Bagaimana Mengelola Rasa?

5122647766_4475ca0afb

dimuat di dakwatuna

 

Tulisan ini saya buat tersebab jenuhnya dengan dunia facebook. ^^

Dunia yang menjadi washilah setan juga, jika tidak dikelola dengan ketersadaran kita.

Entahlah, mungkin karena saya belum lulus ujian yang Allah berikan, hingga saya harus di-remedial dengan motif ujian yang sama. Sungguh membosankan… ^^

Yahh, begitulah setan. Benar-benar konsisten dengan job-nya! Menggoda hingga di celah-celah manapun (QS.Al A’raf:16). Media, sebagai sarana untuk memudahkan penyampaian informasi dan ladang dakwah, pun diselusupinya!

Hem…

Tiba-tiba teringat orang tua dari salah seorang murid di tempat saya mengajar (sebenarnya, saya lebih suka dengan kata -mendidik- ^^), SDIT. Ia bercerita tentang puteranya yang duduk di kelas 5;

“Ummi, aku menyukai seorang perempuan di kelasku. Tapi ini rahasia! Aku tidak mau kasih tahu ummi, tentang siapa orang itu? Karena kata bu guru, kita boleh menyukai lawan jenis, tapi dengan syarat; tidak boleh ada seorangpun yang tahu, termasuk orang yang kita sukai itu! Jadi ummi, biar ini menjadi rahasia aku dan Allah saja.”

Unik, yahh?!

Benih-benih rasa cinta kepada lawan jenis, bisa ditemukan saat usia SD. Bayangkan jika ini tidak dikelola dengan baik! Akan merebak menjadi sebuah virus merah jambu, yang jenis-jenisnya bisa kita kenali di kalangan remaja dengan istilah ‘cinta monyet’, ada juga ‘pacaran’, dkk. Ya, ini fakta! Sudah menyerang, sekali lagi; sudah bisa menyerang, di kalangan mereka yang kata orang tua, masih ‘bau kencur’! Dan perlu kita ingat, semua virus merah jambu itu menjangkiti seseorang karena proses “pengelolaan” yang GAGAL! Ya, pengelolaan dalam merasakan cinta.

Masih ingatkah kisah wanita mulia, puteri kesayangan Rasulallah saw., Fatimah ra., dengan  Ali bin Abi Thalib ra.? Ternyata, keduanya saling menyimpan perasaan cinta di antara mereka. Ya, tersimpan dengan begitu rapat, sampai kedua belah pihak tidak ada yang mengetahui kondisi sama rasa tersebut. Dan yang lebih menakjubkan adalah rasa itu bisa lolos dari pantauan setan! Hanya Allah Yang Mengetahui lintasan hati di antara mereka saja.

Dan pada akhirnya, keduanya saling mengetahui perasaan cinta di antara mereka masing-masing ketika mereka menceritakannya saat sudah ter-sah-kan dengan ijab-qabul (menikah).

Betapa rapi pengelolaan rasa ini. Hingga Allah menghadiahkan dengan mempersatukan keduanya. MaasyaAlloh..

Kembali ke isu. ^^

Saya faham betul (ah, tidak! Lebih tepatnya menggunakan kata ‘seperti yang kita ketahui bersama’), ujiannya seorang lelaki adalah wanita, dan ujiannya para wanita adalah harta ^^. (garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum).

Sudahlah, jangan nyaman bersembunyi di balik dalih “itukan fitrah”. Ya, benar! Fitrah. Namun jangan terlenakan dengan berlindung pada dalih tersebut. Apakah dengan ‘fitrahnya manusia’ kemudian kita asyik saja menikmati ritmenya? Tanpa berikhtiar untuk berlingdung darinya? Hem?

Saudaraku, bantu kami menjaga kemurnian hati ini, agar tidak ada niatan menduakan-Nya, tidak ada niatan mengkhianati-Nya. Lantas menyelusup di dalam hati kami ketika beraktivitas adalah; agar engkau semakin rekat mencintai, agar engkau lebih mengagumi pesona kami, agar engkau…. agar engkau…  dan harapan agar engkau lainnya..

Cukup!

Simpan saja rapat-rapat, agar kami tidak mengetahuinya.

Simpan dalam-dalam, agar setan tak mencium informasi dari gerak-gerik sikapmu yang mencurigakan.

Jangan mudah sampaikan cinta, baik dengan verbal atau nonverbal-mu.

Ada saatnya, saudaraku… akan ada moment yang tepat… kala kau sudah berani meminang.

Dan engkau saudariku,

Muslimah sejati itu bukan dilihat dari kekhawatirannya yang takut digoda orang, tetapi dia yang merasa khawatir, jika ternyata dirinyalah yang menggoda!

Saya percaya..
Allah senantiasa mengajarkan; kembang itu pasti akan mekar, ketika telah tiba musimnya.
Ada hujan yang turun dengan basah dan derasnya, itupun pasti karena buminya sedang berdahaga.

Heum, Preventif lebih baik daripada mengobati, bukan?!

Ketika rasa itu muncul dalam hati, mari mintalah pertolongan Allah untuk menjaganya.

Semoga Allah mengaruniakan bashiroh yang jernih pada hati-hati kita… hingga mampu dan peka dalam membedakan; mana yang Allah suka, dan mana yang Allah murka?

Selamat menjaga izzah (harga diri), saudara/i Muslimku…

Jangan khawatir, sebab janji-Nya; ia yang terjaga, hanya untuk yang terjaga (QS. An Nur: 26).

Dan untukmu cinta,, di manapun engkau berada… bagaimanapun keadaanmu saat ini…

dan entah siapapun dirimu… sesungguhnya aku menyadari dirimu ada, ada dan ada!

Tetaplah indah terjaga di sana, terangkum lembut dalam perlindungan, serta tersimpan tenang dalam kedamaian… hingga hanya akan ada dua pilhan; kita bertemu atau kita dipertemukan.

Dan bagaimanapun datangnya jalanNya, engkau tetap sebaik-baik keberlimpahan, insyAlloh.^_^

Tulisan ini saya tutup dengan mengajak kita semua untuk merenungi kalimat yang Umar bin Khaththab ra.  Sampaikan, dengan khasnya yang tegas;

“Celakalah engkau! Apakah pernikahan hanya dibangun di atas cinta?! Lalu di manakah takwa, tanggung jawab, dan rasa malu?!”

Wallahu’alam… ^^

*Beginilah cobaan yang dialami oleh orang-orang yang benar-benar masih menempel status ke-jomblo-an pada dirinya. Haha.. 

Diselesaikan di Cempedak. 15 Desember 2012 pada penghujung rasa kantukku, 23:30 WIB.

 

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: