Bagaimana Karakteristik Kader Dakwah?

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan (dakwah), menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.3:104 )

Kader adalah aset termahal bagi sebuah gerakan dakwah (atau organisasi apapun). Setiap organisasi, jama’ah, suatu perkumpulan atau suatu komunitas tidak bisa lepas dari yang namanya kader. Tidak bisa disebut jamaah atau komunitas jika hanya ada seorang pimpinan tanpa ada pengikut (kader). Sebagus apapun seorang pimpinan, jika ia tidak memiliki kader-kader yang handal dan militan, maka lambat laun akan menjadi orang yang kalah. Pun dengan gerakan dakwah, dia harus memiliki kader yang solid, yang bisa diandalkan dan teruji militansinya, tidak mudah goyah dan luntur idealismenya hanya karena remeh temeh permasalahan hidup. Jika suatu jamaah atau organisasi memiliki kader-kader yang berkualitas, maka ia akan menjadi jamaah yang solid dan mampu membangun eksistensinya di tengah-tengah masyarakat dan mampu berperan aktif dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan kemashlahatan ummat.

Jika kita bertanya, bagaimanakah kader dakwah sesungguhnya? Maka jawabannya adalah dia harus beriman kepada Allah SWT serta beriman kepada Rasulallah SAW, dengan membenarkan apa-apa yang dibawanya tanpa keraguan sedikitpun dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya.
Kader dakwah adalah da’i yang siap untuk menghadapi apapun kemungkinan rintangan dan cobaan yang Alloh timpakan kepadanya. Rasulallah adalah uswah da’i yang tak pernah surut dan lelah dalam mengemban amanah-amanah Alloh dalam keadaan suka maupun duka. Kader dakwah merupakan harapan ummat yang siap melanjutkan perjuangan sampai waktu bertemu dengan Robb-nya. Setiap amal yang dilakukan akan menjadi saksi sejarah dakwah. Amal jama’i, berprasangka baik, sungguh-sungguh dalam beramal di antara kader merupakan sumber kekuatan utama dalam menatap keberhasilan. Ia juga harus mempunyai sikap yang jelas, tidak ambigu apalagi hipokrit (munafik). Sikapnya tegas dan pasti terhadap kekafiran dan kebathilan, lakum diinukum wa liya diin. Apa-apa yang dihalalkan oleh Alloh, ia halalkan, dan mengharamkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Nya.

Seorang kader dakwah dituntut untuk militan (militansi)! Karena ia mengusung misi untuk menolong agama Alloh di muka bumi ini. Konsisten dalam dakwah, itulah yang disebut militansi. Militansi menghimpun semua kecerdasan dan keterampilan intelektual. Mental dan spirit adalah elemen penyusunnya. Kesetiaan memenuhi seruan dakwah indikasi sikap militan kader. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang maka ia pun akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah.

Jika suatu jama’ah sudah dipenuhi kader-kader dengan karakteristik yang mengagumkan, maka jama’ah tersebut akan menjadi jama’ah yang terbaik di antara jama’ah-jama’ah manapun. Sebagaimana jama’ah Rasul dan para shahabatnya yang beliau definisikan sebagai sebaik-baik jama’ah, sebaik-baik zaman.
“Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).”

Seorang kader haruslah menjadi pisau belati yang selalu tajam, bak kesabaran yang tak pernah padam, tuk arungi dakwah ini jalan panjang. Inilah keyakinan yang lama dijalani dalam setiap langkah hidup para da’i, yang tidak ingin berpisah dengan jalan dakwah ini walaupun sesaat.
Mari bersama perkokoh barisan dan hancurkan kebathilan, dengan terus memperbaiki kualitas diri sebagai kader dakwah! Selamat berjuang sampai Alloh memberikan syurga yang penuh harapan..

Ya Alloh, saksikanlah kebersamaan kami bersama-Mu di jalan ini. Kuatkan kami untuk tidak bercerai berai saat mengalami kelapangan dan kesenangan. Satukan kami ketika menghadapi kesempitan dan kesulitan. Kita pasti bisa!

*tulisan lama, baru diposting ^^.
Edelweis, Rabu 16 November 2011 ditemani Suara Persaudaraan – Ajari Aku, renungan di kala lelah menerpa…

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: