Dialog Imajiner; Akhwat Luguisme dan Akhwat Bijakisme ^^

Oleh: Sufiroh

–Selepas agenda konsolidasi dan dauroh tahsin Murobbi FKIP Unila–

………………………………………………………..

Kulabuhkan diri ini di bawah pohon Pinus kecil, di bibir trotoar mushala Ulul Albab FKIP. Betapa Sang Raja Siang menampakkan kekuasaan dengan gagahnya, (ah, jauh lebih Gagah Yang Menciptanya ^^). Panasshh… shaum-ku diuji, bilakah bersedia sabar untuk Nya? insyaAlloh!!

Ingat doeloe, ketika kanak-kanak jika sedang Ramadhan di siang bolong seperti ini (apanya yang bolong? ^^), diam-diam ke dapur, meng-adem-kan diri di kulkas ^^. Ketauan ibu, tutup lagi, hoho… (hmm ibu, ingin rasanya melerai rindu ini… T.T   –jiaaah, baru aja berapa pekan bergentayangan di kampus?!!–).

Samsung GT–C3322 ini masih ku putar-putar di tangan (berpikir keras_red., iyakah? Bukannya galau sindrome_red?? ^^).

crinkk!! (seperti ada bola lampu di kepala menyala, bunyinya gitu gak y? ^^)

“Yup! Mb Zein!” (senior ADK Unila_DP Universitas 2009, sekaligus wak genk kost-an ku ^^).

Kumulai memijit tombol-tombol kecil berhuruf dan berangka di alat komunikasi itu..

“sms ah…  ^^ “

Anna   : assalamlkm. Mb, lagi ngapain? Sibuk tak?

Mb Zein    : wlkmsalam. Lagi melahap karyanya Ust.Ahmad Ar rasyid. Ono opo?

Anna    : mb …  mmm… kalau misal ada  seorang ikhwan yang ngajakin mb ta’aruf, apa jawaban pertama mb untuk menanggapinya?

Mb Zein    : Suruh ngomong ke Murobbinya (Mr. _red.) dulu.

Anna   : maksudnya Mr. ikhwannya atau akhwatnya ni?
Trus kalau kita tanya, kenapa alasannya mau ta’aruf? boleh ga?

Mb Zein : ya, suruh ngomong ke Mr. nya ikhwan itu sendiri. Urusan sama Mr. akhwat itu nanti.
Gak usah ditanya kenapa mau ta’aruf. Ngajak ta’aruf, yo jelas mau ngajak nikah..

Anna   : hehe.. y juga y, karena mau nikah…
Maksudnya, kenapa jadi pilihan?^^
ya kalau dia punya Mr.?  Kasusnya, belum tau ni ikhwan satu jama’ah dengan kita ga…?

Mb  Zein   : kenapa jadi pilihan, itu tanyanya pas waktu ta’aruf.
Kalau belum liqo, suruh liqo dulu. Kalau gak sefiqroh, ya berarti dia lagi recruitment.
Cari yang sekomandan aja. Nanti kalau beda-beda barisan, susah ngatur visi, dan gerakannya nanti malah tawur trus, karena geraknya gak kompak.

Anna   : ^^, berarti ditanya y, antum liqo ga? Nanti kalau kata ikhwannya: ‘iya’, trus akhwatnya bilang: ‘mintalah fatwa dengan Mr. antum…’. Gitu mb?

Mb Zein  : bukan minta fatwa, tapi minta pertimbangan dan mengomunikasikan dengan Mr. dulu…

Anna   : o.. y y. mmm.. jarak waktu yang syar’i antara ta’aruf dengan pernikahan, berapa lama mb?

Mb Zein : entahlah bila itu yang ditanyakan..
hey,.. kamu jadi gak, mau bantu ngisi SanLat di SMP 2 BaLam?!

Anna  : Senin, Anna masih ada dauroh mb,, piye jan?

Mb Zein  : Hmm…. Bantu cari pengganti!

Anna   : iyaaa,,, enggiieeuh.. oy mb, masi ada lagi..!
Bagaimana cara mb menolak untuk diajak ta’aruf, bila ikhwan itu tidak satu jama’ah?

Mb Zein  : bilang aja kalau tidak bersedia…

Anna    : o gitu ya? Kalau misalnya, menolak karena akhwatnya blum siap? Ahsan gak mb…?
Kan ada haditsnya yang mengatakan seperti ini kalau tidak salah; ‘bila datang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaqnya (untuk meminang),  maka nikahilah ia. Bila tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas.’
Nah, itu gimana mb?

Mb Zein  : makannya ndenger nasyid itu, jadi hobi sama Edcoustiq juga…

Anna   : mb salah kirim cmz, y? ^^

……………………………………………….
(menunggu plus tambah bingung ^^)

Anna  : mb afwan, Anna ndak faham maksud cmz mb itu…. T.T

………………………………………………
(lagi shalat mungkin, atau pending?)

Mb Zein  : tentang lama atau waktu yang efektif itu, mb kurang paham.
Ya kalau lagi berproses, untuk menjaga hati ya lebih cepat lebih baik. Asal jangan kyak lagunya Edcoustiq, “nantikan aku di batas waktu…”

Anna  : oh, hoho… ^^  tadi cmz Anna pending ya?

Mb Zein    : gak pending. Aku ngantuk. Malez mbalez…

Anna  : ieeh mb ini… ni masalah ummat. Jangan tidur dulu… !!
cmz tadi blum dibalez, menolak karena blum siap, piyeeeeee?!?!  (–kaya’ anak-anak minta dibelikan Ciki-Ciki –)

 …………………………..………………….

(udah ‘pingsan’ agaknya bliau ^^)

 

–Beberapa jam kemudian, di tempat yang berbeda ^^–

one message received…

 

Mb Zein  : nolak itu bisa karena apapun. Tapi yang lebih penting, pemahaman tentang arti bangunan Rumah Tangga ke depan itu bagaimana? dan untuk apa?
Jadi kalau sudah paham… biasanya bukan masalah umur, financial, study, dll.. tapi sekali lagi kepahaman. Maka tolak ukur siap menurut Islam itu adalah pada kepahamannya.

 …………………………………………………………..

Mb Zein  : hey ummat, aku dah bangun! Kok ndak tanya lagi…

….………………………………………… (pending)

Anna : cmznya baru masuk… afwan mb, tadi abis liqo.

Kita lanjutin diskusinya ya malam ini,  ba’da tarawih. Tapi pinginnya 4 mata ja.

Malu… @_@

*================*==============*

 

Itulah sekelumit kisah di kalangan ikhwah, sekecil apapun sebuah permasalahan, Islam menjadi pilihan untuk menemukan solusi, agar tidak tersesat dan teteup kudu’ berhati-hati… mau berkah dan ridho Nya, kan? ^^

 

Berbicara masalah pernikahan (beuugh berat, penulisnya saja belum nikah? Hoho..), prepare.com ^^… Awalnya dari niat, kata Ustadz Fauzil ‘Adhim. Karena memang Alloh selalu mengintai niat yang terbersit untuk dijadikan pertanyaan pertanggungjawaban. Juga karena Alloh meletakkan karunia balasan pada niat yang diteguhkan.

“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatannya. Dan bagi tiap-tiap orang terdapat balasan sesuai dengan niatnya… “
(HR. Bukhari&Muslim).

 

Ya,  dari niat!

Niat ketika kita berazzam untuk bersegera merenda sebuah kebersamaan suci, dalam naungan ridha Illahi. Niat ketika menetapkan kriteria-kriteria. Niat ketika kita memulai sebuah proses yang bersih, tanpa hubungan haram pacaran, tanpa interaksi yang mubadzir dan merusak hati. Niat ketika melihat calon suami atau kandidat isteri. Niat ketika menyaksikan kondisi keluarganya. Niat ketika menentukan mahar dan persyaratan. Niat ketika menyatakan persetujuan dan penerimaan. Niat ketika merencanakan hari akad dan perayaan walimah. Niat selama dalam penantian.

Niat dan niat, ketika dan ketika… ^^

 

Niat ketika mengucap ijab dan qabul. Niat di saat menerima ucapan selamat dan do’a. niat di waktu menjamu tamu. Niat di saat para tamu meninggalkan tempat. niat ketika mengucap salam dan mengetuk pintu kamar. Niat ketika berjama’ah dua raka’at pertama kalinya. Niat ketika meminum susu dari tepi gelas yang sama. Niat ketika mengajak bicara dan meneguhkan komitmen bersama. Niat ketika menyelinginya dengan canda. Niat ketika mengajaknya bermain dan tertawa.

Allahu Akbar… banyak sekali niat yang harus diteguhkan…

Lahaula wa laa quwwata illa billah…

Tolonglah kami, ya Alloh!

 

Kalau muncul pertanyaan, di jalan apa Anda menikah? Maka benarlah judul buku ustd. Pak Cah, Di Jalan Dakwah Aku Menikah. Karena, sekali lagi, rumahku adalah madrasah peradaban… ^^

insyaAlloh…

 

*diselesaikan, Sabtu 20 Ramadhan 1432 H. Pkl. 14.43 Wib. Di kost-an penuh kenangan.

Nama disamarkan, afwan jika terdapat kesamaan. ^^

tulisan ini ditulis sebagai rasa ingin tahu (jujur bangeeet ^^), juga miris melihat ada kondisi yang katanya ikhwah, namun di lapangan dalam melakukan proses ‘ini’ masih blepotan alias “tidak syar’i”. semoga tidak terjadi pada kita, saudaraku seiman..

jangan cepat puas dan lelah untuk memperoleh ilmu, Rasul SAW saja bilang, ingin masuk surga, mesti pake’ ilmu, kan?!!

Wallahu’alam bishowab… ^^

Categories: Lembar Kisah | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Dialog Imajiner; Akhwat Luguisme dan Akhwat Bijakisme ^^

  1. Mafa Myquran

    Awalnya adalah niat.. * Kado Pernikahan..

    Hadist itu juga yg ana ingat ketika Allah menggerakkan seseorang datg kpada org tua ana..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: