perpisahan, kesendirian

sndirisuatu saat kubaca tentang ‘Umar ibn Al Khaththab

adalah ia menangis,

hingga janggut hitamnya mengkilatkan air mata

ketika perbendaharaan kisra persia dihadapkan

“jika memang ini kebaikan”, begitu katanya

“mengapa ia tak terjadi di masa Rasululullah dan Abu Bakr?

ya Allah, hendakkah engkau memisahkanku

dari kedua sahabatku?”

maka begitulah ‘Umar

lelaki yang ditakuti syaithan

ia takutkan perpisahan

 

suatu saat, kubaca tentang ‘Utsman ibn ‘Affan

adalah ia, hanya menunduk dan hening ketika disebut neraka

tetapi ia menangis, bahunya berguncang

dan menutup wajah dengan kedua telapak

ketika mendengar kata kubur

“mengapa”, begitu ditanyakan padanya

dia menjawab, “andaikan pun disiksa

di neraka, kita takkan sendirian

ada banyak kawan”

***

“tapi di dalam kubur

siksa apalagikah yang lebih mengerikan

daripada kesendirian?”

itulah ‘Utsman

lelaki yang selalu berbagi

lelaki yang bashirahnya sejernih embun pagi

lelaki yang begitu menjunjung tinggi

indahnya kebersamaan, manisnya persahabatan

ia takut akan kesendirian

 

kukatakan pada diriku..

begitulah para pejuang

bahkan rasa takut mereka

adalah kepahlawanan..

-Salim A. Fillah-

 

*subuh kali ini membuka memory; merindukan I’tikaf Ramadhan kemarin, di rumah Allah brsama para shohabiah… ; Robb, jagalah aku kala dalam kesendirian.. sebab benar adanya; sendiri lebih mengkhawatirkan, karena tak ada bebas pengaruh.

(Cempedak, 26 Februari 2013; 05.00 wib)

Categories: Inspirasi | 3 Komentar

Bagaimana Mengelola Rasa?

5122647766_4475ca0afb

dimuat di dakwatuna

 

Tulisan ini saya buat tersebab jenuhnya dengan dunia facebook. ^^

Dunia yang menjadi washilah setan juga, jika tidak dikelola dengan ketersadaran kita.

Entahlah, mungkin karena saya belum lulus ujian yang Allah berikan, hingga saya harus di-remedial dengan motif ujian yang sama. Sungguh membosankan… ^^

Yahh, begitulah setan. Benar-benar konsisten dengan job-nya! Menggoda hingga di celah-celah manapun (QS.Al A’raf:16). Media, sebagai sarana untuk memudahkan penyampaian informasi dan ladang dakwah, pun diselusupinya!

Hem…

Tiba-tiba teringat orang tua dari salah seorang murid di tempat saya mengajar (sebenarnya, saya lebih suka dengan kata -mendidik- ^^), SDIT. Ia bercerita tentang puteranya yang duduk di kelas 5;

“Ummi, aku menyukai seorang perempuan di kelasku. Tapi ini rahasia! Aku tidak mau kasih tahu ummi, tentang siapa orang itu? Karena kata bu guru, kita boleh menyukai lawan jenis, tapi dengan syarat; tidak boleh ada seorangpun yang tahu, termasuk orang yang kita sukai itu! Jadi ummi, biar ini menjadi rahasia aku dan Allah saja.”

Unik, yahh?!

Benih-benih rasa cinta kepada lawan jenis, bisa ditemukan saat usia SD. Bayangkan jika ini tidak dikelola dengan baik! Akan merebak menjadi sebuah virus merah jambu, yang jenis-jenisnya bisa kita kenali di kalangan remaja dengan istilah ‘cinta monyet’, ada juga ‘pacaran’, dkk. Ya, ini fakta! Sudah menyerang, sekali lagi; sudah bisa menyerang, di kalangan mereka yang kata orang tua, masih ‘bau kencur’! Dan perlu kita ingat, semua virus merah jambu itu menjangkiti seseorang karena proses “pengelolaan” yang GAGAL! Ya, pengelolaan dalam merasakan cinta.

Masih ingatkah kisah wanita mulia, puteri kesayangan Rasulallah saw., Fatimah ra., dengan  Ali bin Abi Thalib ra.? Ternyata, keduanya saling menyimpan perasaan cinta di antara mereka. Ya, tersimpan dengan begitu rapat, sampai kedua belah pihak tidak ada yang mengetahui kondisi sama rasa tersebut. Dan yang lebih menakjubkan adalah rasa itu bisa lolos dari pantauan setan! Hanya Allah Yang Mengetahui lintasan hati di antara mereka saja.

Dan pada akhirnya, keduanya saling mengetahui perasaan cinta di antara mereka masing-masing ketika mereka menceritakannya saat sudah ter-sah-kan dengan ijab-qabul (menikah).

Betapa rapi pengelolaan rasa ini. Hingga Allah menghadiahkan dengan mempersatukan keduanya. MaasyaAlloh..

Kembali ke isu. ^^

Saya faham betul (ah, tidak! Lebih tepatnya menggunakan kata ‘seperti yang kita ketahui bersama’), ujiannya seorang lelaki adalah wanita, dan ujiannya para wanita adalah harta ^^. (garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum).

Sudahlah, jangan nyaman bersembunyi di balik dalih “itukan fitrah”. Ya, benar! Fitrah. Namun jangan terlenakan dengan berlindung pada dalih tersebut. Apakah dengan ‘fitrahnya manusia’ kemudian kita asyik saja menikmati ritmenya? Tanpa berikhtiar untuk berlingdung darinya? Hem?

Saudaraku, bantu kami menjaga kemurnian hati ini, agar tidak ada niatan menduakan-Nya, tidak ada niatan mengkhianati-Nya. Lantas menyelusup di dalam hati kami ketika beraktivitas adalah; agar engkau semakin rekat mencintai, agar engkau lebih mengagumi pesona kami, agar engkau…. agar engkau…  dan harapan agar engkau lainnya..

Cukup!

Simpan saja rapat-rapat, agar kami tidak mengetahuinya.

Simpan dalam-dalam, agar setan tak mencium informasi dari gerak-gerik sikapmu yang mencurigakan.

Jangan mudah sampaikan cinta, baik dengan verbal atau nonverbal-mu.

Ada saatnya, saudaraku… akan ada moment yang tepat… kala kau sudah berani meminang.

Dan engkau saudariku,

Muslimah sejati itu bukan dilihat dari kekhawatirannya yang takut digoda orang, tetapi dia yang merasa khawatir, jika ternyata dirinyalah yang menggoda!

Saya percaya..
Allah senantiasa mengajarkan; kembang itu pasti akan mekar, ketika telah tiba musimnya.
Ada hujan yang turun dengan basah dan derasnya, itupun pasti karena buminya sedang berdahaga.

Heum, Preventif lebih baik daripada mengobati, bukan?!

Ketika rasa itu muncul dalam hati, mari mintalah pertolongan Allah untuk menjaganya.

Semoga Allah mengaruniakan bashiroh yang jernih pada hati-hati kita… hingga mampu dan peka dalam membedakan; mana yang Allah suka, dan mana yang Allah murka?

Selamat menjaga izzah (harga diri), saudara/i Muslimku…

Jangan khawatir, sebab janji-Nya; ia yang terjaga, hanya untuk yang terjaga (QS. An Nur: 26).

Dan untukmu cinta,, di manapun engkau berada… bagaimanapun keadaanmu saat ini…

dan entah siapapun dirimu… sesungguhnya aku menyadari dirimu ada, ada dan ada!

Tetaplah indah terjaga di sana, terangkum lembut dalam perlindungan, serta tersimpan tenang dalam kedamaian… hingga hanya akan ada dua pilhan; kita bertemu atau kita dipertemukan.

Dan bagaimanapun datangnya jalanNya, engkau tetap sebaik-baik keberlimpahan, insyAlloh.^_^

Tulisan ini saya tutup dengan mengajak kita semua untuk merenungi kalimat yang Umar bin Khaththab ra.  Sampaikan, dengan khasnya yang tegas;

“Celakalah engkau! Apakah pernikahan hanya dibangun di atas cinta?! Lalu di manakah takwa, tanggung jawab, dan rasa malu?!”

Wallahu’alam… ^^

*Beginilah cobaan yang dialami oleh orang-orang yang benar-benar masih menempel status ke-jomblo-an pada dirinya. Haha.. 

Diselesaikan di Cempedak. 15 Desember 2012 pada penghujung rasa kantukku, 23:30 WIB.

 

Categories: Opini Sang Sufi | Tinggalkan Komentar

Mendedah Kontribusi Wanita Muslim

Sejak dakwah Islam lahir pada tahun pertama kenabian, sejak saat itu pulalah peran wanita Muslim (muslimah) dimulai. Maka kita pun mendapatkan hadits kedua Imam Bukhari menjadi bukti kontribusi pertama muslimah dalam dakwah. Saat Rasulullah tiba di rumah dari gua Hira dengan pengalaman spiritualnya yang luar biasa, beliau masih dalam ketakutan. Satu hal yang wajar, sebab beliau baru saja bertemu dengan makhluk yang tidak biasa beliau lihat. Lebih dari itu beliau mendapatkan tanggung jawab besar; sebagai Nabi.

Dalam kondisi seperti itulah beliau berkata: “Zammilunii… zammilunii…” (Selimuti aku, selimut aku..). Khadijah mengerti. Ia melakukan perannya. Ia wanita pertama yang telah berhasil menyemaikan dakwah yang saat itu baru mengecambah agar tetap bertumbuh. Maka Khadijah tidak hanya menyelimuti Rasulullah agar kondisi fisiknya membaik. Lebih dari itu Khadijah memotivasi sang suami agar yakin bahwa tidak ada hal yang salah pada dirinya.

“Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.” Begitu pandainya Khadijah meyakinkan.
Tidak berhenti di situ. Khadijah juga membawa Rasulullah kepada pamannya. Waraqah sang ahli kitab. Dari sanalah keyakinan keduanya semakin mantab. Ya, Muhammad telah menjadi Nabi!

Maka sejak saat itu sejarah dakwah ditulis. Namun ia telah ditulis dengan adanya peran muslimah. Khadijah yang pertama kali percaya dan menjadi muslimah. Khadijah ummul mukminin yang memberikan langkah awal dan teladan pertama bagi kiprah muslimah berikutnya.
Kini kita hidup di era yang berbeda. Sejarah dakwah telah berusia lebih dari empat belas abad sejak muslimah pertama berperan menyokongnya. Kita kini hidup di abad modern yang memiliki karakteristik zamannya sendiri. Banyak hal yang telah berubah. Bahkan dakwah di masa modern ini pun telah disusun sedemikian rupa dalam berbagai orbit atau mihwar-nya.


Memahami Realitas Muslimah
Hal pertama yang perlu dilakukan aktivis dakwah muslimah adalah introspeksi. Introspeksi nasib kaumnya. Memahami realitas muslimah. Realitas muslimah sebagai pribadi, dalam keluarga, dan realitas masyarakatnya. Secara jujur kita akan menemukan kata kunci untuk menggambarkan realitas muslimah masa kini: lemah!

Sebagai pribadi, banyak muslimah di negeri ini yang masih mengalami kekeringan jiwa, tidak memahami tujuan penciptaannya, dan dilanda keputusasaan. Pendek kata, mereka masih jauh dari Islam.

Pada lingkungan Keluarga, secara ekonomi banyak keluarga di Indonesia yang miskin secara ekonomi dan bodoh secara pendidikan. Keduanya lalu dipertahankan oleh keluarga-keluarga baru yang terbentuk tanpa kesiapan yang memadai.

Tidak siap membangun keluarga, juga tidak siap mendidik anak-anak yang lahir nantinya. Maka kemiskinan, kebodohan, ketidaksiapan itu seperti telah menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan.

Lalu masyarakat. Ia juga tidak lebih baik dari keduanya. Karena pada dasarnya masyarakat adalah bangunan besar dari keluarga-keluarga yang tentu saja terdiri dari individu-individu. Di antaranya adalah muslimah, yang bahkan menjadi unsur terbesar pembentuk masyarakat. Realitasnya, masyarakat kita saat ini telah terserang berbagai penyakit. Mulai dari individualisme, hedonisme, sekuler, sampai pornografi.

Realitas yang demikian, bagi aktivis dakwah muslimah, seharusnya menjadi pemicu dan tantangan tersendiri untuk meningkatkan kontribusinya dalam memperjuangkan Islam. Realitas ini (yang jika dipahami dengan baik) akan mendorong semakin kuatnya azzam untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Akan menjadi landasan; mengapa muslimah harus berkontribusi?

 

Tahapan dalam Amal atau Kontribusi

Islam merupakan agama yang melingkupi seluruh aspek kehidupan (syamil mutakamil). Maka kita akan mendapatkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan ini Islam telah menyediakan aturannya; ada yang bersifat umum ada yang detail. Pada saat Islam diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan itulah maka peradaban Islam yang gemilang akan terwujud.

Sementara kini, dakwah tengah berjalan menuju ke sana. Ada banyak konsep dalam tiap gerakan dakwah yang ditawarkan lalu menjadi manhaj perjuangannya masing-masing. Namun, kebertahapan adalah sebuah sunnatullah yang bisa didapatkan intisarinya dalam Al-Qur’an dan hadits. Mungkin pencapaiannya akan terasa lama. Tetapi inilah cara yang efektif dan ditemukan dari dua pusaka Islam tersebut. Formulasi tahapan perjuangan seperti ini disebut Hasan Al-Banna sebagai maratibul amal (Tahapan dalam Amal).

  1. Perbaikan Diri Sendiri (Islahun Nafsi)

Wanita Muslim harus serius dalam melakukan siyasatun nafs, yaitu bagaimana agar unsur dalam diri dapat mengendalikan unsur dalam diri lainnya.

Potensi taqwa mengendalikan potensi fujur. Potensi kebaikan mengalahkan potensi keburukan. Lalu ia berkontribusi dalam upaya memperbanyak muslimah lain melakukan ishlahun nafsi pula, dengan cara : pertama, menjadikan diri sebagai teladan. Kedua, menginspirasi orang-orang terdekat, baik keluarga, saudara, sahabat atau teman untuk melakukan ishlahun nafsi. Ketiga, berusaha tetap istiqamah dalam memperbaiki dirinya dan mengajak orang terdekat untuk melakukan hal yang sama. Proses ini harus terus dilakukan hingga kematian menghentikan.

2. Membina Rumah Tangga Islami (Bait al-Muslim)

Bagaimana agar muslimah bisa mengatur rumah tangga, sementara suami tetap pemimpin dalam keluarga. Maka kontribusi muslimah mewujud dalam bentuk; menjadi istri yang shalihah, menjadi anak yang shalihah bagi orang tuanya, menjadi ummi madrasah bagi anak-anaknya, yang mampu menjadi teladan bagi mereka serta menjalankan peran taurits (pewarisan), baik pewarisan ideologi, cita-cita, dan kebaikan.

  1. Membentuk Masyarakat Islami (Irsyad Al-Mujtama’)

kontribusi muslimah yang perlu dilakukan adalah menjadi daiyah dengan pemahaman metode dan fiqih dakwah yang baik, berkhidmah melalui profesi dan keilmuan di bidangnya untuk kemajuan masyarakat, dan peduli serta terlibat dalam upaya penyelesaian problem-problem pokok masyarakat terdekat. Mungkin tidak semua muslimah berkesempatan melakukan semua kontribusi itu. Misalnya dalam keilmuan dan profesi. Ini terutama bagi muslimah yang diamanahi profesi tertentu. Bukan berarti muslimah yang “profesi”-nya sebagai ibu rumah tangga kurang kontributif. Bukan.

Semua sesuai dengan level dan kemampuan masing-masing. Namun, dalam level apapun, muslimah harus mengukir tinta emas dalam kehidupannya.

  1. Membebaskan negeri muslim dari penjajahan asing (Tahrirul Wathan)

Muslimah bisa memberikan kontribusinya dalam bentuk pembelaan atas setiap jengkal tanah kaum muslimin yang terzalimi dan berkontribusi dalam mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Tentu dalam kontribusi ini tidak otomatis sama dengan peran lelaki muslim (ikhwan). Namun ia tetap memiliki komitmen dan kontribusi, sebagaimana muslimah Palestina yang menanamkan jiwa jihad dalam diri anak dan suaminya, bahkan ada sebagiannya yang turut langsung terjun ke medan jihad melawan penjajah Israel.

5. Memperbaiki pemerintahan (Islahul Hukumah)

Muslimah harus menggunakan hak-hak politiknya dalam memperbaiki pemerintahan. Apalagi fakta berbicara bahwa wanita adalah pemilih terbesar yang otomatis jumlah suaranya lebih menentukan siapa yang berhak menjadi pemerintah. Setingkat lebih tinggi dari itu adalah peran muslimah untuk turut melakukan pendidikan politik (tarbiyah siyasiyah) dan advokasi kepada masyarakat agar sadar politik dan tergerak melakukan perbaikan. Lebih besar lagi tanggungjawabnya di bidang ini, adalah ketika muslimah berperan aktif dalam ranah publik dan politik. Tentu ini membutuhkan kesiapan yang lebih besar pula.
6. Menegakkan Negara Islam (Siyasatu Ad-Daulah)

Ada dua kaidah penting yang dikemukakan Ikhwan. Pertama, prinsip umum emansipasi antara laki-laki dan perempuan, bahwa muslimah memiliki peran yang tidak bisa dilakukan laki-laki, baik itu dalam pengurusan rumah tangga maupun pendidikan anak. Sedangkan dalam politik, sebagaimana wanita bukanlah jenis kelamin di bawah laki-laki, ia pun memiliki hak politik yang setara, dan berhak menempati posisi sebagai legislatif dan jabatan-jabatan kepemimpinan tertentu. Maka dalam maratibul amal ini, kontribusi muslimah bisa mewujud dalam kontribusi di berbagai organisasi dan lembaga profesi, birokrat, termasuk legislatif. Intinya; muslimah perlu berkontribusi semampunya, mengoptimalkan potensi-potensinya dengan tetap mengambil jalan keseimbangan dan keadilan bagi peran-perannya.
7. Islam sebagai pusat peradaban dunia (Ustadziyatu Al-Alam)

Muslimah pun tetap dituntut kontribusinya. Pada tahapan inilah ditegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama ini hanya menjadi milik Allah.

Karakter Wanita Muslim

 

Sedikitnya ada 5 karakter yang dibentuk pada seorang muslimah. Karakter itu antara lain:

Pertama, Bertaqwa.

Kedua adalah sejahtera, menyangkut aspek; ekonomi, kemananan fisik dan kenyamanan psikologis.
Ketiga, cerdas. Menuntut muslimah membekali akalnya dengan hakikat yang benar, makna hidup terbaik, dan pengetahuan yang benar. Muslimah juga harus membekali akal pikirannya dengan sejarah Islam dan berbagai pengetahuan modern.
keempat adalah berdaya. Sehingga muslimah bisa memberikan kemanfaatan kepada diri, keluarga, masyarakat dan negaranya secara seimbang.

Kelima, berbudaya. Yakni dengan mewarnai budaya yang sudah ada agar menjadi islami dan mengembangkan iklim budaya yang lebih kondusif bagi muslimah untuk memuliakan harkat dan martabatnya.

Selamat berkontribusi saudari Muslim-ku, semoga Alloh ridho bahwa generasi Rabbani penerus dakwah kelak lahir dari rahim & tangan kita; untuk Islam.

Referensi:

Zarkasyi, Sumaryatin. 2010. Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah. Solo:Era Adicitra Intermedia.

*diselesaikan  di Dahlia, 8 Oktober 2012 membersamai Hijjaz – Khadijah. 20.05 wib

Categories: Inspirasi | Tinggalkan Komentar

Ukhuwah adalah Bermasalah

Selama ini, ketika membaca sirah, yang kita bayangkan seolah-olah di antara RasuluLlah dan para sahabatnya tidak ada masalah-masalah yang pelik dalam soal ukhuwah. Padahal pernahkah kita membayangkan situasi ketika kita suatu saat, berada pada keadaan di mana orang yang paling kita cintai berdiri di hadapan kita untuk membela dan melindungi orang yang paling kita benci?? Itulah yang terjadi pada Muhammad saw ketika terjadi Fathul Makkah.

Ada di antara seorang Quraisy bernama AbduLlah bin Abi Sarh, seorang yang pernah masuk Islam. Namun, begitu masuk Islam karena kecerdasan dan kebaikannya, oleh Nabi saw, dia diangkat untuk menjadi penulis wahyu. Sayangnya, baru menulis beberapa ayat dari Al Quran, lalu dia murtad (keluar dari Islam) dan melarikan diri kembali ke Mekkah. Lalu, di Mekkah dia membocorkan seluruh detail pertahanan Madinah, hingga dia memprovokasi sebuah perang yang tidak akan dilupakan oleh seluruh penduduk Madinah karena betapa payahnya mereka menghadapi itu. Sebuah perang total yang dilancarkan oleh orang-orang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan, yaitu perang Ahzab. Inilah provokatornya, AbduLlah bin Abi Sarh.

Maka ketika terjadi Fathul Makkah, RasuluLlah memerintahkan dengan tegas: “Siapapun yang bertemu dengan AbduLlah bin Abi Sarh, dimanapun dia bahkan meskipun bergantung di atas Ka’bah, bunuh.” Sebab dosanya tidak terampunkan, sebab kesalahannya kepada kaum muslimin tidak bisa ditolerir.

Akan tetapi, inilah AbduLlah bin Abi Sarh, dia bersembunyi di satu tempat. Lalu, ketika rombongan kaum muslimin lewat, dia cari dengan teliti dimana saudara sepersusuannya yang tak lain saudara sepersusuannya adalah Utsman bin Affan ra. Setelah diketemukan, dia pun berlari mendekat ke arah Utsman, menggandeng tangannya, dan kemudian mengatakan kepada Utsman: “Demi Allah, hai Utsman, aku telah menggandeng tanganmu, maka demi Allah, aku berharap engkau bisa menyelamatkan nyawaku atas nama persaudaraan yang ada diantara kita.”

Kita tahu semua, Utsman bukan orang yang tega hati. Maka, permintaan saudara sepersusuannya itu akan dia kabulkan. Dengan amat sangat berat, gemetar, dan berkeringat dingin, Utsman membawa AbduLlah bin Abi Sarh menghadap RasuluLah saw. Dan Utsman bicara terbata-bata: “Ya RasuluLlah, aku memohonkan kepadamu untuk pengampunan bagi AbduLlah bin Abi Sarkh dan demi Allah aku melindunginya, ya RasuluLlah.”

Inilah Utsman, seorang yang paling dicinta oleh RasuluLlah saw, seorang yang, bahkan karena betapa sayangnya RasuluLlah kepada Utsman, diambil menantu pun sampai dua kali. Karena sayangnya RasuluLlah kepada Utsman, ketika Utsman dikabarkan terbunuh dalam peristiwa Hudaibiyah, beliau ulurkan tangannya: “Ini tangan Utsman, siapa berbaiat kepadaku untuk Utsman?” Dan hari ini, Utsman berdiri di hadapannya melindungi orang yang namanya AbduLlah bin Abi Sarh, orang yang paling dibenci oleh kaum Muslimin pada umumnya.

Terdiam RasuluLlah, tidak berbicara, tak ada kata sama sekali. Panjang hening itu, sampai andaikan ada sehelai rambut jatuh, pasti terdengar salah seorang di antara sahabat. Hening sekali. sampai akhirnya, setelah beberapa lama kemudian RasuluLlah menundukkan kepala dan mengatakan “Iya.” Lalu, Utsman bergegas untuk membawa AbduLlah bin Abi Sarkh ke tempat yang aman. Ba’da itu, RasuluLlah bersabda: “Andai saja tadi ada di antara kalian yang maju dan memenggalnya. Sesungguhnya aku telah berdiam lama agar ada di antara kalian yang maju dan memukul tengkuknya.” Salah seorang dari kaum Al-Anshar berkata: “Mengapa engkau tidak memberi isyarat kepada kami ya RasuluLlah?” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Nabi tidaklah berkhianat meski hanya dengan isyarat!”

Ada situasi-situasi yang tidak mudah di dalam sebuah kehidupan ukhuwah para sahabat dan bahkan dengan RasuluLlah. Bukan hanya Utsman, kita ingat seseorang yang bernama Thalhah bin UbaidiLlah. Seorang yang mempersembahkan tubuhnya untuk menjadi perisai bagi tubuh RasuluLlah saw. Dia tak rela secercah pun kulit beliau terluka. Sedangkan Thalhah sendiri memiliki 70 luka yang mendera tubuhnya akibat tusukan tombak, hunjaman anak panah, serta sabetan pedang. Bahkan, dua jarinya hilang dan lutut bagian bawahnya tertebas sehingga seumur hidupnya Thalhah akan agak terpincang ketika berjalan. Ketika luka itu mengalirkan darah maka doanya kepada Allah adalah: “Rabb, khudz biddaamii hadzal yaum hatta tardho. Ya Allah, ambil darahku hari ini sampai Engkau ridho.” Dan ketika selesai perang, RasuluLlah dengan menitik air mata pun tersenyum melihat Thalhah berjalan tertatih-tatih, kata Nabi: “Barangsiapa ingin melihat syuhada (orang yang mati syahid) yang berjalan di muka bumi, maka hendaklah ia melihat Thalhah bin Ubaidillah.” Bahkan jika Abu Bakar mengingat Perang Uhud, beliau selalu berkata: “Hari itu adalah milik Thalhah.” Tetapi, semua pahlawan punya ceritanya sendiri. Antara Nabi saw dengan Thalhah ra bukan berarti tidak ada masalah. Dan masalah itu terjadi justru di saat-saat yang sangat genting, di penghujung risalah.

Pada suatu hari, Thalhah bin UbaidiLlah ra, demikian diceritakan Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam Lubabun Nuqul fi Asbabun Nuzul, sedang berbincang akrab dengan sepupunya, Aisyah ra. Berbincang ia dengan sepupunya yang tak lain ialah istri RasuluLlah, lalu RasuluLlah ketika itu pulang dan melihat mereka berbincang. Terbitlah seketika sesuatu yang sangat manusiawi pada diri beliau, cemburu, sebagai seorang suami. Lantas RasuluLlah memerintahkan agar Aisyah masuk. Apa kata Thalhah ketika itu? Gumamnya dalam hati: “Beliau melarangku berbincang dengan Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar Aisyah.”

Pulanglah Thalhah dan kalimat itu sampai ke telinga Umar bin Khattab (karena Thalhah pernah mengungkapkan maksud tersebut kepada kawan). Maka, Umar mendatangi RasuluLlah dan berkata: “Wahai Rasulullah, telah masuk ke tempatmu orang yang baik dan jelek, alangkah baiknya kalau seandainya engkau memerintahkan kepada istri-istrimu untuk memasang hijab (tabir) dari mereka.”

Hal ini adalah masalah di antara aktivis-aktivis dakwah yang paling puncak surganya: RasuluLlah, Thalhah, dan Umar. Maka kelak Umar akan mengenang: “Aku menetapi keputusan Rabbku dalam tiga perkara, dan di antaranya adalah tentang hijab.” Karena belum Umar selesai bicara, ayat ke-53 surat Al Ahzab turun kepada RasuluLlah. Dan kemudian RasuluLlah membacakannya sehingga Umar merasa sangat lega, karena ayat itu mengatakan:

“Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Di satu sisi, ketika ayat itu disampaikan kepada Thalhah bin UbaidiLlah ra, beliau menangis sesenggukkan. Luar biasa sakit dan sembilu di hati beliau. Betapa menyesalnya beliau atas kata-katanya, lalu beliau bebaskan dua budaknya, beliau sedekahkan 10 untanya, dan beliau berangkat untuk menebus kesalahan dengan umrah jalan kaki ke Mekkah. Namun, apa yang paling memilukan? Ketika Thalhah pulang dari umrah, RasuluLlah sudah wafat. Alangkah terbebannya beliau, ketika RasuluLlah wafat tanpa beliau hadir, dan ketika beliau belum menuntaskan satu masalah yang terjadi di antara mereka. Sakit sekali.

Kemudian, inilah yang dimanfaatkan oleh Ali bin Abi Thalib untuk nanti saat Waq’atul Jamal membangun perdamaian: “Hai Thalhah, datanglah ke kemahku. Aku rindu saat-saat dimana kita mengayunkan pedang bersama di sisi RasuluLlah. Kenapa hari ini kita saling berhadapan? Datanglah, aku rindu.”

Begitu Thalhah datang, Ali menghadap ke arah dinding sambil berkacak pinggang, kemudian dengan sangat merdu membaca Al Qur-an surat Al Ahzab ayat ke-53. Thalhah terisak. Dadanya bergemuruh oleh malu dan sesal. Bahu kekarnya bergeletar.

Ali menepuk bahu Thalhah. “Ya”, katanya sambil mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat tercabiknya batin Thalhah oleh kata-katanya. Tapi demi perdamaian dan persatuan kembali kaum Muslimin, Ali mau tak mau harus mengatakan ini. Ia menguatkan hati. “Ayat itu turun karena maksud hati dan ucapanmu untuk menikahi Aisyah.”

Ali meraba reaksi Thalhah. Lalu Ia melanjutkan sambil menatap tajam pada sahabatnya itu. “Dan kini sesudah beliau saw benar-benar wafat, mengapa engkau justru membawa Aisyah keluar dari hijabnya dan mengajaknya mengendarai unta dan berperang di sisimu?”

Thalhah menubruk Ali, memeluk dan menangis di bahunya. Hari itu mereka sepakat berdamai dan menyudahi perang saudara. Dan di hari itu pula, sepulang dari kemah Ali, Thalhah, bersama Az Zubair sahabatnya dibunuh oleh orang-orang yang tak menghendaki perdamaian. Dan Ali ibn Abi Thalib dengan duka yang begitu dalam, sore itu, menggali kubur untuk kedua cintanya.

Begitulah, berukhuwah adalah bermasalah. Hanya saja, meskipun ada masalah-masalah itu, kita tetap berpeluk dan berdekap, dalam dekapan ukhuwah, menuju ufuk kebaikan tertinggi.

Sabtu, 8 September 2012; Cengkeh.

Referensi:

Dalam Dekapan Ukhuwah: ust. Salim A. Fillah

 

Categories: Inspirasi | Tinggalkan Komentar

Am I The Winner?

Ku sapa bayang di cermin;

Bagaimana kondisi ruhiyahmu ba’da Ramadhan?

Adakah Ramadhan yang kau lewati memberi nilai perubahan yang cukup jelas?

Atau, berlalu tanpa meninggalkan bekas?

 

Ramadhan menyisakan banyak cerita indah. Ada bahagia yang membuncah, ada kisah yang sangat indah. Di bulan ini ada amal yang tersemat perlahan, dipelihara sejak awal mula, dan dirintis dengan banyak do’a. Mungkin ada di antara kita yang menemukan secercah hidayah. Mencoba memeluknya kuat-kuat dan ingin berdiri tegak di atasnya. Namun nampaknya ujian dan godaan begitu besar. Sehingga dahsyatnya badai hampir saja meluluhkan pegangan tangan. Deru angin hampir saja memecah konsentrasi diri, sehingga ingin lepas dari hidayah Ar Rahman.

Kini kita masuk di bulan Syawal. Secara harfiyah, “Syawal” sendiri artinya “peningkatan”, yaitu peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah sebagai hasil training selama Ramadhan. Umat Islam diharapkan mampu meningkatkan amal kebaikannnya pada bulan ini, bukannya malah menurun kembali ke “watak” semula yang jauh dari Islam.

Bulan inilah yang nantinya akan menentukan, apakah kita benar-benar seorang pemenang? Ataukah selama ini kita hanya bermain-main saja? Do’a yang kita panjatkan selama Ramadhan seharusnya menjadi sebuah keseriusan. Ia bukan hanya lips service, sebatas kata-kata indah belaka. Namun ia adalah permintaan dan harapan. Ia bukan hanya sebatas lantunan do’a yang melankolis, mengundang tangis. Namun do’a-do’a itu yang akan didengar Alloh. Dan bisa jadi Alloh akan mengabulkannya di bulan Syawal ini.

Inilah bulan Syawal itu. Bulan untuk kita lebih giat lagi beramal. Bulan yang harus dijaga konsistensi amal kita. Jangan kena virus malas dan menunda. Malas melanjutkan kebaikan selama Ramadhan, dan selalu menunda datangnya kebaikan-kebaikan amal berikutnya. Inilah bulan motivasi hati dan pikiran. Bulan untuk menghasilkan karya terbaik, bagi diri, keluarga dan umat Islam.

Jadilah pemenang!

Karena kemenangan adalah dia yang bisa melewati kekalahan-kekalahannya dan mampu mempertahankan kemenangan itu sendiri, serta menjadikan dirinya harus bisa lebih baik dari siapapun.

Alloh, terimalah amal para shalih/ah yang menghidupkan Ramadhan dalam ketaatan, karuniakan pada mereka kekuatan me-Ramadhan-kan hidup…

 

*Diselesaikan 2 Syawal 1433H, 21.12 WIB; Tanjung Rusia.

Categories: Opini Sang Sufi | 2 Komentar

Cari Siapa?

 

 

 

 

 

 

 

Hey…  Siapa gerangan yang Anda cari?

Jika mencari wanita yang jelita; bukanlah saya orangnya!

Jika mencari wanita yang mahir; bukanlah saya orangnya!

Jika mencari wanita titisan hartawan; bukanlah saya orangnya!

Jika mencari wanita yang dermawan; bukanlah saya orangnya!

Pun jika mencari wanita yang shalihah; bukan jua saya orangnya!

Namun,

jika mencari wanita yang butuh dibimbing;  sayalah orangnya…

 

*Tj.Rusia, 27 Ramadhan 1433H. Si bodoh ini menyemangati diri tuk mengayunkan jemari, kembali…

Categories: Lembar Puisi | 2 Komentar

Mengapa Harus Satu Juz Setiap Hari?

“Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an
minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar
jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”
(Hasan al-Banna dalam Majmuatur Rasail –risalah pergerakan- )

Saudaraku, sadarkah kita bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada manusia agar menjadi sumber tazwid (pembekalan) bagi peningkatan ruhiy (spiritualitas), fikri (pemikiran) serta minhaji (metodologi da’wah) ? Sehingga jika sehari saja kita jauh dari al-Qur’an, berarti terputuslah dalam diri kita proses tazwid tersebut? Sadarkah kita bahwa yang akan terjadi adalah proses tazwid dari selain wahyu Allah; baik itu dari televisi koran, majalah, maupun yang lainnya yang sesungguhnya akan menyebabkan ruh yang ringkih dan keyakinan yang melemah terhadap fikroh dan minhaj ? Padahal tiga unsur ini sesungguhnya menjadi sumber energi untuk berdakwah dan berharokah. Sehingga melemahlah semangat beramal saleh dan hadir dalam halaqoh, padahal halaqoh merupakan pertemuan untuk komitmen beramal saleh.
Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau proses tazwid itu telah terputus sepekan, dua pekan, bahkan berbulan-bulan. Semoga Allah menjaga kita dari sikap menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang mahjuran (ditinggalkan).

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورً
Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang ditinggalkan “. (Q.S. Al-Furqan ayat 30)

Sesungguhnya ibadah tilawah satu juz ini sudah tertuntut kepada manusia sejak dia menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, cukup banyak orang-orang yang tanpa tarbiyah atau halaqoh, namun memiliki komitmen tilawah satu juz setiap hari, sehingga setahun khatam 12 kali (bahkan lebih, karena saat bulan Ramadhan dapat khatam lebih dari sekali).

Lalu, bagaimana dengan kita, ashhabul (aktifis) harokah wad da’wah ? Sudahkah keislaman kita membentuk kesadaran iltizam (komitmen) dengan ibadah ini ? Ketika kita melalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah dha’ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan karena tidak mampu melafalkan ayat-ayat al-Qur’an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus dibentuk dalam hal ini bukanlah hanya sebatas mampu membaca, namun lebih dari itu, bagaimana membentuk kemampuan ini menjadi sebuah moralitas ta’abbud (penghambaan) kepada Allah, sehingga hal ini menjadi sebuah proses tazwid yang berkesinambungan sesuai dengan jauhnya perjalanan da’wah ini !

Dari sini kita menjadi faham, bahwa ternyata tarbiyah adalah sebuah proses perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lakukan. Semoga belum mampunya kita dalam beriltizam dengan ibadah ini adalah karena masih sedikitnya jarak yang kita tempuh. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan proses tarbiyah, dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah ini. Dan sekali-kali janganlah kita menutupi ketidak mampuan kita terhadap ibadah ini dengan berlindung di bawah waswas syaithan dengan bahasa sibuk, tidak sempat, acara terlalu padat dan lain sebagainya.

Sadarilah bahwa kesibukan kita pasti akan berlangsung sepanjang hidup kita. Apakah berarti sepanjang hidup kita, kita tidak melakukan ibadah ini hanya karena kesibukan yang tak pernah berakhir ?

Kita harus berfikir serius terhadap tilawah satu juz ini, karena ia merupakan mentalitas ‘ubudiyah (penghambaan), disiplin dan menambah tsaqofah. Apalagi ketika kita sudah memiliki kesadaran untuk membangun Islam di muka bumi ini, maka kita harus menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan ini. Al Ustadz Asy Syahid Hasan Al-Banna Rahimahullah begitu yakinnya dengan sisi ini, sehingga beliau menjadikan kemampuan membaca al-Qur’an satu juz ini sebagai syarat pertama bagi seseorang yang berkeinginan membangun masyarakat Islam.

Dalam nasihatnya beliau mengatakan, “Wahai saudaraku yang jujur dengan janjinya, sesungguhnya imanmu dengan bai’at (perjanjian) ini mengharuskanmu melaksanakan kewajiban-kewajiban ini agar kamu menjadi batu bata yang kuat, (untuk itu) : “Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”

Sebagaimana kita saat melakukan hijrah dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islamiyah harus banyak menelan pil pahit selama proses tarbiyah, maka jika kita sudah ber’azam (bertekad) untuk meningkat kepada kehidupan yang ta’abbudi (penuh nilai ibadah), maka kita harus kembali menelan banyak pil pahit tersebut. Kita harus sadar bahwa usia dakwah yang semakin dewasa, penyebarannya yang semakin meluas dan tantangannya yang semakin variatif sangat membutuhkan manusia-manusia yang Labinatan Qowiyyatan (laksana batu bata yang kuat). Dan hal tersebut kuncinya terdapat di dalam interaksi dengan al-Qur’an !

Sebuah proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi hati dan jiwa yang semakin bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-Qur’an mengalami proses peningkatan. Sejarah mencatat bahwa para sahabat dan salafusshalih ketika mendengar Rasulullah SAW bersabda, “bacalah al-Qur’an dalam satu bulan”, maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang minimal.

Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal ! Maka tugas yang sangat minimal inipun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah) ?

Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan al-Qur’annya dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Jadi, jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Maryam, misalnya.
Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan al-Qur’an. Berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari al-Qur’an !

Kalau saja tarbiyyah qur’aniyyah kita telah matang, kita akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran. Begitu juga beda antara an-Nisaa, al-Maidah dengan surat yang lainnya. Sehingga ketika seseorang sedang membaca an-Nisaa, pasti dia akan merindukan al-Maidah. Inilah suasana tarbiyyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Kita harus waspada, jangan sampai hidup ini berakhir dengan kondisi kita melalaikan ibadah tilawah satu juz. Sehingga hidup berakhir dengan kenangan penyesalan. Padahal sesungguhnya kita mampu kalau saja kita mau menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyyah ini.

Kiat Mujahadah dalam Bertilawah Satu Juz
1. Berusahalah melancarkan tilawah jika Anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Jika lebih dari itu, Anda harus lebih giat berusaha melancarkan bacaan. Jika melihat durasi waktu di atas, sangat logis untuk melakukan tilawah satu juz setiap hari dari waktu dua puluh empat jam yang kita miliki. Masalahnya, bagaima kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya.

2. Aturlah dalam satu halaqah, kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. Kiat ini terbukti lebih baik daripada ‘iqob (hukuman) yang terkadang hilang ruh tarbawi nya dan tidak menghasilkan mujahadah yang berarti.

3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan ! Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur’aniyyah di dalam diri kita.

4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah yang memiliki al-Qur’an ini. Pengaduan kita kepada Allah yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.

5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang llain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah. Jika kita saat ini sering berbicara tentang ri’ayah maknawiyyah (memperkaya jiwa), maka sesungguhnya pesan Imam Syahid ini adalah cara me- ri’ayah maknawiyyah yang paling efektif dan dapat kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Ditinjau dari segi apapun, ibadah ini harus dilakukan. Bagi yang yakin akan pahala Allah, maka tilawah al-Qur’an merupakan sumber pahala yang sangat besar. Bagi yang sedang berjihad, dimana dia membutuhkan tsabat (keteguhan hati), nashrullah (pertolongan Allah), istiqomah, sabar dan lain sebagainya, al-Qur’an tempat meraih semua ini. Kita harus serius melihat kemampuan tarbawi dan ta’abbudi ini, agar kita tergugah untuk bangkit dari kelemahan ini,

Kendala yang Harus Diwaspadai
1. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca al-Qur’an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada al-Qur’an.

2. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca al-Qur’an. Sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca al-Qur’an.

3. Tidak memiliki waktu wajib bersama al-Qur’an dan terbiasa membaca al-Qur’an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah al-Qur’an.

4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah agar dimudahkan tilawah al-Qur’an setiap hari. Materi do’a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.

5. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah al-Qur’an ini. Rasulullah bersabda, “Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya.”

6. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan al-Qur’an. Padahal menghidupkan majlis-majlis al-Qur’an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan al-Qur’an.

Akibat dari Tidak Serius Menjalankannya
1. Sedikitnya barokah dakwah atau amal jihadi kita, karena hal ini menjadi indikasi lemahnya hubungan seorang jundi pada Allah. Sehingga boleh jadi nampak berbagai macam produktivitas dakwah dan amal jihadi kita, namun dikhawatirkan keberhasilan itu justru berdampak menjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Kemungkinan yang lain, bahkan lebih besar, adalah tertundanya pertolongan Allah SWT dalam amal jihadi ini. Kalau jihad salafusshalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunnah bersiwak (menggosok gigi), apalagi karena meninggalkan suatu amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu ? Oleh karena itu, masalah berinteraksi dengan al-Quran selalu disinggung dengan ayat-ayat jihad, seperti surat al-Anfaal dan al-Qitaal

3. Terjauhkannya sebuah asholah (keaslian/orisinalitas) dakwah. Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah dakwah bil qur’an. Bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah bil qur’an kalau interaksi kita dengan al-Qur’an sangat lemah ?
Bahkan sampai tak mencapai tingkat interaksi yang paling minim, sekedar bertilawah satu juz saja ?

4. Terjauhkannya sebuah dakwah yang memiliki jawwul ‘ilmi (nuansa keilmuan). Hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat yang sumber utamanya dari al-Qur’an. Maka minimnya kita dengan pengetahuan ke –al-Qur’an- an akan sangat berdampak pada lemahnya bobot ilmiyyah diniyyah (keilmuan agama) kita. Dapat dibayangkan kalau saja setiap kader beriltizam dengan manhaj tarbiyyah yang sudah ada. Lebih khusus pada kader senior. Pasti kita akan melihat potret harokah dakwah ini jauh lebih cantik dan lebih ilmiyyah.

5. Terjauhkannya sebuah dakwah yang jauh dari asholatul manhaj. Bacalah semua kitab yang menjelaskan manhaj dakwah ini. Khususnya kitab Majmu’atur rosail (diterjemahkan oleh Ustadz Anis Matta dalam bahasa Indonesia dengan judul “Risalah Pergerakan”) ! Anda akan dapatkan begitu kental dakwah ini memberi perhatian terhadap interaksi dengan al-Qur’an. Tidakkah kita malu ber-intima’ (menyandarkan diri) pada dakwatul ikhwah, namun kondisi kita jauh dari manhaj-nya ?

Semoga kita tergugah dengan tulisan ini, agar kita lebih serius lagi melaksanakan poin pertama daripada wajibatul akh (kewajiban aktifis muslim) ini.

Oleh:

Al-Ustadz Al-Hafidz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.

Categories: Inspirasi | Tinggalkan Komentar

Pepaya untuk Tetangga

eumm… yummy

dimuat di dakwatuna.com

Sudah lama gak pulang kampung ^^, ada tetangga baru rupanya di samping rumah. Tapi kali ini saya agak kerepotan, akan lebih sering menjaga hati dan pendengaran untuk berkonsentrasi (lebay!). Bukan apa-apa, nih tetangga punya hobi dengerin musik kuat-kuat, sampai suaranya bak menggedar-gedor jendela kamar saya, mengusik kekhusyu’an dalam melahap buku, atau yang sedang mengerjakan draft Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dll. untuk saya selesaikan selama liburan ini -_-‘ (cie… rajin beneur ^^.  *ini Tuntutaaaaannn!!).

Posisi sound di rumah si tetangga baru, mungkin tepat bersejajar dengan kamar saya! T.T  untung bawa earphone! Bisa disumpel nih telinga dengan suara nasyid atau murottal dari laptop, hehe… tapi tetap proporsional juga, nanti kalau ada yang ketok-ketok rumah malah kagak kedengeran. Maklum, kalau Abah dan Mak lagi jemput rezeki maka tugas saya adalah menjaga rumah (Ooh, satpam ya? ^^).

Kembali ke soal tetangga baru tadi, sebenarnya ini masalah (lebih pasnya: tantangan) bagi saya, tidak bisa dibiarkan! Grrrr… musiknya itu lho, tepat kaya’ musik yang selalu saya dengar kalau naik angkot, musik disco! Telinga saya panaaaassshh!! (haha.. lebay berpangkat! *Eh, ini sungguh! -_-‘).

Baiklah, saya coba ke dapur, lirak-lirik di dalam kulkas. Ada sesuatu gak ya…?

Pepaya segar, eummm…  Aha! saya punya ide! (meski belum izin sama Mak. Ah, gampang! Bisa dijelaskan nanti kalau sudah pulang. Peace… ^^)

Saya kupas dan potong-potong sedemikian rupa si Pepaya, setelahnya saya taburi dengan susu kental manis, sehingga… Nampak lezat untuk dimakan saat cuaca panas seperti ini (yummy! Mau nyobain, tapi lagi shaum…  Sabar! Sabar! -_-‘).

Yup! Pepaya segar nan sederhana ini akan saya bawa ke tetangga sebelah. Biar tau pemilik baru di rumah itu, kalau kita hidup bertetangga ^^.

Dengan langkah mantap dan berkibar-kibarnya jilbab marun (lebbaaaayyy!), saya membawa piring berisi Pepaya segar nan sederhana menuju rumah ber-cat ungu.

“Tok..tok.. assalamu’alaikum…” sapa saya, sambil mengayunkan punggung tangan ke daun pintu warna ungu muda itu, berkali-kali. Nampaknya harus lebih kuat, agar bisa mengalahkan suara musik disco di dalamnya.

Alhamdulillah, ada yang bukain pintu…

Langsung saya lemparkan!!!

Senyum saya lempar ke si pembuka pintu, sambil menyodorkan piring berisi beberapa potongan Pepaya segar yang ditaburi susu kental manis di atasnya.

“bang, ini ada Pepaya segar…,” sapa melembut ke laki-laki di hadapan saya, mm… mungkin lima tahun lebih tua usianya dari saya. Sambil senyum agak bingung laki-laki itu menerimanya (tepatnya: heran?), seperti tidak pernah mendapat hadiah (bukan, tapi bertanya dalam hati: siape lu??!  *ahhaha..). Langsung saya lengkapi kalimat saya yang tadi, “ini Pepaya dari Abah, yang rumah sebelah ini.” Sambil menunjuk rumah ber-cat hijau di samping, sementara terus mengembangkan senyum (senyum proporsional sama si abang).

“oh, iya… makasih ya… nanti piringnya dianterin.” Piring saya sudah di tangannya kini.

“iya, mari bang…”. balik kanan, pulang.

Alhamdulillah, misi selesai! ”Ya Alloh, berilah hidayahmu untuk tetanggaku agar lebih baik.” Batinku.

Eh, suara musiknya udah gak se-hebbooh yang tadi!^^

Sekarang hanya terdengar sayup-sayup tipis suara disco-nya itu di kamar saya -_-‘, dan perlahan-lahan suara menghilang. Yey! Saatnya tidur… (lho? RPP euy! RPP!).

Satu jam kemudian.

Ada perempuan muda dengan rambutnya yang di-cat berwarna Almond dan berkacamata di rumah saya, membawa piring tadi berisi ikan sambel goreng di atasnya. Subhanallah… rupanya beliau adalah isteri si Abang tetangga. Heum, padahal niatnya gak butuh balesan, cuma ingin nyapa aja pake buah Pepaya. Alhamdulillah…

Ngobrol bentar sama Mak, sambil melihat foto-foto wisuda saya yang sedang dimasukkan ke dalam bingkainya. “Ini anak ibu, yang baru diwisuda kemaren di Unila… bla…bla…bla…”, mulai deh Mak… mempromosikan.

Saya senyam-senyum membalas senyum yang dilempar beliau bertubi-tubi ke saya.

“makasih ya, Pepaya-nya enak.” Katanya sambil terus senyum ke saya (bukannya semua rasa Pepaya sama, ya? Enak.  *iya ya… ah, si mbak gak kreatif nie mujinya.. ehhehe. Maksud si tetangga baru itu berusaha menyenangkan hati saya… heuh).

“oh, iya mbak, sama-sama. Makasih juga ikan sambelnya….” balasku. ^_^

Sejatinya, bersaudara itu bukan saling take and give. Tapi give, give, and give.

Rabb,

jangan henti keindahan Mu mengilhamkan senyum nan cerah di wajah kami, agar pergaulan semanis susu – seharum kasturi…

***

Hei.., saya dengar Sulis berdendang di sebelah rumah!

Sungguh, melantunkan syair “Salam ‘Alaika” nya…

Lagu favorit saya, kala SD.

*diselesaikan Senin, pkl.13.39 WIB. 12 Sya’ban 1433H, Tanjung Rusia

Categories: Lembar Kisah | 2 Komentar

Testimoni Wisuda Saya ^^

dipaksa foto… -_- (lg ngantuk-ngantuknya…)

Berikut beberapa testimoni, wisuda saya; 19 Juni 2012.

Maha Suci Alloh, yang memudahkan segala urusan bagi hamba-Nya… ^^

 

Sukses ya ananda Sufiroh…

insyaAlloh kita bisa berjumpa lagi…

#Dr. Wini Tarmini – Dosen Pembahas#

 

Sejatinya sebuah pencapaian adalah sebuah tambahan beban.

Cupi, pencapaian S.Pd. nya artinya beban baru dan amanah baru lagi…

Baiklah, mari bekerja untuk Indonesia agar menjadi lebih baik!!

Bersungguh-sungguh karena Nya, membangun pribadi dan bangsa tidak ada yang lain melainkan hanya dengan kesungguhan. Sebuah taujih semoga bisa menjadi penyemangat; (dengan haru & optimis)

“bekerja / beramal agar Indonesia menjadi lebih baik memang melelahkan, lelah pikiran, lelah fisik, lelah hati, bahkan bisa jadi membutuhkan pengorbanan; harta, waktu, dan bahkan jiwa. Tetaplah mengangkat ‘pedang & menggenggam Al Qur’an’ hingga Islam tegak di bumi Timur dan Barat, membentang kibar kilau panjinya. Berawal dari titik awal di sebuah negeri di sini, INDONESIA.

Bekerjalah! Alloh, Rasul, & orang –orang beriman yang menjadi saksi.

Bersama Alloh, akan selalu ada solusi.”

#Mb Sri Mulyawati, S.E.#

 

Assalmu’alaikum..

Kami dari halaqoh catiqiyah (Ayu & Tesa, S.E.) mengucapkan barakallah atas S.Pd. nya yang telah diperoleh. Semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat dunia & akhirat.

(Ayu) : Sufi itu orangnya…. Apa ya?? Finally Suf, u keluar juga ya dari Unila! Dapet peringkat terbaik pula se-Fakultas… cie.. 3x

(Tesa) : subhanallah ya bu, sukses di organisasi juga sukses akademiknya… wish u all d’best dah…

#Ayu Mustika S.E & Tesa, S.E.#

 

Bismillah..

Barakallah mba Sufiroh, S.Pd., sebuah tantangan baru dengan embel-embel di belakang namamu. Semoga keberkahan di detiap langkahmu dan selalu menebar kebaikan.

Teruslah berkarya dengan segala kemampuanmu.

Mba Sufi, jazakillah khoir telah mengajarkanku banyak hal dan mengenalkan dengan dakwah ini yang mengantarkanku berhijrah dari kejahiliahan.

#Zahra#

 

Cupiiiiiiiiiiii (tahan nafas) ^_^

Barakallah fi ilmy…

Semoga bisa menjadi sarjana ‘tarbiyah’ sesungguhnya. Mida lebih bahagia Sufi bisa bekerja & berkarya sesuai ilmunya.

Mantapkan langkahmu, menatap masa depan!!!

#Khamida Khairani#

 

Cupiloh jelek!!! ^_^

Selamet ya, cinta… akhirnya lulus juga.. hehe..

Sukses ya, cinta.. semoga menjadi guru SD IT yang baik, hingga sukses menjadi guru bangsa…

Barakallah sudah menjadi wisudawan FKIP terbaik pertama.

Semoga ilmu yang dimiliki bermanfaat bagi ummat..

BTW, saya suka tulisan-tulisanmu..

Dibukuin ya, entar saya beli… hohoho…

#Yuni Haryati#

 

Bismillah..

Barakallah mba Sufi, semoga segala ilmu yang didapat bisa memberikan kebermanfaatan yang banyak bagi ummat ini.

Barakallah bu kader KAMMI..

Semoga dengan selesainya masa studi di Unila tidak dijadikan sebagai satu landasan untuk menyelesaikan pengkaderan…

Tetaplah mengkader ya mba, supaya KAMMI rame… ^_^

#Sekretaris Biro Kesekretariatan KAMMI Unila 2012#

 

Mbak Cupi…

Barakallah mba, akhirnya kelar juga kuliahnya…

Semoga ilmunya bermanfaat, mba.

“maju adalah jalan terbaik, dan berkarya adalah hal terindah.”

Selamat berkarya, yundaku..

Semangat mengkader!

#Ely Ulfa – abid Kaderisasi KAMMI Unila 2011#

 

Mb Cupy… barakallah ya… ^_^

Perjuangan untuk mendapatkan skripsi ini semoga menjadi pengalaman unik untukmu, pengalaman yang ‘kan membawamu mengalami kehidupan baru sebagai seorang S.Pd. yang akan lebih banyak rintangan yang akan menghalangimu.

Afwan jidan ya jika selama ini, aku Nanik Susanti Pravitasari, pendidikan Kimia 2009 FKIP Universitas Lampung, tak banyak memberikanmu pengalaman indah, namun smoga yang tak banyak itu selalu kau kenang.

Teruslah berkarya wahai mujahidullah… semoga Alloh mempertemukan kita di syurga Nya dan membuat istana Edelweis yang lebih indah di sana…

#your sister; Vita D’Ijhoe#

 

Mba cupi..

Selamet yaw, akhirnya kelar juga dan kelar juga dan keluar dari Unila. Selamat juga atas prestasinya terbaik FAKULTAS..

Semoga segala ilmu yang dimiliki bermanfaat… semangat berburu kader, jangan sampe surut..

Tetap semangat.

Bergerak, Tuntaskan Perubahan!

#Nurul Hidayati#

 

Mb Sufi, aku bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata-kata indah nan puitis, namun goresan tangan ini lahir dari dalamnya hati.

Barakallah ya mb Sufi, akhirnya nama mb Sufi sudah bisa tertulis di buku tebal hard cover warna ungu ini, semoga Alloh senantiasa memberkahi  ilmu yang yang mb Sufi peroleh, dan ilmunya senantiasa bermanfaat untuk ummat, biar gak Cuma bidang Kajian Islam aja yang untuk ummat.

Afwan ya mb, jika selama ini senantiasa ada perbedaan di antara kita sehingga mungkin terselip luka, tapi tanpa perbedaan itu Edelweis tak akan terasa indah.

Lihat saja pelangi, akan indah jika warnanya berbeda, dan baru disebut pelangi kalau warnanya berbeda. Dan memang tak selamanya perbedaan itu harus disamakan, tapi yang perlu adalah saling memahami. Mungkin masa studi bisa berakhir, tapi dakwah tidaklah berakhir di sini.

#Martini#

 

Cupi… iroh.. ^_^

Barakallah fi ilmi..

Semoga menjadi sarjana pendidikan ‘tarbiyah’ yang istiqomah. Bekerja & berkaryalah sebagai seorang pengajar sejati yang mendidik generasi Islam ke depan.

Teruslah bergerak, hingga lelah itu akan lelah mengikutimu.

Fighting! Fighting! Fighting!

#Ulfah-Mba; Ndut# ^_^

 

Assalamu’alaikum mba mu…ngil ^_^

Mbak Sufi baraakallah ya sudah dapat gelar S.Pd. nya.

Hmm, jangan berhenti di sini ya mbak! Di luar sana, tarbiyah-tarbiyah yang lain telah menunggu, dan semoga mba Sufi dapat melanjutkan S2 dan S3 nya (doakan Ima juga ya mba).

Oya, nanti kalau sudah mengajar, semoga mba Sufi disayang sama murid-murid & menjdai guru teladan.

Terus kalau udah mau walimah, jangan lupa woro-woro, insyAlloh Ima siap jadi panitia penerima kado! Hahaha…

Jazakillah sudah jadi mba nya Ima ^_^

#Imatul Khoiriyah#

 

Bismillah..

Barakallah ukhti, semoga selulusnya anti bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan Negara.

Tetap istiqomah di segala kondisi.

#Ghesika#

 

Assalamu’alaikum..

Moga dengan perjuangan mba dalam menyelesaikan study mba Sufi untuk memperoleh gelar S.Pd. ni bisa mengantarkan mba dalam menggapai cita-cita dan semoga menjdai guru yang dapat menghasilkan generasi muda penerus bangsa yang berbudi luhur dan berprestasi.

Smangat mba, perjalanan hidup belum berakhir!^_^

#Yulinda#

 

Cupiloh…

Barakallah ya, semoga ilmu yang didapat bermanfaat bagi tempat yang kau naungi nanti.

Ciye.. udah S.Pd. …

Aku tunggu undangan berikutnya ya…

^_^

#Roza#

 

Asslm..

Barakallah  ukh, atas wisudanya, moga ilmu yang didapat berkah dan bermanfaat untuk orang banyak.

#Puspita-KAMMI Medan#

 

Barakallah ya, atas wisudanya.

Semoga selalu sukses aja ya.

#Akh Basrin KAMMI Lampung#

 

Barakallah ya mba atas diwisudanya mba, semoga bisa berkontribusi lebih banyak lagi untuk masyarakat luas..

Keep BTP!

#Akh Yassin – KAMMI Unila#

 

Barakallah y ukh,

Afwan tak sempat jumpa, coz baru selesai agenda DPM U.

Semoga sukses dunia akhirat ya dengan ilmu yang telah didapatkan.

#Yesi Aria#

 

Barakallah ya mba, atas wisudanya..

Semoga ilmunya bermanfaat..

Menjadi sarjana yang bermartabat, dan jodoh cepat dapat ^_^

#Qori FISIP#

 

Barakallah atas wisudanya, semoga barokah..

Afwan gak bisa ke Arafah, ada acara di Mesin, dan agenda lain.

Prepare agenda ke luar kota.

#ka Hadi – Ketua KAMMI Lampung#

 

Selamat wisuda ya,

Semoga kian sukses!

#akh Mubaroq – Direktur MPK KAMMI Lampung#

 

Selamet ya, teh…

Pertahankan terus prestasinya!

#Mudiya#

 

Barakallah ya ukh,

Akhirnya… ^_^

Lanjutkan kesuksesan antum!

#Pak Ahmad – SD IT#

 

Semoga Alloh selalu memberikan keberkahan pada setiap langkah yang ditempuh sampai menjadi S.Pd.

#ka Indra – Batrasia ‘06#

 

Semoga ilmu yang didapat jadi modal untuk berproses di lain tempat dan berkah bagi bangsa dan agama, berguna bagi masyarakat. Barakallah…

#akh Adit – KAMMI Lampung#

 

Sukses & berkah buat S.Pd. nya anti…

#ka Dian – Ketua Alumni FSLDK I#

 

*Alhamdulillah… ^_^

Ya Allah, jangan henti kemuliaanMu menyusupi syaraf-syaraf  ini,

hingga tiap ilmu jadi amal, tiap hasrat baik jadi akhlaq berseri…

terima kasih, untuk semua pihak yang telah berperan penting dalam menyelesaikan kuliah S1 saya, hingga mampu melewati satu siklus perjuangan ini ^^.

untuk Abah & emak ^^; smoga Alloh memberi sebaik-baik balasan.

Edelweis, 19 Juni 2012; 17.30 wib.

Categories: Inspirasi | Tinggalkan Komentar

Surat Cinta dari Akhi

Malam telah larut terbentang. Sunyi, dan aku masih berfikir tentang dirimu, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh prasangka. Semua semata-mata hanya untuk muhasabah terutama bagi diriku, makhluk yang Rasulullah SAW sinyalirkan sebagai pembawa fitnah terbesar.

Suratmu sudah kubaca. Surat yang membuatku gemetar. Tentunya kau sudah tahu apa yang membuatku nyaris tidak bisa tidur belakangan ini.

“Ukhti, saya sering memperhatikan anti. Kalau sekiranya tidak dianggap lancang, saya berniat berta’aruf dengan anti.”

Jujur kukatakan bahwa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepadaku. Kau orang yang kesekian. Tetap saja yang ‘kesekian’ itu yang membuatku diamuk perasaan tidak menentu. Astaghfirullahaladzim..

Bukan, bukan perasaan melambung karena merasakan diriku begitu mendapat perhatian. Tetapi karena sikapmu  itu mencampak ke arah jurang kepedihan dan kehinaan. ‘Afwan, kalau yang terfikir pertama kali di benak bukannya sikap mempertimbangkan, tapi malah sebuah tuduhan: ke mana ghaddhul bashar-mu?
Akhifillah, Alhamdulillah Allah mengaruniakan dzahir yang jaamilah. Dulu, di masa jahiliyah, karunia itu sentiasa membawa fitnah. Setelah hijrah, kufikir semua hal itu tidak akan berulang lagi. Dugaanku ternyata salah. Mengapa fitnah ini justru menimpa orang-orang yang ku hormati sebagai pengemban risalah da’wah? Siapakah di antara kita yang salah?

***

Aku     :  “Adakah saya kurang menjaga hijab, ukh?”  tanyaku kepada Aida, teman asrama ku yang sedang mengamati diriku. Lama. Kemudian, dia menggeleng.

Aku     : “Atau baju saya? Sikap saya?”

Aida    : “Tidak, tidak.” sergahnya menenangkanku yang mulai berurai air mata. “Memang ada perubahan sikap di kampus ini.”

Aku     :  “Termasuk diri saya?”

Aida    :  “Jangan menyalahkan diri sendiri meskipun itu bagus, senantiasa merasa kurang iman. Tapi tidak dalam hal ini.  Saya cukup lama mengenali anti dan di antara kita telah terjalin komitmen untuk saling memberi tausiyah jika ada yang lemah iman atau salah. Ingat?”

Aku mengangguk. Aida menghela nafas panjang.

Aida   : “Saya rasa ikhwan itu perlu diberi tausiyah. Hal ini bukan perkara baru kan? Maksud saya dalam meng-cam akhwat di kampus.” Sepi mengembang di antara kami. Sibuk dengan fikiran masing-masing…
“Apa yang diungkapkannya dalam surat itu?”

Aku    :  “Ia ingin berta’aruf. Katanya dia sering melihat saya memakai jilbab putih. Anti tahu bila dia bertekad untuk menulis surat ini? Ketika saya sedang menjemur pakaian di depan asrama! Masya Allah…. dia melihat sedetail itu!”

Aida   : “Ya.. di samping itu, tempo masa anti keluar juga tinggi.”

Aku    : “Ukhti…,” sanggahku,  “Anti percaya kan kalau saya keluar asrama, pasti untuk tujuan syar’i?”

Aida   : “InsyaAllah saya percaya. Tapi bagi anggapan orang luar, itu masalah yang lain.”

Aku hanya mampu terdiam. Masalah ini senantiasa hadir tanpa ada suatu penyelesaian. Jauh dalam hati selalu tercetus keinginan, keinginan yang hadir semenjak aku hijrah bahwa jika suatu saat ada orang yang memintaku untuk mendampingi hidupnya, maka hal itu hanya dia lakukan untuk mencari keridhaan Rabb-nya dan dien-ku sebagai tolok ukur, bukan wajahku. Kini aku mulai risau mungkinkah harapanku akan tercapai?
***

Malam semakin beranjak. Kantuk yang menghantar ke alam tidur, belum menyerang. Sudah menjadi kebiasaanku tidak bisa tidur tenang bila saudaraku tercinta tidak hadir menemani. Aku tergugat apabila merasakan bantal dan guling di samping kanan telah kehilangan pemilik. Rasa penat yang belum ternetral menyebabkan tubuhku terhempas di sofa.

Aida sedang diam dalam kekhusyu’an. Wajahnya begitu syahdu, tertutup oleh deraian air mata. Entah apa yang terlintas dalam qalbunya. Aku tidak heran saat menyaksikannya. Tegak dalam raka’atnya atau lama dalam sujudnya.

Aida   :  “Ukhti, tidak solat malam?“ tanyanya lembut seusai melirik mata.

Aku    :  “Ya, sebentar,” kupandang wajahnya. Ia menatap jauh keluar jendela ruang tamu yang dibiarkan terbuka. “Dzikrul maut lagi?”

Aida   :  “Khusnudzan anti terlalu tinggi.”

Aku tersenyum. Sikap tawadhu’mu, Aida, menyebabkan bertambah rasa rendah diriku. Angin malam berhembus dingin. Aku belum mau beranjak dari tempat duduk. Aida pun nampaknya tidak meneruskan shalat. Ia kelihatan seperti termenung menekuri kegelapan malam yang kelam.

Aida   :  “Saya malu kepada Allah,” ujarnya lirih. “Saya malu meminta sesuatu yang sebenarnya tidak patut, tapi rasanya keinginan itu begitu mendesak dada. Siapa lagi tempat kita meminta kalau bukan diri-Nya?”

Aku    :  “Apa keinginan anti, Aida?” Aida menghela nafas panjang.

Aida   : “Saya membaca buku Syeikh Abdullah Azzam pagi tadi,” lanjutnya seolah tidak  menghiraukan. “Entahlah, tapi setiap kali membaca hasil karyanya, selalu hadir simpati tersendiri. Hal yang sama saya rasakan tiap kali mendengar nama Hasan al-Banna, Sayyid  Quthb atau mujahid lain saat nama mereka disebut. Ah, wanita macam mana yang dipilihkan Allah untuk mereka? Tiap kali nama Imaad Aql disebut, saya bertanya dalam hati; Wanita macam mana yang telah Allah pilih untuk melahirkannya?”

Aku tertunduk dalam-dalam.

Aida   :  “Anti tahu,” sambungnya lagi, “Saya ingin, sekiranya boleh mendampingi orang-orang sekaliber mereka. Seorang yang hidupnya semata-mata untuk Allah. Mereka tak tergoda rayuan harta dan benda, apalagi wanita. Saya ingin, sekiranya boleh menjadi seorang ibu bagi mujahid-mujahid semacam Immad Aql…”

Air mataku mengalir perlahan. Itu adalah impianku juga, impian yang kini mulai kuragui kenyataannya. Aida tak tahu berapa jumlah ikhwan yang telah menaruh hati padaku. Dan rasanya hal itu tak berguna diketahui. Dulu, ada sebongkah harapan kalau kelak lelaki yang mendampingiku adalah seorang mujahid yang hidupnya ikhlas kerana Allah. Aku tak menyalahkan mereka yang menginginkan isteri yang cantik. Tidak. Hanya setiap kali bercermin, ku tatap wajah di sana dengan perasaan duka. Serendah inikah nilaiku di mata mereka? Tidakkah mereka ingin menilaiku dari sudut kebagusan dien-ku?

Aku     :  “Ukhti, masih tersisakah ikhwan seperti yang kita impikan bersama?” ujarku. Aida meramas tanganku.

Aida    :  “Saya tidak tahu. Meskipun saya sentiasa berharap demikian. Bukankah wanita baik untuk

lelaki baik, dan yang buruk untuk yang buruk juga?”

Aku    : “Anti tak tahu…” air mataku mengalir tiba-tiba. “Anti tak tahu apa-apa tentang mereka…”

Aida   : “Mereka?”

Aku    : “Ya, mereka,” ujarku dengan kemarahan terpendam. “Orang-orang yang saya kagumi selama ini banyak yang jatuh berguguran. Mereka menyatakan ingin ta’aruf. Anti tak tahu betapa hancur hati saya menyaksikan ikhwan yang qowiy seperti mereka, takluk di bawah fitnah wanita!”

Aida  :  “Ukhti!”

Aku    : “Sungguh, saya terfikir bahwa mereka yang aktif da’wah di kampus adalah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Rasulnya semata. Ternyata mereka mempunyai sekelumit niat lain.”

Aida  : “Ukhti, jangan su’udzan dulu. Setiap manusia punya kelemahan dan saat-saat penurunan iman. Begitu juga mereka yang menyatakan perasaan kepada anti. Siapa yang tidak ingin punya isteri cantik dan shalihah?”

Aku   :  “Tapi kita tahukan, bagaimana prosedurnya?!!”

Aida  :  “Ya, memang…”

Aku   : “Saya merasa tidak dihargai. Saya merasa seolah-olah dilecehkan. Kalau ada pelecehan seksual, maka itu wajar kerana wanita tidak menjaga diri. Tapi saya… Samakah saya seperti mereka??”

Aida   :  “Anti berprasangka terlalu jauh.”

Aku    :  “Tidak,” aku menggelengkan kepala. “Tiap kali saya keluar rumah, ada sepasang mata yang mengawasi dan siap menilai saya mulai dari ujung rambut -maksud saya ujung jilbab-  hingga ujung sepatu. Apakah dia fikir saya boleh dinilai melalui nilaian fisik belaka..”

Aida   :  “Kita berharap agar ia bukan jenis ikhwan seperti yang kita maksudkan.”

Aku   :  “Ia orang yang aktif berda’wah di kampus ini, ukh…”

Aida memejamkan mata. Bisa kulihat ujung matanya basah. Kurebahkan kepala ke bahunya. Ada suara lirih yang terucap.

Aida    :  “Kasihan risalah Islam. Ia diemban oleh orang-orang seperti kita. Sedang kita tahu betapa berat perjuangan pendahulu kita dalam menegakkannya. Kita disibukkan oleh hal-hal sampingan yang sebenarnya telah diatur Allah dalam kitab-Nya. Kita tidak menyibukkan diri dalam mencari hidayah. Kasihan bocah-bocah Palestin itu. Kasihan saudara-saudara kita di Bosnia . Adakah kita bisa menolong mereka, kalau kualitas diri masih seperti ini? Bahkan cinta yang seharusnya milik Allah masih terpecah-pecah. Maka, kekuatan apa yang masih ada pada diri kita??”

Kami saling bertatapan kemudian. Mengungkap seribu makna yang tidak mampu dikatakan oleh kosa kata.

Ada janji. Ada mimpi. Aku mempunyai impian yang sama seperti Aida; mendukung Islam di jalan dakwah!

Aku ingin mempunyai anak-anak seperti Asma miliki. Anak-anak seperti Immad Aql. Aku tahu kualitas diri masih sangat jauh dari sempurna. Tapi seperti kata Aida; Meskipun aku lebih malu lagi untuk meminta ini kepada-Nya. Aku ingin menjadi pendamping seorang mujahid ulung seperti Izzuddin al-Qassam.

Ahh akhwat, berapa nilaimu sehingga mengimpikan mendapat mujahid seperti mereka?

Boleh jadi tuntutanku terlalu besar. Tapi tidakkah antum, ikhwan, ingin mendapat jodoh yang setimpal?

Afwan kalau surat antum tidak saya layani! Saya tidak ingin masalah hati ini berlarut.

Satu saja yang saya minta, agar kita saling menjaga sebagai saudara. Menjaga saudaranya agar tetap di jalan yang diridhai-Nya.

Tahukah antum, akhi, bahwa tindakan antum telah menyebabkan saya tidak lagi berada di jalan-Nya?! Ada riya’, ada su’udzhan, ada takabur, ada kemarahan, ada kebencian, itukah jalan yang antum bukakan untuk saya, jalan neraka?!!‘Afwan.

Akhifillah, Surat ini seolah menempatkan antum sebagai tertuduh. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Kalau antum mau cara seperti itu, silakan. Afwan, tapi bukan saya orangnya.

Jangan antum kira kecantikan lahir telah menjadikan saya merasa memiliki segalanya. Justru, kini saya merasa iri pada saudari saya. Ia begitu sederhana. Tapi akhlaknya bak lentera yang menerangi langkah-langkahnya. Ia jauh dari fitnah. Sementara itu, apa yang saya punyai sangat jauh nilainya. Saya bimbang apabila suatu saat ia berhasil mendapatkan Abdullah Azzam impiannya, sedangkan saya tidak.

Akhifillah, ‘Afwan kalau saya menimbulkan fitnah bagi antum. Insya Allah saya akan lebih memperbaiki diri. Mungkin semua ini sebagai peringatan Allah bahwa masih banyak amalan saya yang riya’ maupun tidak ikhlas. Wallahua’lam.

Simpan saja cinta antum untuk isteri yang telah dipilihkan Allah. Penuhilah impian ratusan akhwat, ribuan ummat yang mendambakan Abdullah Azzam dan Izzuddin al-Qassam yang lain. Penuhilah harapan Islam yang ingin generasi tangguh seperti Imaad Aql. Insya Allah antum akan mendapat pasangan yang bakal membawa hingga ke pintu jannah.

Mari kita sucikan hati dengan taubat nasuha. Pesan saya, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada ratusan Asma dan Aisyah yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama.

 

*cerpen manis, yang saya temukan di file…  dari negeri  Jiran, disadur lagi… ^^

Edelweis, 16 Juni 2012

Categories: CerPen | Tinggalkan Komentar

Blog pada WordPress.com. Tema: Adventure Journal oleh Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.