Perempuan Berpolitik: Ideologi dan Aksi Kaum Feminis


Sebutan feminis atau seorang feminis yaitu orang yang menganut paham feminisme. Gerakan yang dimunculkan oleh Marry Wallstonecraff, seorang wanita yang telah berhasil mendobrak dunia lewat bukunya The Right of Woman pada tahun 1972, dengan lantang menyuarakan tentang perbaikan kedudukan wanita dan menolak perbedaan derajat antara laki-laki dan wanita. Gaung feminisme inipun disambut hangat oleh beberapa kalangan di dunia Barat, termasuk negara-negara Timur Tengah pun turut serta dalam memperjuangkan perbaikan kedudukan kaum wanita.
Gerakan Feminisme lahir dari sebuah ide yang di antaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan.
Secara etimologis feminis berasal dari kata femme (woman) berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial. Dalam pengertian yang paling luas, feminis adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya. Dalam ilmu sosial kontemporer lebih dikenal sebagai gerakan kesetaran gender.

Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, di mana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin).

Terlepas dari bagaimanapun awal berkembangnya, paham ini harus diluruskan dengan arti yang lebih luas dan tidak bermakna ganda atau bahkan sempit. Kalangan feminis memanfaatkan istilah “hak asasi” dan “pemberdayaan” perempuan untuk menyuarakan gerakan feminisme.
Sekilas, konsep feminisme tidak bermasalah karena bertujuan untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang selama ini dianggap didiskriminasikan dan dilanggar hak-haknya oleh kaum lelaki. Tapi, “konsep” feminisme yang notabene berasal dari Barat dan menggunakan standar-standar kehidupan perempuan Barat yang cenderung bebas.

Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap orang, termasuk kaum wanita, mereka mempunyai hak untuk bekerja dan menduduki jabatan-jabatan tertinggi,
kendati ada jabatan yang oleh sebagian ulama dianggap tidak boleh diduduki oleh kaum wanita, yaitu jabatan kepala Negara (Al-Imamah Al-Uzhma) dan hakim.

Sebagai bagian dari masyarakat, perempuan sudah saatnya menentukan arah politik di tanah airnya sendiri. Kaum itu jangan hanya selalu mengikuti arah kebijakan pemerintah, tanpa ada sikap kritis dalam mengawal aturan yang ada. Menyikapinya, tentu dengan gerakan yang lebih sistematis dan strategis. Langkah strategis politik perempuan, bukan dengan adanya pembagian quota gender di seluruh struktur legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pemegang kekuasaan kita hari ini tidak punya komitmen politik untuk pencerdasan dan pencerahan.

Bagi wanita Muslim, harusnya kita mampu membuat kekuatan semacam people power, dengan mengintensifkan dakwah dan gerakan kultural, yang menanamkan nilai syariat Islam. Harusnya, bila ingin persoalan perempuan diselesaikan lewat jalur parlemen, kita harus memahami terlebih dulu makna politik. Pengertian politik di kalangan ummat perlu diluruskan, jika parpol sesuai dengan manhaj Rasulullah SAW why not? karena perjuangan untuk mencerdaskan perempuan akan “politik Islam” immposible jika bersifat individual.

Sah saja bagi wanita berpolitik (ex. Menduduki kursi di parlemen), selama dia tidak melupakan atau melalaikan tugas utamanya yaitu sebagai Ummu dan Rabbatul Bait. Justru di sanalah tugas utama politik perempuan, sebab ketika dia menjadi Ummu dia mendidik anaknya untuk menjadi orang yang Arif dan Faqih dalam berbagai bidang sehingga menjadi seorang Ulama. Sebagai Rabbatul Bait di mana seorang perempuan membuat kondisi yang kondusif bagi keluarganya untuk mendidik mental / kejiwaan dan pemikiran anak-anaknya.
Perempuan berpolitik merupakan bagian dari kewajiban syara’, dengan menyeru perempuan untuk berkiprah dalam perpolitikan dengan paradigma ideologi Islam. Salah satu penyebab terpuruknya umat ini, karena mereka buta politik Islam, sehingga umat selalu dipolitiki. Oleh karena itu, umat harus tahu politik yang tentunya adalah politik Islam yakni yang selalu peka memperhatikan persoalan dan kemaslahatan masyarakat.
Perempuan bisa memainkan perannya dalam dunia politik. Tetapi, ruang politik bagi perempuan belum secara luas dapat diterima. Bahkan banyak orang berpendapat bahwa perempuan takut berpolitik. Benarkah demikian? Mungkin tidak semuanya benar. Sebenarnya perempuan bukannya tidak berani berpolitik. Namun, banyak hambatan yang dihadapi perempuan, terutama hambatan yang memaksa perempuan menjadi pihak yang paling bertanggungjawab di rumah. Perempuan juga takut memikul beban ganda, di rumah dan di luar rumah.

Hidup itu pilihan. Dan bukan karena kita para wanita ingin sejajar dengan laki-laki lalu menganggap pilihan tradisional yang seakan membatasi gerak kita sebagai wanita itu lantas menjadi salah.
Feminis adalah gagasan kesetaraan gender. Tapi, seharusnya bukan kebebasan dalam arti yang ekstrim sehingga keluar dari tata krama sosial masyarakat. Maksudnya adalah menjadi Ibu Rumah Tangga, hidup berkeluarga, atau sebaliknya menjadi wanita karier dan bekerja melakukan dua hal bersamaan adalah sebuah pilihan hidup bagi para wanita itu sendiri.

Bagi para wanita Muslim, Al-Qur’an dengan jelas menyebutkan bahwa Allah SWT menciptakan berbeda antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Masing-masing dianugerahkan peran yang berbeda pula untuk saling mendukung sebagai satu tim, dan bukan untuk saling bersaing. Tak seorang pun yang ingin mencabut hak-hak kaum perempuan, tapi kita harus memahami bahwa kebebasan bukan berarti harus mendegradasikan kaum perempuan, dan persamaan hak bukan berarti harus ‘identik’.
Masalah kesetaraan gender yang gencar didengungkan kaum feminis itu akan selalu ada, jika kaum feminis tidak pernah merasa bahwa laki-laki adalah “mitra”, melainkan sebagai pesaing dan musuh.

*diselesaikan Kamis, 12 Oktober 2011. Memburu untuk screening Daurah Siyasi 2 KAMMI Lampung.

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: