Bukan Karena Senang

Saudaraku, sumber energi dakwah bukanlah terletak pada kesenangan. Bukan bertumpu pada teman-teman yang menyenangkan, amanah yang menyenangkan, atau fasilitas yang menyenangkan. Karena yakinlah, kesenangan-kesenangan itu bersifat sementara. Apakah ketika kita bertemu rekan-rekan dakwah yang tidak menyenangkan, kita jadi tidak senang berdakwah? Apakah ketika kita mendapati amanah yang tidak menyenangkan, kita jadi tidak amanah? Apakah ketika fasilitas sangat sedikit, kita jadi malas berjuang? Kalau itu yang masih kita rasakan, berhati-hatilah. Boleh jadi ada yang tidak beres dengan orientasi dakwah kita.

Untuk itu, isilah energi dakwah kita dengan cinta. Cinta kepada-Nya (QS. 2:165). Karena cinta tidak hanya setia ketika senang saja, tapi juga di saat susah. Karena cinta tidak hanya berjuang di saat ringan belaka, tapi juga di saat kita sangat berat untuk melakukannya (QS. 9:41).

Saudaraku, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai hal yang menyenangkan (syahwat).” [HR. Muslim]

Pada umumnya, memang tak ada kebaikan yang diawali dengan kesenangan. Salat Tahajud misalnya, mulanya kita bangun dengan penuh kepayahan, bukan? Bahkan saat mata belum sepenuhnya tersadar, kita sudah harus bersinggungan dengan dinginnya air dan berjuang sekuat tenaga untuk tegak berdiri, seraya bermunajat pada Allah SWT di kala yang lain tetap terlelap. Tapi kenapa kita tetap memperjuangkannya? Tak lain adalah karena satu alasan: cinta.

Dakwah pun demikian. Terkadang ‘kacamata’ kita menangkap hal-hal yang tidak menyenangkan, yang tidak sesuai dengan takaran kenikmatan kita, yang kita tidak sadar bahwa dari situlah ada pelajaran dari-Nya (QS. 29:2). Namun, sadarkah bahwa ketidaksenangan-ketidaksenangan itu adalah harga yang harus kita bayar guna meraih kenikmatan yang hakiki (QS. 9:111)?

Sungguh, cinta membuat segala penat terasa nikmat. Cinta jugalah yang menjadikan perjuangan kita terasa indah. Seperti ucapan kepada kekasih, “Bukan karena kau tampan aku jadi cinta. Tapi karena aku cinta, kau jadi tampan.” Maka begitu pula dalam dakwah, “Bukan karena dakwah terasa menyenangkan, aku jadi cinta. Tapi karena aku cinta, dakwah jadi terasa menyenangkan.”
Ya, cinta kita kepada Sang Kekasih, Alloh ‘azza wa jalla. ^^

*Disadur from akhuna Deddy S.
Edelweis, 21 Maret 2012; 23.30 wib

Categories: Inspirasi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: