendah, gerombolan itu mengepung dan berteriak lantang :

“Kami berjanji tidak akan membunuh kalian, jika kalian turun dan menemui kami”.

“Kami tidak menerima perlindungan orang kafir “ seru Ashim, yang diamanahi Rasulullah sebagai pemimpin para utusan.

Mendengar itu, gerombolan itu menyerbu dan memanah mereka satu persatu. Para pencinta Rasul dan agama itu roboh. Ada yang luput dari panah dan pembunuhan itu. Tahukah kalian siapa dia? Ya.. dia adalah ksatria itu. Khubaib bin ‘Ady

***

Khubaib dibawa ke Makkah. Seperti mengikat unta, ia diiringkan. Dan dengan harga yang mahal, Khubaib dijual sebagai budak, kepada keluarga Al-Harits. Seluruh keluarga itu, bersuka cita, pembunuh kepala keluarga, Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal di peperangan Badar, kini berada nyata di tengah mereka. Para wanita bersyair dan berpesta. Bara dendam semakin berkobar. Darah harus dilunasi dengan darah. Ksatria pencinta Rasulullah itu tetap bertenang.

Khubaib kemudian ditawan. Ia dirantai seperti binatang peliharaan di halaman rumah Banu Harits. Mereka membiarkan Khubaib kedinginan di malam-malam gulita. Mereka menyaksikan Khubaib di terik panas matahari. Mereka tidak memberi Khubaib makan dan senang dengan haus yang Khubaib derita.

Suatu hari, seorang anak kecil merangkak menjumpai Khubaib. Khubaib menyambutnya dengan senyum tulus, dibiarkannya anak kecil itu bermain-main di paha lelahnya. Mereka bercengkrama dalam keakraban, hingga wanita dari keluarga Harits berteriak penuh kekhawatiran. Tahukah apa yang diucapkan Khubaib :

“Tenanglah duhai ummi, Rasulullah tidak pernah mengajarkan aku membunuh seseorang yang tidak berdosa. Ia hanya ingin bermain-main.”

Si ibu segera merengkuh si kecil, dan dengan penuh keheranan ia memandang setangkai besar anggur yang berada di samping Khubaib. Makkah tidak sedang musim buah. Seluruh keluarganya tak ada satupun yang rela memberi makanan. Sedang Khubaib di rantai besi. Bagaimana mungkin buah ranum itu berada di sana. Masih dengan takjub, ia berkata :

“Aku tidak pernah melihat tawanan sebaik engkau duhai Khubaib. Anggur yang berada di sampingmu adalah rezeki bertubi yang Allah turunkan kepadamu.” Khubaib tersenyum.

***

Hari sudah sampai di pertengahan. Terik matahari, debu-debu yang berterbang garang di antara jubah indah yang dikenakan para pemuka Quraisy, hingga kilau pasir sahara yang panas tak terkira, menemani Khubaib yang tengah mendirikan shalat dua rakaat panjang. Ia masih ingin shalat sebenarnya, menjumpai zat yang dicinta sepenuh jiwa, Allah. Ia berkata kepada orang-orang Quraisy yang menyemut memperhatikannya “ Demi Allah, jika bukanlah nanti ada sangkaan kalian bahwa aku takut mati, niscaya aku menambah shalatku”. Yah, mereka memutuskan hari itu, Khubaib harus pergi selama-lamanya.

Beberapa dari orang Quraisy kini tengah bersiap dengan pelepah kurma yang mereka jelmakan serupa kayu salib raksasa. Tubuh Khubaib kemudian diikat kukuh disana. Khubaib mengatupkan kelopak mata, mengheningkan semua rasa yang meruah tumpah. Sesaat ia seperti terbang ke jauh angkasa. Salib pelepah terpancang sudah. Khubaib membuka mata, hamparan sahara terlihat mempesona. Di bawah sana berpuluh pasang mata menatapnya lekat. Khubaib memandang tangan mereka, beratus runcing anak panah tergenggam, beratus senjata tajam terkepal.

Di ketinggian, dengan sepenuh kalbu, Khubaib mengalunkan syair indah, mengenang cinta manusia terpilih yang mengirimnya untuk sebuah amanah indah. Merengkuh kembali ingatan atas sabda dari bibir manis Rasul mulia, syahid di jalan Allah akan menghantar setiap jiwa bertamasya di surga. Tiba-tiba saja Khubaib merindukan Al-musthafa. Tiba-tiba saja, ia menginginkan kembali saat-saat ia terpesona dengan wajah rembulah Rasulullah. Betapa ingin ia menjumpai manusia sempurna itu untuk menuntaskan utuh kerinduannya. Angin sahara menghantar suara Khubaib, membuat langit bersuka atas setiap untaian katanya :

 

Mati bagiku tak menjadi masalah.

Asalkan ada dalam ridha dan rahmat Allah.

Dengan jalan apapun kematian itu terjadi.

Asalkan kerinduan kepada Nya terpenuhi.

Ku berserah kepada Nya.

Sesuai dengan takdir dan kehendak Nya.

Semoga rahmat dan berkah Allah tercurah.

 

 Pada setiap sobekan daging dan nanah

Ucapan Khubaib terhenti. Beratus anak panah menghunjam tubuhnya. Pepasir Jan’im tersaput darah yang tumpah. Tubuh Khubaib perih. Tubuh Khubaib terkoyak. Luka menganga dimana-mana, namun jiwanya merasakan ketenangan yang tak pernah diresapi sebelumnya. Suara lesat anak panah terdengar riuh. Tenaga Khubaib melemah, dengan pandangan yang kian samar, ia menengadah. Ia tak perkasa bertutur lagi. Hingga doa yang ia pinta, hanya terdengar lirih di lengang udara :

 

Allahu Rabbi, ku telah menunaikan tugas dari Rasul Mu,

Maka mohon disampaikan pula kepadanya,

Tindakan orang-orang ini terhadap kami.

Sesaat kemudian tubuh Khubaib sunyi, sesenyap lembah yang ditinggalkan para kuffar setelah puas melihat nyawanya terhembus dari raga. Angkasa berdengung menyambut ruh ksatria perindu surga. Khubaib kembali, menuju Allah yang Maha Tinggi.

Tak seberapa lama, burung-burung bangkai memutari tubuh Khubaib yang masih mengucurkan darah. Berombongan mereka terbang datang dari kejauhan. Namun, Allah mencintai mu wahai Khubaib. Dengan cinta yang paling berkilau menyala. Dengan rahmat Nya, tak satupun burung pelahap bangkai dan nanah itu menyentuh tubuhmu yang dipenuhi panah. Satu persatu burung bangkai menghambur pergi, mengepak sayap terbang teramat jauh. Tubuhmu semerbak wahai Khubaib, hingga mereka malu dan tak mampu menyentuh meski hanya setipis kulit.

***

Allah mengabadikan cinta Khubaib. Doa Khubaib sebelum syahid dikabulkan. Kerinduan Khubaib saat akan dibunuh, sampai juga kepada Rasulullah di Madinah. Rasulullah merasakan sesuatu yang tak biasanya, sambil tertunduk ia terkenang seseorang yang tak diketahuinya. Ia memohon petunjuk Allah, dan tergambarlah sesosok tubuh yang melayang-layang di udara. Segera saja Nabi mengutus Miqdad bin ‘Amn dan Zubair bin Awwam untuk mencari tahu. Sebelum keduanya pergi, suara Al-Amin terdengar syahdu dan penuh rindu “Paculah kuda kalian seperti kilat, aku sungguh mengkhawatirkannya”.

Allah mengarahkan dan memudahkan perjalanan kedua sahabat. Mereka takjub melihat tubuh Khubaib yang masih utuh. Dalam hening, mereka menurunkan tubuh yang semerbaknya tidak hilang. Bumi menyambut Khubaib, akhirnya setelah sekian lama menunggu, bumi mendapat kehormatan untuk merengkuh dan memeluk Khubaib sepenuh cinta.

Kisah Khubaib berakhir di sana, namun di hati para perindu surga, Khubaib tetaplah hidup, menggelorakan cinta yang tiada pernah berakhir. Cinta yang abadi.

dibidik dari: http://www.eramuslim.com

 

*Meski tidak sekemilau cintanya Khubaib, meski tidak sebenderang cinta Khubaib, tidak seberdenyar cinta Khubaib, tidak seabadi cinta Khubaib, perkenankanlah saya mencintaimu wahai kekasih yang ummi, dengan sebentuk cinta yang sederhana, dengan cinta yang tertatih ringkih, dengan cinta yang lahir dari hati yang kadang wujudnya; buruk rupa…

allahumma solli’ala muhammad…

Edelweis.

Selasa, 5 Juni 2012; 10.47 wib

Categories: Inspirasi | 2 Komentar

Serupa Bidadari Surga


Simaklah dialog yang berhasil membuat saya terinspirasi ^^, antara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bersama Rasulallah SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrany dalam hadits berikut ini:

Saya (Ummu Salamah) berkata: “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Alloh tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli…”.

Beliau menjawab: “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”

Saya berkata lagi: “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)

Beliau menjawab: “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

Saya berkata lagi: “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)

Beliau menjawab: “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”

Saya berkata lagi: “Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)

Beliau menjawab: “kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar… atau yang biasa disebut putih telur…”

Saya berkata lagi: “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37)

Beliau menjawab: “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau menjawab: “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya: “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab: “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”

Saya berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”

Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat”.

Subhanallah…
Ada konklusi atau simpulan yang bisa saya ambil dari dialog tersebut:

1. Betapa Alloh lebih menghargai kita (wanita muslim yang bertaqwa) dibandingkan dengan bidadari surga yang sudah disiapkan Alloh, sebab ikhtiar untuk selalu menjaga ketaatan pada Nya.
2. Pemilik “akhlak terpuji” dapat menentukan posisi yang membanggakan di sisi Alloh, tidak hanya menciptakan efek yang “menguntungan” ketika hidup di dunia, tetapi juga di akhirat.
3. Sejatinya, wanita shalehah adalah bidadari surga yang ada di dunia.

Simak pula apa yang Alloh sampaikan dalam QS.Al Ahzab:32, “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa”.
Ya, Alloh tidak akan menyamakan orang-orang yang baik dengan orang-orang yang buruk! Jelas beda!

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (QS.Al Qolam:34).

Wahai Rabb-ku, jagalah kami…

*finished; 27 March 2012, 17.42 wib in my green room ^^

Categories: Inspirasi | 3 Komentar

Bukan Karena Senang

Saudaraku, sumber energi dakwah bukanlah terletak pada kesenangan. Bukan bertumpu pada teman-teman yang menyenangkan, amanah yang menyenangkan, atau fasilitas yang menyenangkan. Karena yakinlah, kesenangan-kesenangan itu bersifat sementara. Apakah ketika kita bertemu rekan-rekan dakwah yang tidak menyenangkan, kita jadi tidak senang berdakwah? Apakah ketika kita mendapati amanah yang tidak menyenangkan, kita jadi tidak amanah? Apakah ketika fasilitas sangat sedikit, kita jadi malas berjuang? Kalau itu yang masih kita rasakan, berhati-hatilah. Boleh jadi ada yang tidak beres dengan orientasi dakwah kita.

Untuk itu, isilah energi dakwah kita dengan cinta. Cinta kepada-Nya (QS. 2:165). Karena cinta tidak hanya setia ketika senang saja, tapi juga di saat susah. Karena cinta tidak hanya berjuang di saat ringan belaka, tapi juga di saat kita sangat berat untuk melakukannya (QS. 9:41).

Saudaraku, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai hal yang menyenangkan (syahwat).” [HR. Muslim]

Pada umumnya, memang tak ada kebaikan yang diawali dengan kesenangan. Salat Tahajud misalnya, mulanya kita bangun dengan penuh kepayahan, bukan? Bahkan saat mata belum sepenuhnya tersadar, kita sudah harus bersinggungan dengan dinginnya air dan berjuang sekuat tenaga untuk tegak berdiri, seraya bermunajat pada Allah SWT di kala yang lain tetap terlelap. Tapi kenapa kita tetap memperjuangkannya? Tak lain adalah karena satu alasan: cinta.

Dakwah pun demikian. Terkadang ‘kacamata’ kita menangkap hal-hal yang tidak menyenangkan, yang tidak sesuai dengan takaran kenikmatan kita, yang kita tidak sadar bahwa dari situlah ada pelajaran dari-Nya (QS. 29:2). Namun, sadarkah bahwa ketidaksenangan-ketidaksenangan itu adalah harga yang harus kita bayar guna meraih kenikmatan yang hakiki (QS. 9:111)?

Sungguh, cinta membuat segala penat terasa nikmat. Cinta jugalah yang menjadikan perjuangan kita terasa indah. Seperti ucapan kepada kekasih, “Bukan karena kau tampan aku jadi cinta. Tapi karena aku cinta, kau jadi tampan.” Maka begitu pula dalam dakwah, “Bukan karena dakwah terasa menyenangkan, aku jadi cinta. Tapi karena aku cinta, dakwah jadi terasa menyenangkan.”
Ya, cinta kita kepada Sang Kekasih, Alloh ‘azza wa jalla. ^^

*Disadur from akhuna Deddy S.
Edelweis, 21 Maret 2012; 23.30 wib

Categories: Inspirasi | Tinggalkan komentar

Apakah Benar, Engkau Pejuang?

Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak mampu menerima ujian
Engkau ingin berjuang;
Tapi rusak oleh pujian
Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan

Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak begitu setia kawan
Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak sanggup berkorban
Engkau ingin berjuang;
Tapi ingin jadi pemimpin
Engkau ingin berjuang;
Menjadi pengikut agak segan
Engkau ingin berjuang;
Tolak angsur tidak engkau amalkan
Engkau ingin berjuang;
Tapi tidak sanggup terima cabaran
Engkau ingin berjuang;
Kesehatan dan kerehatan tidak sanggup engkau korbankan

Engkau ingin berjuang;
Masa tidak sanggup engkau luangkan
Engkau ingin berjuang;
Karena isteri tidak kau tahan
Engkau ingin berjuang;
Rumah tangga lintang pukang
Engkau ingin berjuang;
Diri engkau tidak engkau tingkatkan

Engkau ingin berjuang;
Disiplin diri engkau abaikan
Engkau ingin berjuang;
Janji kurang engkau tunaikan
Engkau ingin berjuang;
Kasih sayang engkau cuaikan
Engkau ingin berjuang;
Tetamu engkau abaikan

Engkau ingin berjuang;
Anak isteri engkau lupakan
Engkau ingin berjuang;
Ilmu berjuang engkau tinggalkan
Engkau ingin berjuang;
Kekasaran dan kekerasan engkau amalkan

Engkau ingin berjuang;
Pandangan engkau tidak diselaraskan
Engkau ingin berjuang;
Rasa ber-Tuhan engkau abaikan
Engkau ingin berjuang;
Iman dan taqwa engkau lupakan

sebenarnya, apa yang hendak engkau perjuangkan?

*Membersamai Qothrun¬nada. Saya suka nasyid ini, nyubit banget..!!!

Categories: Inspirasi | 1 Komentar

Surat dari Calon Ibu Mertua ^^

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarrakatuh

Duhai gadis yang baru ku kenal..

Tahukah kau, dia putraku..
Lahir dari dalam rahim suciku..

Ku pertaruhkan hidupku untuk memilikinya..
Anak kesayanganku yang sepanjang hidupnya ku besarkan dengan segenap rasa cintaku..

Tangan renta ini yang mengangkat tubuh mungilnya, menyuapinya, menyeka air matanya dan memeluknya dalam dekapanku..

Duhai gadis..

Tahukah kau betapa besar rasa cintaku padanya?
Bahkan aku tak mampu membayangkan bila ada yang merebutnya dari dekapku..

Tahukah kau gadis?

Betapa bangga ku rasakan ketika dia mulai beranjak dewasa?
Menatap tumbuh menjadi lelaki tegap dan tampan..
Seulas senyumnya mengingatkanku pada senyuman ayahnya yang sangat ku cinta..

Betapa hati ini terus diliputi rasa bangga dan buncahan cinta padanya..
Kebanggaanku.. Putraku..

Berbagai prestasi dia ukir dan memahatnya..
Bangga tak terperi dalam lubang rasaku..
Dan ku selalu merasa puas menyebutnya putraku..

Tak sedikitpun dia pernah mengecewakanku..
Tak pernah..

Gadis, tahukah kau..

Betapa haru hatiku, ketika ku melihat perubahannya..
Mencoba mengenal Diennya lebih dalam dari yang kami ajarkan padanya..

Dia menjadi laki-laki sejati..
Lelaki yang dirindukan JANNAH..
Aku semakin sayang padanya..

Putraku kini yang malah mengajarkanku banyak hal..
Mendekatkanku pada-Nya..
Pada Rabb ku yang selama ini ku kenal dengan sederhana karena kebodohanku..
Tapi aku tak malu..namun sebaliknya..
Aku semakin bangga padanya..
Putraku.. Cahayaku..

Namun..

Rasa itu berubah menjadu takut, cemas dan khawatir..
Ketika dia menyampaikan padaku keinginannya..

Dia ingin menyempurnakan separuh agamanya..

Yah.. Dia ingin membangun rumah tangganya sendiri..

Dan, dia telah memilih….., kaulah gadis beruntung itu..

Gadis, tahukah kau?
Betapa cemburuku padamu?
Yah, aku sangat takut kehilangan putra kesayanganku..
Takut kau merebut semua perhatiannya dariku..
Takut keberadaanmu, memalingkannya dariku..
Kau akan merebutnya dan aku cemburu..

Namun, kembali kusadari..
Putraku tak akan memilih wanita sembarang..

Ku yakin kau punya kelebihan yang membuatnya memilihmu..
Dan ku mulai menata hatiku..

Duhai gadis pilihan putraku..

Ku harap kau memiliki tangan yang lebih lembut dariku..
Karena ku tak mau kau melukai putraku..

Ku harap kau mempunyai senyum yang lebih sejuk dariku..
Karena kelak, dia akan datang padamu dalam tiap galaunya untuk mencari ketenangan..

Ku harap kau memiliki pelukan yang lebih hangat dariku..
Karena ku ingin hatinya selalu damai dalam dekapanmu..

Ku harap kau mempunyai tutur kata yang seindah embun..
Karena ku tak ingin dia mendengar kata-kata kasar dalam hidupnya..

Duhai gadis pilihan putraku..

Jadilah anakku..
Agar tak pernah ku merasa kehilangan putraku karena kehadiranmu…

Jadilah sahabatku..
Agar kau dapat mencurahkan rasamu padaku kelak..

Jadilah rekanku..
Agar bersama-sama kita mencintai lelaki yang sama-sama kita cintai..

Untukmu gadis pilihan putraku..

Selamat datang di istana kami..
Penuhilah dengan cinta dan kasih..
Semoga kau bahagia menjadi bagian dari kami..
Padamu gadis pilihan putraku..
Aku pun akan mencintaimu..

*from friend’s file…
Kamis, 15 Desember 2011. Kost-an penuh kenangan ^^

Categories: Inspirasi | 1 Komentar

Blog di WordPress.com.